Weekend ke 21 – Malas | Song: Padi – Rapuh

Aku bangun siang di akhir minggu ini. Kucingku, masih melingkar di ujung kasur sejak subuh. Karena gerakanku, dia ikut terbangun dan langsung menjilati beberapa bagian tubuhnya. Ia lalu turun dan menuju mangkuk susunya. Aku pun ikut lapar dan haus.

Kulkas berderit perlahan saat kubuka. Ada apel dan semangka yang sengaja kubeli tadi malam. Sesuai dugaan, hari ini panas dan gerah. Kemarau pamit bulan depan, di bulan berakhiran “ber” yang pertama. Aku ambil apel dan merebahkan diri di sofa nyaman. Begitu nyamannya hingga remote tv yang hanya beberapa senti jauhnya aku ambil dengan jari kaki.

TV menyala. Rumah ini jadi penuh suara. Aku menonton berjamaah virtual, jutaan penonton tv lainnya. Dokumenter, politik, anime, film bioskop yang diputar di layar tv tidak lebih baik dari apel yang sekarang kukunyah. Aku kosong. Tidak bahagia, tidak bosan, tidak sedih, tidak marah. Aku ambil lagi dengan jari kaki lagi, sebuah buku komik.

Komik ini berulang kali aku baca. Kata temanku, ‘coba baca’, tapi aku pun masih tidak tahu, apa asiknya membaca komik. Tv kumatikan, komik kulempar ke ujung kamar. Kucingku mengasah cakarnya lagi di wallpaper. Aku terpaksa bangun dan menghentikannya sebelum kucingku dirasuki roh purba seniman kucing dan merubah wallpaperku jadi media seninya.

Aku lupa menggunting cakarnya. Aku juga lupa mencukur kumisku. Kuyakin orang terdekatku pun akan salah membedakanku dengan suami Inul karena kumis ini. Aku mandi saja.

Mandiku dengan gayung. Kebiasaan dari kecil tidak mudah dirubah. Shower terinstall di dinding kamar mandi tapi tidak pernah nyaman mandi dengan shower. Seketika airnya bisa jadi air neraka. Lebih baik mandi dengan air yang digayung satu persatu. Aku ambil wudhu setelah mandi.

“Kak Rey! Bangun! Sholat dzuhur!”

Adikku, Tata, berteriak dari luar kamar. Cuma berbeda 4 tahun. Adikku satu-satunya. Suara pintu dibuka dan ia segera tahu kenapa aku tidak membalas teriakannya.

Aku beranjak dari sajadah menuju beranda, melihat bonsai-bonsai almarhum ayah yang sekarang dirawat Tata. Di kebun pula ada seorang berambut merah yang takjub dengan lekukan bonsai-bonsai.

“Kira-kira di Jerman bisa tanam bonsai?”

Si rambut merah kaget dan melihat ke arahku.

“Lama banget tidurnya, Rey.”
“Jetlag”
“Alasan”

Dia duduk di sampingku. Mencicipi apel yang kumakan, menatapku sebentar, lalu ikut hanyut dalam keheningan yang sama denganku.

“Galau sangat tidak cocok denganmu, Rey”
“Kamu mungkin hanya tahu sebagian hal tentangku”
“Jadi galau salah satu bab dari dirimu?”
“Manusiawi kan? Aku hanya bersikap seperti yang lainnya. Bisa sedih dan bisa senang”
“Jadi. Selama ini kamu memilih untuk terlihat bahagia? Fake smile?”
“Bukan terlihat bahagia, aku memilih bahagia. Walau kata orang hidup itu naik turun, sebenarnya yang kita rasakan paling banyak adalah “turun”-nya kan?”
“Belum mengerti, Rey”
“Manusia itu kecanduan dengan rasa sakit, Rena. Aneh ya? Tapi, coba asosiasikan kata-kata berikut: kenangan, sakit, senja, perpisahan, mantan, derita, luka”
“Kata-kata yang bermakna hmm bukan..yang rasanya hampir sama, perpisahan, sakit, akhir”
“Betul tapi manusia juga tanpa sadar suka dengan rasa itu. Kita sering menyakiti diri sendiri dengan mengulang kenangan, memvisualisasikan dalam mimpi, menatap nanar lokasi kejadian, bahkan hingga meresapi lagu atau film yang mirip dengan kisah sedih itu”
“Seperti kamu sekarang?”
“Aku tidak tahu. Aku bisa saja menangis di pojokan seharian. Tapi tubuhku menolaknya. Seakan bukan aku yang memiliki badan ini. Otak dan hati sedang berantem saat ini.”
“Ah aku tahu, kamu hanya butuh waktu ini, sekali saja, tanpa ditanyakan kenapa, dan esok hari kamu akan kembali jadi Rey kan?”
“Ini proses detoksifikasi, istilahku. Otakku sedang mengajak hati bekerja sama membersihkan memori-memori yang tidak aku senangi.”
“Kamu aneh, hahaha”
Erena mengacak-acak rambutku dan kemudian berlalu. Dari ruang tengah, terdengar tawanya, Tata dan Ibu.

Aku mengambil amplop berwarna emas itu. Aku baca lagi nama yang ada disana, Farah & Bastian. Aku tersenyum.
“Ya, esok hari aku akan kembali tersenyum, lebih tulus lagi.”

Satu pemikiran pada “Weekend ke 21 – Malas | Song: Padi – Rapuh

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s