Di Balik Ciuman – Ceritera Juli #6 Bibir

Bibirmu bagai labirin.

“Rey?”

Apakah kamu pernah begitu terpikatnya pada bibir seseorang?

“Rey? Apa kau mendengarkan apa yang aku katakan?”

Bibir yang bergincu merah darah. Kulitnya yang putih pucat memusatkan semua perhatian laki-laki yang berbicara dengannya kepada dua gumpalan lemak berwarna merah di atas dagu itu. Aku pun termasuk yang tidak bisa mempertahankan kesadaranku. Tanganku bergerak sendiri. Keduanya memegang kepalanya agar tetap pada tempatnya sementara kepalaku miring dan mendekat. Aku ingin tersesat dalam labirin.

*Plak*

“Hah?”

“Rey, aku sudah bilang berapa kali? Cubit diri kamu sendiri bila sudah terasa tergoda dengan bibirku! Pertahankan kesadaranmu! Aku tidak mau kamu jadi korbanku selanjutnya!”

“Maaf. Aku begitu tergoda pada bibir kamu. Seandainya..”

Kepalaku miring kembali dan berusaha menempelkan bibirku pada bibirnya.

“Hentikan!”

Taringnya keluar saat dia marah. Taring yang digunakan untuk meminum darah. Ya. Dia meminum darah. Ya, pacarku ini seorang vampir.

***

Semua bermula dari suatu malam ketika aku masuk ke sekolah ini.  Aku yang tidak suka pulang ke rumah segera setelah bel pulang memergokinya sedang meminum dari kantong darah di UKS. Waktu itu aku sempat bersembunyi secepat mungkin namun karena naluri vampirnya dia dapat menemukanku. Saat itu, aku yang ketakutan akan dihisap darah olehnya, hampir saja kencing di celana. Tapi, dia yang malah ketakutan setengah mati, eh dia memang secara teknis tidak hidup sebenarnya. Lalu, kami membuat kesepakatan, dia tidak akan menghisap darahku dan aku tidak akan membocorkan rahasianya. Dia tidak ingin membuat keonaran di sekolah ini. Selain itu ia adalah siswa kehormatan yang tidak ingin ada skandal melekat pada dirinya. Mulai saat itu, image vampir bagiku menjadi sangat berbeda. Vampir bisa begitu ceria, suka bercanda, dan aktif di kegiatan sekolah. Berbeda dengan yang aku baca di komik atau tonton di film. Karena seringnya kami beraktivitas di sekolah bersama-sama, saat ini kami berpacaran. Gokil. Anak kampung pacaran sama vampir. Gokil.

***

Oke. Vampir cantik ini manyun sudah satu jam dan karena marah ia membelakangiku.

“Vla, maaf. Ya?”

“Kamu sudah janji tidak akan tergoda.”

“Ya bagaimana? Bibirmu itu bagaikan pusaran, aku tertarik begitu saja. Masa aku harus menutup mata ketika berbicara denganmu?”

Tambah manyun. Tambah menggoda. Aku menampar diriku sendiri agar sadar. Dia berbalik ketika mendengar suara tamparan. Dia mendekati dan aku segera menutup mata agar tidak tergoda lagi.

“Maaf, Rey. Kamu jadi menderita seperti ini. Kita gak bisa ya pacaran seperti pasangan normal?”

Bisa berpacaran denganmu saja sudah tidak normal. Kemudian tangan dingin itu memegang pipi yang baru saja tertampar. Dia mengelus perlahan pipiku lalu terdengar helaan nafas panjang darinya.

“Lebih baik.. kita putus ya, Rey.”

Aku membuka mataku dan melihat matanya berair lalu tumpah dan dia sesenggukan.

“Sejak awal kita seharusnya tidak bertemu, ya kan? Seharusnya aku tidak mengikutimu dan tidak usah kita selalu bersama.”

Aku tercekat. Sebenarnya ini adalah kesempatanku untuk menjalani kehidupan normal. Tinggal putus, tidak saling kenal dan kehidupanku dan kehidupannya berjalan seperti biasa.

