Di Balik Percakapan Di Dunia Maya – Ceritera Juli #9 Pertemuan

Capung_Boyz: Apakah kumpulan puisimu akan dicetak ulang lagi?

Edelweis.Snow: Mungkin tahun depan. Sori ya.

Capung_Boyz: Ah, sayang sekali.

Edelweis.Snow: Aku kasih tahu jika nanti cetak ulang. Memangnya kenapa dengan buku yang pertama?

Capung_Boyz: Seorang temanku meminjamnya dan aku tidak bisa mengambilnya kembali.

Edelweis.Snow: Boleh aku tebak siapa temanmu ini? Jangan-jangan mantan pacar?

Capung_Boyz: Hahaha. Kok tahu? Iya dan dia sudah bersuami. Aku tidak enak jika bertemu dengannya lagi.

Edelweis.Snow: Hahahaha. Sudah kuduga.

Dia adalah penulis puisi kesukaanku. Aku pertama bertemu dengannya di dunia maya, di salah satu situs blog. Puisi-puisinya merebut hatiku. Puisinya ringkas, diksinya unik dan dia cantik. Aku memang belum pernah bertemu tapi aku pernah melihat salah satu foto dirinya di album foto di akun twitter miliknya. Ternyata kamu bisa jatuh cinta pada seseorang hanya melalui puisinya. Aku tidak terlalu suka sastra, aku hanya blogger biasa bahkan hanya penikmat dunia maya biasa. Tapi melalui tulisannya, aku menyesal tidak sering mengikuti kelas bahasa. Aku baru sadar puisi bisa begitu indah. Tanpa kata klise. Tanpa harus berima. Tanpa harus memboroskan kata. Aku mengacuhkan dia menulis puisi untuk siapa. Rindu dalam puisi itu seakan untukku.

Edelweis.Snow: Hai. Sudah tidur?

Layar laptopku menyala. Ada pesan baru darinya.

Capung_Boyz: Belum. Ada apa?

Edelweis.Snow: Ini tentang cerpenmu. Menarik.

Capung_Boyz: Cerpen yang mana? Aku baru saja memulai menulis beberapa cerpen.

Edelweis.Snow: Yang tentang kakak beradik itu. Jadi si Kakak mati? Terus, siapa orang-orang itu?

Capung_Boyz: Oooh. Iya. Jadi si Kakak mengakhiri hidupnya karena tidak ada lagi orang-orang yang mengaguminya. Orang-orang itu adalah orang asing. Ia pajang foto mereka di dinding. Jadi serasa dia diperhatikan, dilihat dan dikagumi. Begitu.

Edelweis.Snow: Oke sip. Aku mengerti. Cerpen kamu keren. Aku upload ulang ya di websiteku? Besok aku menguploadnya.

Capung_Boyz: Baiklah. Terimakasih ya.

Bagaimana perasaanmu? Jika seseorang yang kamu kagumi sejak dulu. Sejak beberapa tahun yang lalu. Dulu kamu tidak bisa menghubunginya karena dia di luar jangkauanmu. Dulu yang hanya bisa kau rindui diam-diam lewat spasi di antara kata puisi-puisinya dan sekarang dia bilang kata “menarik” kepadamu. Cukup satu kata dan dia membuncahkan gembira di hatimu. Bagaimana perasaanmu? Aku sekarang merasakannya.

Malam itu aku tidak bisa tidur. Aku berguling kesana kemari. Aku tersenyum sambil memeluk guling. Berkali-kali aku mengingatkan diri sendiri bahwa dia hanya suka pada karyaku bukan pada diriku. Aku buka berkali-kali akun twitternya. Menanti setiap pembaruan. Aku baru bisa tidur sejam setelah adzan subuh berkumandang.

Capung_Boyz: Apakah ada waktu?

Edelweis.Snow: Waktu untuk apa? Kapan?

Capung_Boyz: Aku lihat di website kamu. Di kumpulan cerpen kamu yang baru, ada tanda tangan dari kamu sebagai penulis. Aku minta dong. Siapa tahu bisa berharga di masa depan.

Edelweis.Snow: Hahaha. Amin. Boleh, kapan mau ketemuan?

Capung_Boyz: Kalau bisa siang ini. Jam 4. Bisa?

Jantungku berdebar kencang menulis huruf demi huruf mengajaknya bertemu.

Edelweis.Snow: Itu mah sudah sore bukan siang. Kalau sore ini jam 4.. aku menyiapkan takjil buat berbuka dulu ya. Suamiku datang dan anakku harus dijemput kalau jam segitu.

End Chat.

5 pemikiran pada “Di Balik Percakapan Di Dunia Maya – Ceritera Juli #9 Pertemuan

  1. Aku suka twistmu ini, Nald ! 😆

    Eh, omong2 soal jatuh cinta pada seseorang hanya gara2 puisinya/tulisannya, aku jadi keinget suaminya Jia Effendie 😀

    Suka

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s