Weekend Ke 24 – Awards | Song: Coldplay – Viva La Vida

Jika kamu akan diberikan piala, piala apa yang kamu mau?

Di dalam hidup seorang Rey, Rey yang penulis ya, bukan si tokoh cerita :D, tidak pernah ada piala. Keluargaku ini pun tidak pernah menyediakan lemari khusus buat piala. Alasannya, tidak pernah ada satu pun dari anaknya yang mendapat piala. Hahaha. Sebagai informasi, Rey ini pernah juara lomba baca puisi dan tiap tahun juara lomba makan krupuk loh. Tapi, gak dapet piala, dapetnya bungkus chiki. *ngomong dengan mimik muka serius*

Tapi, Rey selalu suka dengan orang yang memiliki piala. Piala itu adalah kristalisasi dari mimpinya. Semakin banyak piala, semakin banyak mimpi-mimpinya yang terwujud. Senang rasanya melihat mimpi terwujud di dunia nyata kan?

Kembali lagi ke pertanyaan awal, “Jika kamu akan diberikan piala, piala apa yang kamu mau?”. Karena aneh, semakin bertambah umur, cenderung kita tidak membutuhkan piala. Kita berangsur-angsur memilih hidup yang biasa saja, tidak wah, tidak menghebohkan. Hidup kita ada di fase stand-by. Bandingkan dengan anak muda usia sekolah atau kuliah, yang masih berapi-api meraih penghargaan atau piala. Kalau yang tua, dapat ya syukur, gak dapet ya bagus. Begitu mikirnya. Motivasi? Nol.

Coba dipikirkan lagi, bagaimana sih seseorang bisa mendapatkan sebuah piala? Apakah dia hanya memimpikan dalam tidur lalu esok harinya ada di sisinya? Tentu tidak. Dalam rangka memotivasi seseorang yang Rey kenal, Rey selalu memakai perbandingan ini: siapa yang kenal Michael Jordan? Siapa yang kenal Michael Schumacher? Siapa yang kenal Mike Tyson? Kemudian siapa yang kenal Warsito ? Orang-orang akan lebih kenal dengan ketiga Mike tadi daripada Warsito. Kenapa? Karena ketiga Mike tadi telah berlatih rutin, berusaha lebih dari orang biasa, mengorbankan waktu lebih banyak daripada orang biasa. Sementara Warsito? Tidak ada yang mengenalnya, karena dia memilih jadi orang biasa.

Oke. Mungkin apa yang kamu impikan tidak muluk-muluk yang biasa saja. Tidak salah sih. Hanya salah banget.

Di dalam pekerjaan, jika kamu sudah bekerja, apa kamu ingin jabatan menjadi staf saja, jabatan jadi pelaksana saja, jadi pegawai dasar saja… Jika iya, jangan protes jika tidak ada perubahan kesejahteraan dalam hidupmu. Kebaikan di dunia (dan akhirat) yang selalu ada dalam doamu, sebenarnya telah Allah buka jalan menuju ke sana tiap pagi. Seseorang yang hari ini lebih buruk atau sama dengan kemarin termasuk orang yang merugi kan? Jadi masih mau jadi orang biasa saja? Di hatimu terselip keinginan untuk menolong yang lain, membebaskan Palestina, memerdekakan budak, mensejahterakan yang miskin, semua itu apa bisa terjadi jika kamu hanya..orang biasa?

Jangan tertipu dengan film-film atau Cerita dongeng mengenai seseorang yang kebetulan mendapatkan kekuatan kemudian menyelamatkan dunia. Kita ini sudah dewasa, bisa membedakan yang mana kartun dan realita. Jika mengharapkan sesuatu yang besar, maka usaha kita pun harus sama kuatnya, cara-caranya harus lebih maju, semangatnya pun harus lebih dari biasanya.

Banyak orang-orang di sekitar saya yang menginginkan lebih tapi cara-caranya konvensional (gak syariah :p). Di dalam ajaran Islam, diajarkan jika suatu kaum tidak berubah, maka akan seperti ituuuuu saja keadaanya. Ada yang ingin jago excel tapi gak pernah mau paham formula dan arti command-command di dalamnya. Ada yang ingin dapat mencapai target, tapi cara-caranya masih seperti cara-cara yang dulu (yang telah dibuktikan sebelumnya tidak berhasil mencapai target). Kebanyakan orang ketika diberi tantangan, menyerah dan memberi alasan, ya ini gw, gw gak bisa. *tepok jidat*. Rey gak tahu di ajaran agama lain kayak gimana, tapi ajaran untuk menjadi lebih baik pasti ada.

Kuncinya untuk menjadi lebih dari biasa: jangan jadi orang biasa. Mungkin ketika weekend, di saat orang lain sedang istirahat, kita belajar hal baru. Jika dalam ilmu investasi, belajar itu adalah investasi waktu yang paling baik. Sementara proses belajar sendiri tidak memakan waktu yang sebentar. Belajar adalah proses jangka panjang dan terus menerus. Jangan dikira proses belajar berhenti ketika kita menerima ijazah, tidak. Proses belajar baru berhenti ketika jantung tak lagi berdetak, Tuan dan Nyonya.

Jadi apa yang kita dapat, jika ingin sebuah piala (penghargaan, pengakuan, pencapaian) yang besar, kita harus belajar lagi, berlatih lagi. Meminjam istilah-istilah dari novel 5cm, mata dipaksa untuk melihat dari biasanya, hati, kaki dan otak pun juga dipaksa bekerja lebih dari biasanya. Seluruh tubuh kita, lagi-lagi dipaksa untuk berbuat dari biasanya, lebih dari orang biasa. Jangan terbuai dan beralasan dengan kata “BAKAT”, kita semua ini adalah generasi pilihan, dimulai dari mengalahkan jutaan bahkan milyaran saudara-saudara kita sebelum lahir. Terus belajar. Tetap Roso! 😀

Satu pemikiran pada “Weekend Ke 24 – Awards | Song: Coldplay – Viva La Vida

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s