“Maafkan aku!”

Dia berubah menjadi kelelawar kecil dan kemudian pergi terbang jauh.

“Vla!”

***

Kehidupan normalku benar-benar kembali. Dirinya kembali menjadi siswa kehormatan dan semakin jauh dariku. Dia tidak lagi ada di mejaku saat istirahat. Tidak ada lagi makan siang bersama di atap sekolah. Tidak akan ada lagi terbang bersama di saat malam dan melihat bintang bersama di bukit belakang sekolah. Harusnya aku bisa tidur lebih cepat sekarang tapi aku malah tidak bisa tidur. Saat seseorang sudah memasuki hatimu, baik itu vampir atau manusia biasa, kehilangan itu, lubang besar di hatimu tidak bisa begitu saja kembali tertutupi kan?

***

Saat itu, aku yang sedang melamun terusik oleh keributan di bawah jendelaku di lantai dua. Aku menengok ke bawah. Di situ ada Vla dan seorang lelaki. Di sekeliling mereka ada lingkaran anak perempuan yang aku kenali sebagai teman-teman Vla dan teman si lelaki.

“Tembak!”

“Cium!”

Sepertinya lelaki itu akan menyatakan cinta pada Vla. Vla memang cantik sih. Selain itu prestasi dan sifatnya yang ramah membuatnya disukai banyak orang. Aku mengintip dari jendela, tidak ingin terlihat oleh Vla.

“Lho, kamu udah putus sama Vla, Rey?”

Aku lihat ke belakang. Ternyata temanku, Bobby.

“Iya. Aku gak pantas buat dia.”

“Lho darimananya gak pantas?”

“Soalnya..”

Aku tidak bisa bilang bahwa karena aku manusia biasa dan dia vampir. Hampir saja keceplosan.

“Soalnya dia kan siswa teladan dan aku ini slengean, Bob”

“Bodoh. Harusnya kamu menyesal. Masih mending kamu pernah pacaran sama dia. Itu mukjizat, di belahan dunia yang lain pasti hujan tujuh hari tujuh malam saat dia mau jadi pacar kamu.”

Pacaran sama vampir itu mukjizat? Bagian mananya yang mukjizat?

“Tapi, sayang ya si cowok itu, dapat bekasnya kamu pas dia nanti pacaran sama dia, Rey.. Lho? Rey? Anak itu.. udah hilang saja”

***

Aku tidak tahu kenapa aku berlari. Bobby benar, kalau dia pacaran dengan Vla. Dia akan tahu bahwa Vla itu vampir dan belum tentu dia seperti aku bisa menjaga rahasia Vla. Ini demi kepentingan Vla dan nyawa cowok itu. Tapi bohong. Aku tidak bisa terima cowok lain merebut ciuman pertama dari bibir Vla.

***

“Jadi bagaimana, Vla? Kita bisa pacaran?”

“Aku.. bagaimana ya, Dod..”

*Brak*

Aku menendang pintu keluar dan terdengar sangat keras hingga mengagetkan kerumunan di lapangan itu. Guru-guru tampak menengok ke arahku dari ruang guru di gedung seberang. Bapak Sanusi melihatku dan membuat isyarat jari telunjuk di leher. Glek.

“Woy! Itu pacar gw! Enak aja lo! Langkahin dulu mayat gw!”

Vla tampak sangat terkejut. Kerumunan itu malah mencibir seakan mereka serempak berpikir, monyet dari kebun binatang mana nih yang tiba-tiba nongol?

“Vla itu tukang kentut! Kentutnya bau. Tukang ngupil dan sering dia tempel di roknya!”

Aku mengeluarkan semua yang terlintas di kepala dan sepertinya berhasil. Cowok itu memandang Vla sedikit jijik dan sedikit minggir.

“Gw pacarnya Vla. Gw tahu semua tentang dia! Nanti aja lo deketin, Vla. Kalau gw mati!”

Cowok itu menyingkir setelah mengatakan satu kata kepadaku. Gila.

