Weekend Ke 27 – Jalan Raya | Song: Lily Allen – Chinese

“Maaf apakah ini rumah Ibu Rustya? Sudah pindah? Kemana? Tidak tahu? Baiklah, terimakasih”

 

“Maaf apakah ini rumah keluarga Rustya? Tidak kenal? Baik, terimakasih, maaf mengganggu.. ”

 

Aku kembali mengarahkan mobilku ke jalan raya. Mencoret nama kota Tuban dari daftar kota yang didatangi. Sejauh ini tidak ada yang pernah tahu kemana ia pergi. Ia menghilang begitu saja.

 

Handphoneku berdering. Rey menelepon.

 

“Erena, kamu dimana?”

“Tuban..”

“Ada informasi lagi mengenai beliau?”

“Gak”

“Terus kamu mau kemana?”

“Aku tidak tahu. Mungkin malam ini aku pulang saja ke rumah kamu”

“Bukan hanya rumah Rey, rumah Erena juga..”

“Iya, mamahnya Rey juga Erena ambil juga loh”

“Iya! Gak papa! Aku tunggu di rumah. Hati-hati.”

 

Menyenangkan rasanya memiliki seseorang yang menanti kedatanganmu di rumah. Di Jerman, Ayah fokus pada keluarga barunya dan hanya memberiku uang secara rutin. Seperti apa kerutan di wajahnya, jenggotnya yang tumbuh, rambutnya yang katanya memutih, aku sama sekali tidak tahu, ia seperti alergi bertemu denganku.

 

“Damn!”

 

Jalur pantai utara yang kulewati sekarang terkena macet. Aku ingin mengambil jalur alternatif tapi takut tersesat. Bahasa Indonesiaku terbatas, aku malas bertanya apabila tersesat nanti. Aku bertahan melewati jalur ini. Aku membuka laci mobil, mencari sekotak rokok, dan tidak jadi, aku teringat Rey dan Tata. Mereka sama-sama kompak melarangku merokok. Sebagai ganti, aku mengambil permen karet.

 

Ahh, aku ingin pulang. Pulang ke tempat dimana ada seseorang yang menanti untukku. Dulu, aku hanya bisa kesal, ketika teman-teman berpamitan di waktu sore.

 

“Sudah sore, aku dipanggil ibu”, begitu kata mereka.

 

Sementara aku ketika pulang hanya ada gelap lampu yang dimatikan sejak pagi. Aku mengucapkan salam tapi tidak ada yang menjawab. Aku dibesarkan oleh Ayah Sunyi dan Ibu Sepi.

 

Handphoneku berdering lagi. Rey lagi.

 

“Erena!”

“Iya Rey, ada apa?”

“Seseorang bernama Rustya menelepon ke sini!”

“Bohong..gak mungkin”

“Iya! Dia melihat postinganmu di blog dan beberapa sosial media”

“Mungkin saja penipu, Rey. Sejak kita memulai pencarian kan sering bertemu penipu yang mengaku kenal..”

“Dia tahu nama tengahmu.. Dia bilang, nama tengahmu.. Dian”

 

Duniaku serasa berubah. Aku antara senang dan tidak percaya. Tidak banyak yang tahu nama tengahku karena aku selalu menyingkatnya. Erena D. Hollowitz, D untuk nama Dian, yang artinya penyala, sumber cahaya. Ibu yang menyematkannya di sana, menjadi nama tengahku.

 

“Oke, sekarang dimana dia?”

“Dia bilang dia di Lasem, Jawa Timur. Dia akan kesini beberapa hari lagi”

“Gak, Rey. Beri aku nomornya sekarang! Aku melihat arah Lasem ketika di Tuban.”

“Tapi memangnya kamu tahu Lasem dimana? Kamu harus lewat jalur alternatif dan bisa saja kamu tersesat.”

“Berikan saja nomornya!”

“Baiklah”

“Maaf Rey, aku tidak bisa menunggu lagi. Aku sudah menanti cukup lama untuk ini”

“… Iya, gak papa. Aku sudah kirim nomornya. Hati-hati, Erena. Aku mohon.”

 

Ban mobil berderit ketika aku putar arah. Ke arah Lasem. Aku hanya berharap ini benar-benar dia. Aku menghubungi nomor tersebut.

 

“Halo..”

6 pemikiran pada “Weekend Ke 27 – Jalan Raya | Song: Lily Allen – Chinese

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s