Weekend ke-3 | Baddum Badududum | Song: Depapepe – Kazamidori

Sepertinya lebih terkenal menjadi seorang lead vocal. Tampang standar pun bisa jadi pujaan banyak fans wanita asal dia vokalis band. Sebagian besar gitaris juga  attention whore yang menyebalkan di panggung. Mereka sengaja membuat bagian solo di sebuah lagu agar dapat memamerkan skill mereka dan lagi-lagi demi pujian dari fans. Aku pikir musik untuk dinikmati bukan dijadikan seperti aksesoris seperti itu.

Aku menikmati hanyut dalam tiap petikan senar bassku. Tidak tahu sejak kapan, tapi aku sudah begitu candu dengan efek amplitudo senar bass. Gelombang udara yang menghantarkan bunyi bass ke gendang telinga, lalu sinyal listrik yang menyampaikannya ke otak. Rasanya aku mampu merasakan tiap perjalanannya.

“Rey, dimana?”
“Perjalanan pulang, sayang”
“Naik apa?”
Subway, harmony-road macetnya minta ampun”
“Ya sudah hati-hati ya, sayang..”
“Iya, aku nanti belikan oden sebelum sampai ke rumah”
“Makasih, sayang!”

Lalu, aku kembali ke dunia nyata. Dunia yang aku sukai cuma dua, dunia ketika aku bersama dengan istriku, Farah dan dunia ketika aku hanyut dalam petikan senar bass. Dunia nyata ini sungguh kenyataan yang aku tidak suka.

Dua orang gadis yang duduk di dekat automatic door sepertinya berdebat tentang siapa diriku. Mungkin akan lain ceritanya jika aku vokalis atau gitaris, kedua gadis itu atau seluruh isi gerbong ini akan berebutan minta tandatangan atau foto bersama. Tapi, aku hanya seorang bassis yang sering keluar masuk band. Aku hanya beberapa bulan di band Duila on 7, sebulan di Dawet 19, lalu sekarang di band terakhirku, Kewalik and ecencial, baru beberapa hari sudah tidak nyaman.

“Om, itu bawa apa sih?” Seorang gadis kecil datang dan menunjuk koper bassku. “Ini bass, temennya gitar” jelasku dengan bahasa sederhana. “Bass itu suaranya gimana, om?” “Suaranya?”

Aku mencari colokan listrik yang biasanya ada di bawah kursi kereta dan segera memasang mini amply-ku ke situ. Bola mata gadis kecil itu tampak membesar melihat kilatan biru Blue Luna-nama yang aku berikan pada bassku. Aku mengambil pick dan menyetem sebentar Luna. “Dum, dum, dudum”.

Satu gerbong memandangi seorang pria tanggung bermain bass atas permintaan seorang gadis kecil. Suara bass beradu dengan suara kereta dan desau angin dari luar.

Image

“Ah, selamat datang, Sayang”

“Ini Oden, masih hangat. Buat kamu dan adek bayi”

“Hehe, iyaaa.. tahu gak tadi aku mimpi apa?”

“Gak tahu, ayo ceritakan”

“Aku mimpi.. Anak kita perempuan dan menjadi bassis sepertimu”

Aku tersenyum. Bagiku mungkin cukup musik yang bisa dinikmati dan bisa hidup bersama dengan dirimu-dan anak kita nanti. Tidak butuh yang lain.

* Buat menjawab apa dreamjob rey-dari dian rustya: “Menjadi pemain bassis yang jago, tapi tidak begitu terkenal” Hehehehe.

5 pemikiran pada “Weekend ke-3 | Baddum Badududum | Song: Depapepe – Kazamidori

  1. Hmmmm…ceritanya keren abess! Sweet banget yang bagian si basis ngeluarin bas-nya cuma demi ditunjukin ke si gadis kecil. Bikin aku makin yakin kamu pantes jadi guru, Re! Btw, masa’ bas main bas?? *nyaru jadi lemari*

    Suka

  2. Ceritanya keren abis!! Aku suka banget yang bagian si basis ngeluarin dan mainin basnya cuma demi ditunjukin ke si gadis kecil. So Sweet! Bikin aku makin yakin kami pantes jadi guru, Re! Btw, masa bas main bas??! *nyaru jadi kipas angin*

    Suka

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s