Weekend Ke 10 – Negeri di Atas Awan | Song: Maroon 5 – Goodnight Goodnight

Aku menepikan perahu dan mengikatnya ke dermaga. Aku takut dan sangat takut tapi ini ujian kedewasaan yang sangat penting. Setelah ini aku dapat berburu bersama ayah, menikah, dan dianggap lelaki suku Manjatora dewasa. Aku akan memanjat pilar keramat yang terbentuk alami dan menjulang hingga awan itu.

“Bang Bayu, janji kamu akan pulang dengan selamat”
“Doakan saja aku, Ayu”
“Aku akan naik bukit sibayak jika perlu agar dapat segera melihat kamu pulang”
“Hahaha tidak perlu. Aku pasti pulang. Aku janji”
“Janji?”
“Iya, janji”

Pilar itu tinggi dan besar menantang para pemberani dari suku manjatora. Yang berani memanjat hingga batas antara awan dan pilar maka akan kembali sebagai pahlawan. Ia akan diikutkan dalam pemilihan kepala suku, mendapat bagian daging buruan lebih banyak, dan keluarganya akan dihormati.

“Bayu, apa kamu pernah mendengar cerita itu?”
“Cerita apa, Agni?”
“Cerita tentang bunga yang tumbuh di bagian pilar yang tertutup awan, bunga Edelrung”
“Maksudmu bunga legenda yang berwarna emas itu?”
“Iya, memang belum pernah ada yang membawanya pulang, tapi ayahku dan kakekku pernah melihatnya sekilas. Sayangnya mereka berdua kehabisan tenaga dan tidak mampu melanjutkan lagi ke balik awan”
“Para leluhur juga melarang memanjat hingga ke dalam awan”
“Tapi, bukankah akan hebat jika mahar pernikahanmu nanti adalah bunga itu?”
Aku hanya dapat menelan ludah. Aku ingin bunga itu. Untuk Ayu.

Sepertinya mudah tapi aku memilih waktu yang salah. Mendung menggantung di bagian atas pilar yang memang selalu tertutup awan. Tulisan yang dikeramatkan itu bisa jadi tertutup awan atau ada di bawah awan. Semua tergantung kondisi cuaca, tapi aku sudah tidak bisa pulang.

“Selamat jalan pemberani, getarkan langit dengan keteguhan hatimu!”

Kugenggam erat jimat yang diberikan ibu dan adinda. Masih teringat tangis ibu dan adinda di sampingnya saat memberikan jimat ini. Aku bergumam dalam hati, “harus kembali hidup-hidup ke Manjatora”.

“Nak, mendekatlah”
“Ayah kenapa? Kenapa pucat?”
“Ayah tidak apa-apa, ayah hanya pergi ke balik awan. Nak, ayah bisa meminta tolong kepadamu?”
“Ayah akan pergi kemana?”
“Nanti kau akan tahu. Aku titipkan padamu, ibu dan adikmu, Banyu. Jaga mereka dan jadi kebanggaan bagi mereka. Kau mau berjanji?”
“Ayah..aku..aku akan menjaga mereka”

Di ketinggian sebukit Sibayak, aku merasa kelelahan dan jari-jariku hampir mati rasa. Aku mencari-cari apakah ada ceruk kecil dan aku menemukannya ada di ketinggian dua kali tinggi badanku. Aku kumpulkan tenaga tersisa untuk segera menuju ceruk tersebut.

Aku hampir saja melepaskan genggamanku karena kaget. Di situ ada kerangka manusia dengan aksesoris khas suku Manjatora. Mungkinkah dia, si macan gurun, salah seorang yang tidak pernah kembali dari ujian ini? Malam itu aku tidur dengan keberanian di titik kritis karena berbaring di samping kerangka. Aku tak berani membuang kerangka, tapi aku juga kelelahan dan tak mungkin turun kembali.

Hari-hari kulewati dengan mendaki dan terus mendaki. Persedian makanan habis, bawaanku lebih ringan tapi tenaga pun lebih lemah dari hari-hari awal aku mendaki. Aku memilih memakan daun-daun dari tanaman yang menjalar pada pilar. Entah berapa kerangka atau potongan tulang yang aku temukan selama pendakian. Aku mendongakkan kepala, sedikit lagi, aku akan sampai. Awan masih mendung dan sepertinya akan terus mendung selama pendakianku. Mungkin awan mendung adalah keberuntunganku.

Malam itu, aku bermimpi, aku tidak mendaki sendiri. Ada ayah, paman, si macan gunung, kepala suku, dan lainnya. Semua sama kepayahannya. Tapi, mereka berteriak dan menyanyikan senandung rimba bersama. Malam itu, setelah mimpi itu aku terbangun dan mencoba mendaki pada malam hari. Menurut perhitunganku, pada fajar aku akan sampai pada batas awan dan pilar.

Mendaki pada malam hari membutuhkan konsentrasi. Mata harus terbiasa pada kegelapan. Indera perasa harus benar-benar tajam merasakan bebatuan mana yang rapuh dan mana yang kira-kira kuat menahan berat badanku. Aku menguji batas tubuhku sendiri. Lalu, aku melihat sesuatu bercahaya di dalam awan. Bunga legenda, Edelrung, benar-benar tumbuh di ketinggian ini. Tapi, aneh aku tidak punya tenaga yang cukup lagi untuk memanjat lebih jauh. Aku bisa saja meloncat untuk meraihnya tapi aku bisa mendarat di mana saja. Aku…

“Tapi, bukankah akan hebat jika mahar pernikahanmu nanti adalah bunga itu?”

“… Jadi kebanggaan bagi mereka”

“Selamat jalan pemberani, getarkan langit dengan keteguhan hatimu!”

“Janji?” “Iya, janji”

.. Mencoba meraihnya.

***

Si burung piso surit terbang sambil berkicau. Kicauan menyayat hati menggema ke seluruh penjuru. Kicauan yang bagai tangisan kekasih menanti belahan hatinya kembali. Sementara seorang perawan di atas bukit, memeluk kekasihnya yang kembali.

“Abang..kau kembali”

Tubuh kekasihnya dingin. Lalu hilang tak berbekas. Begitulah sebentuk tubuh menjelma jadi bayangan. Pelukan sekuat apapun tak mampu membendung kebahagiaan. Bahagia itu menguap begitu saja.

Dari writing prompts #327, writingprompts.tumblr.com

tumblr_m9octmM6NO1qee12to1_1280

Posted from WordPress for BlackBerry.

6 pemikiran pada “Weekend Ke 10 – Negeri di Atas Awan | Song: Maroon 5 – Goodnight Goodnight

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s