Di Balik Rencana – Ceritera Juli #5 Kenangan

Di ruang periksa, seorang dokter muda tampak sedang berbicara dengan sepasang suami istri. Sambil menggenggam tangan istrinya, si suami tampak serius memperhatikan apa yang disampaikan dokter tersebut. Sambil membetulkan posisi kacamatanya, dokter itu melanjutkan menyampaikan hasil diagnosanya.

“Tidak ada yang aneh, pak. Semua fungsi organ bekerja normal, tekanan darah normal, dan kadar lemak atau gula pun baik-baik saja.”

“Padahal dokter adalah harapan terakhir saya tapi dokter pun tidak mampu mengetahui apa yang membuat istri saya seperti ini.”

“Saya sudah melakukan tes menyeluruh, pak. Sudah saya usahakan yang terbaik untuk mendiagnosa kondisi istri anda ini. Memang saya masih muda tapi saya sudah berkonsultasi dengan dokter-dokter yang telah anda temui sebelumnya dan kami sepakat bahwa istri anda baik-baik saja.”

Si suami menatap istrinya. Istrinya balik menatap suami. Tidak ada cahaya dari mata coklat istrinya yang dulu penuh energi itu. Pipinya cekung. Rambutnya telah banyak yang rontok dan lengannya sangat lemah.

“Ayah, aku sudah capek. Mungkin benar kata dokter, aku baik-baik saja.”

Dokter muda dan suami hanya bisa terdiam. Si suami mempererat genggamannya. Tidak adakah yang bisa ia lakukan untuk menolong istrinya? Dia sudah datang ke dokter-dokter lulusan terbaik dan sejumlah dokter senior lainnya yang terkenal di negeri ini. Semua berkata Istrinya baik-baik saja. Darimana ‘baik-baik saja’-nya? Semua orang yang melihat istrinya pasti bisa langsung menilai tanpa punya latar belakang pendidikan medis bahwa istrinya.. sakit.

“Kalau saya boleh menyarankan, apakah Bapak sudah mencoba ke psikiater?”

“Belum. Apakah ini ada hubungannya dengan kejiwaan? Istri saya tidak gila.”

“Bukan itu, ada beberapa penyakit yang timbul dari pikiran, Pak.”

Ia kembali menatap istrinya. Kali ini istrinya hanya menunduk ke bawah.

“Siapa psikiater terbaik di negeri ini?”

“Ini, saya catatkan alamatnya. Beliau adalah psikiater terbaik dari kampus saya. Beliau membuka praktik di luar kota. Saya kenal betul dengan beliau. Semoga ini jalan terbaik untuk anda dan istri anda.”

“Semoga.”

Segera setelah menerima catatan dari dokter tersebut, si suami pamit dan tidak sabar untuk bertemu psikiater tersebut. Ia hanya ingin istrinya cepat sembuh.

***

“Yah..”

“Ya, Bunda?”

“Kenapa Ayah dulu memilih Bunda?”

Sambil tetap mempertahankan fokusnya menyetir, ia teringat semua alasan memilih istrinya ini.

“Banyak bunda.”

“Apa saja?”

“Senyum Bunda paling indah. Bunda adalah wanita yang tidak akan kutemui lagi penggantinya. Bunda mampu meredam sikap liar Ayah. Bunda mampu jadi tempat ternyaman bagi Ayah. Banyak alasannya, Bunda. Ayah akan tulis sebanyak mungkin nanti setelah kita periksa.”

“Jangan nanti. Aku takut tidak akan bertemu lagi dengan Ayah.”

Tiba-tiba mobil berhenti dan berbelok ke bahu jalan. Si Suami melepas sabuk pengamannya dan memegang lengan kurus istrinya, matanya marah.

“Bunda! Bunda tatap mata Ayah! Bunda akan baik-baik saja. Bunda tidak akan pergi kemana-mana!”

Penuh dengan emosi suami itu menyampaikan hal itu. Istrinya sempat terkejut dan kemudian segera kembali ke kondisinya sebelum itu. Menunduk ke bawah, tidak bersemangat. Seakan daun di musim gugur yang tampak rapuh di ujung dahan, menunggu saatnya gugur.

Si suami memasang kembali sabuk pengamannya dan melaju kembali. Ia sangat berharap pada psikiater ini. Istrinya menatap kosong ke depan selama perjalanan. Wajahnya tidak beremosi tapi genangan air mata mengalir tanpa diketahui pria di sampingnya.

***

“Apa yang anda lakukan di sini?”

Seorang berrambut putih dan berpakaian rapih sambil menenteng kantong plastik belanja menyapa pasangan suami istri yang duduk di depan pintu ruang praktik.

“Apakah anda dokter Pramudito?”

“Iya, itu saya. Apakah anda tidak tahu jadwal praktik saya? Hari ini saya libur.”

“Saya tahu tapi saya butuh bantuan anda dan kami tidak bisa menunggu hingga besok.”