Kerumunan itu pun bubar segera setelah cowok itu membatalkan niatnya. Hanya tertinggal Vla yang tidak percaya kata-kata yang aku katakan. Sementara aku hanya tersisa malu. Ralat, aku sudah tidak punya harga diri lagi. Lalu terdengar suara langkah kaki mendekat.

“Vla?”

“Vla, gundulmu! Lihat itu pintu keluar jadi rusak. Pokoknya sore ini sepulang sekolah, perbaiki pintu itu!”

Ternyata Pak Sanusi. Aku melihat ke belakang Pak Sanusi, tidak ada Vla. Dia sudah pergi dan mungkin sangat marah. Sial sekali hari ini. Aku akan dicap monyet tidak beradab yang merusak pintu sekolah yang dulu pernah dikasihani oleh siswa kehormatan sekolah dan dijadikan pacar.

***

“Lain kali jangan dirusak. Jaga aset dan properti sekolah. Timbulkan rasa memiliki terhadap sekolah.”

Aku baru saja selesai memperbaiki pintu. Dua jam dan semua biaya perbaikan pintu jadi tanggungjawabku. Untung saja Pak Sanusi juga membantu sedikit uang walau uang jajan seminggu jatahku jadi ludes. Aku menenteng tas dan berjalan lemas ke rumah. Di rumah gelap seperti biasanya. Aku menyalakan lampu karena memang sudah malam. Mengambil soda di kulkas, meminumnya dan kemudian rebahan di kasur di kamar setelah meletakkan botol soda di meja belajar. Aku tidak menyalakan lampu kamar karena cahaya bulan memasuki kamar. Aku sangat lelah dan kantuk menyerang.

*tok*

Suara kaca jendelaku diketuk.

“Vla!”

Aku membuka kaca jendela dan ia pun masuk ke dalam. Vampir berseragam sekolah.

“Kalau aku tidak salah dengar tadi.. kamu berani bilang vampir ratusan tahun seperti aku ini tukang kentut, ngupil, dan jorok, betul?”

Mata Vla sangat merah dan pupil matanya meruncing seperti kucing. Aku belum pernah melihat kemarahannya yang seperti ini. Aku mundur dan dengan kedua tanganku mencoba menghalangi dia mendekat.

Lalu, dia memelukku.

“Kemudian, kalau tidak salah dengar, kau akan mencintaiku sampai mati?”

Aku membuka mata. Walaupun badannya dingin. Dia memelukku begitu erat.

“Vla.. Iya, kau tidak salah dengar”

“Hidupmu tidak akan pernah normal jika bersamaku.”

“Sudah tidak normal dan tambah tidak normal bila kamu pergi”

Dia melepas pelukannya dan mundur ke belakang. Cahaya bulan yang masuk dari jendela kamar menerangi dirinya. Vampir ini begitu cantik dan Bobby sekali lagi benar. Dia jatuh cinta padaku itu mukjizat.

“Masih mau terbang di malam hari bersamaku?”

“Boleh, tapi aku ganti baju dulu. Kamu tunggu di luar ya, cantik”

Dia manyun tapi kemudian tersenyum kecil dan beranjak keluar.

***

Di sebuah spot di gunung belakang sekolah. Dia meminum kantong darah dan aku memakan sandwich yang disiapkan ibu.

“Vla, aku penasaran, memang apa yang terjadi jika aku mencium bibirmu?”

“Kamu tidak akan pernah mau tahu.”

“Daripada mati penasaran? Kasih tahu dong”

“Pertama, semua energi kehidupanmu akan aku serap. Tubuhmu akan kekeringan dan semua darah juga hilang lalu kamu mati lunglai.”

Aku tertegun dan tidak bernafsu melanjutkan memakan sisa sandwich.

“Hahaha aku bercanda! Ini yang akan terjadi!”

Malam itu, aku masuk dalam labirin. Kemungkinan besar aku tidak akan pernah bisa keluar. Bibirnya dingin, tapi dingin atau tidak, lebih baik mencium seseorang yang kamu cintai kan?

3 pemikiran pada “Di Balik Ciuman – Ceritera Juli #6 Bibir

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s