“Siapa yang sakit? Oh. Baiklah, silahkan masuk. Saya bereskan dulu belanjaan saya, anda tunggu saja di sofa di dalam”

Pasangan tersebut masuk ke dalam ruangan itu. Ada sofa warna abu cukup panjang dan nyaman. Di dinding terpampang sejumlah berita dan penghargaan yang mengakui tangan dingin pemilik tempat ini. Di ruangan sebelah, tempat psikiater itu tinggal. Ia memasukkan sejumlah barang belanjaan pada tempatnya. Ia kemudian mengambil papan kertas dan pena untuk mencatat. Ia dengan tenang menghampiri pasangan tersebut.

“Silahkan, ibu bisa duduk di sofa warna ungu ini. Rileks. Bapak bisa mendampingi Ibu. Tapi, tolong Bapak jangan menyela dan mengganggu jalannya pemeriksaan.”

***

“Waktu itu, dia memeluk saya dengan eratnya. Tanpa saya tahu itu adalah pelukan terakhirnya.”

“Kemana kemudian dia pergi?”

“Ia mengikuti wajib militer. Lalu tidak ada kabar sama sekali.”

“Siapa dia bagi anda?”

“Dia cinta pertama dan terakhir saya.”

Si Suami tercekat. Siapa lelaki ini? Cinta pertama dan terakhir bagi istri tersayangnya.

“Lalu, apakah anda kemudian ingin bertemu dengannya?”

“Iya. Saya sangat ingin bertemu. Kemarin dan kemarin dan kemarin lalu kemarinnya pula saya seakan mendengar suaranya. Ia masih hidup, saya tidak pernah percaya dia sudah meninggal. Dia hanya lupa memberitahukan kabarnya. Di suatu tempat dia mampu bertahan hidup dan menunggu saya datang.”

“Apa!”

Si suami terbangun dari duduk dan mencoba mengguncangkan istrinya tapi psikiater segera tanggap dan menghentikannya.

“Ingat anda tadi bersedia untuk tidak mengganggu proses ini. Ia bisa saja mengalami disorientasi jika anda secara kasar membangunkannya sekarang!”

Mata sang psikiater menyala dan marah. Lebih marah dari si suami.

“Tapi..”

“Kita dengarkan lebih lanjut hingga saya rasa cukup. Lalu kita bangunkan.”

Suami terduduk kembali dan memegang kepalanya dengan kedua tangan. Rambutnya acak-acakan. Ia tidak percaya dengan apa yang dikatakan istrinya selama sesi hipnotis ini. Psikiater itu pun memulai kembali.

“Apakah anda masih dapat membayangkan wajahnya?”

“Tidak.”

“Kenapa? Kata anda, anda sangat merindukannya?”

“Saya punya fotonya. Disimpan di dalam buku yang sering saya baca. Tapi, entah kenapa saya tidak bisa mengingat-ingat wajahnya.”

“Bisa anda coba tahu apa penyebabnya?”

“Ada seseorang.”

“Siapa?”

“Suamiku. Aku hanya ingat wajahnya.”

“Tapi, kau masih mencintai pria yang tadi.”

Perempuan itu bergetar hebat. Badannya seperti kedinginan. Matanya masih terpejam namun ia mulai menangis. Air matanya mengalir.

“Rasanya lebih baik disiksa. Aku tidak tahan.”

Psikiater itu berbalik dan menatap suami wanita itu.

“Saya kira saya tahu apa yang kita hadapi.”

***

“Bunda..”

“Anda mau kue ini? Enak.”

Laki-laki itu mengambil sepotong kue. Ia menangis. Yang dikatakan psikiater itu tepat. Istrinya kembali berenergi. Semua bagian tubuh istrinya seakan tumbuh sehat kembali. Senyum sangat lebar dan berbeda dengan saat ia sakit. Bahkan lebih lebar dari sebelumnya. Setelah sehatnya dia selalu berlari dari kamarnya dan berkeliling di sekitar rumah sakit. Siangnya dia berbagi kue yang ia buat pada malam sebelumnya. Ia juga kini seperti tidak ingat siapapun.

“Kenapa bisa seperti ini, Pak Pram?”

One of the keys to happiness is a bad memory. Rita Mae Brown pernah berkata seperti itu dan benar adanya. Semudah itu untuk bahagia. Dia hanya perlu lupa dan melupakan kenangan yang tidak dia inginkan. Perlu proses melupakan dan penanganan seperti ini adalah jalan singkatnya.”

Lelaki itu menatap istrinya yang menari di antara tanaman bunga. Ia terdiam dan hanya menatap istrinya kemanapun ia pergi hingga berjam-jam. Ia kemudian pergi ketika langit semakin gelap.

“Dia sudah pergi.”

“Ini yang terbaik?”

“Ya. Kembali dalam pelukku, sayang.”

6 pemikiran pada “Di Balik Rencana – Ceritera Juli #5 Kenangan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s