Di Balik Pintu – Ceritera Juli #11 Pesan Dalam Botol

*ting tong*

Bukankah semua penghuni kos sudah mudik? Siapa yang datang? Aku menuju pintu depan rumah kos. Siapa tahu pengantar paket yang mengantar pesanan dari toko online buat penghuni kos. Aku melihat lewat lensa pintu. Tidak ada seorang pun di luar. Jangan-jangan anak kampung sini sedang usil dan tahu aku sendirian di kos. Kos putri ini terkenal dengan penghuninya yang cantik dan pemuda kampung suka usil dan menggoda.

Baru saja tiga langkah dari pintu.

*ting tong*

Aku terkejut dan hampir saja berteriak. Aku terdiam dan belum berani untuk melihat melalui lensa pintu. Siapa? dan ini sudah malam.

“Jangan main-main! Aku bisa telepon polisi!”

Suasana hening. Aku mengumpulkan keberanian dan memasang salah satu mataku ke lensa pintu. Tidak ada seorang pun di luar. Hanya ada pamflet yang terbang tertiup angin dan suara anjing menyalak di luar. Aku perlahan membuka pintu hanya membiarkan terbuka sedikit. Lalu aku lihat ada botol tepat di depan pintu. Aku ambil segera botol tersebut dan menutup pintu depan secepatnya. Sebuah kertas ada di dalam botol. Aku keluarkan dan membacanya.

‘Hai’

Ini pasti kerjaan pemuda kampung sini. Ada yang tahu kalau aku sendirian di sini dan berniat mengerjaiku. Kertasnya adalah sejenis kertas A4 dan hurufnya dia kumpulkan dari potongan di majalah atau koran. Bisa jadi dia juga mahasiswa karena kertas ini sering digunakan oleh mahasiswa sepertiku dan huruf-huruf ini, dia tidak ingin diketahui dari tulisan tangannya.

Sebaiknya aku memastikan semua pintu dan jendela sudah terkunci. Aku menyalakan alarm kos dan memasangnya pada tingkat keamanan paling tinggi. Sedikit gerakan akan memicu alarm yang berbunyi sangat keras dan tersambung dengan nomor kontak bapak kos.

Sebaiknya aku tidur cepat. Begitu pagi menjelang, aku akan pergi dari kos dan menginap di kosan Wenny.

***

Aku packing segera setelah matahari terbit. Pintu kamar kos aku pastikan terkunci dua kali. Aku menuju pintu depan dan membuka pintunya. Sebuah botol sudah ada di sana. Aku menendang botol itu jauh-jauh dan berteriak kecil. Botolnya pecah dan gulungan di botol itu perlahan terbuka.

‘Kenapa? Takut? Jangan, aku hanya ingin kenalan.’

Pintu depan kos segera aku kunci dan kemudian berlari ke ujung gang. Dasar psycho! Aku menghubungi Wenny.

“Wen? Dimana?”

“Oh, maaf, aku lupa bilang ya. Tadi malam mamah minta aku segera pulang. Setelah subuh tadi aku naik travel ke Jakarta.”

“Wen! Yang benar saja? Gw udah cerita kan tadi malam ada orang psycho yang mengirimkan pesan aneh di dalam botol! Gw males balik ke kosan lagi! Raras? Dia balik nggak?”

“Raras udah dari minggu kemarin, kan? Kan lo dan gw nganter ke bandara waktu itu. Lupa?”

“Damn. Anak-anak sudah mudik semua?”

“Ya iyalah, lo-nya aja yang kerajinan ngerjain skripsi pas liburan panjang kayak gini. Gw ada temen di sana tapi cowok. Gak papa?”

“Gak lah. Gw juga gak punya uang untuk balik kampung. Gw coba nginep di perpustakaan aja deh, Wen.”

“Nah. Dulu sih gw bisa nginep di sana. Siapa tahu sekarang pun masih bisa.”

Aku berlari ke perpustakaan kampus. Siapa tahu besok si psycho sudah tidak mengganggu.

***

‘TUTUP. Buka setelah liburan hari raya.’

Sial. Kemana orang-orang? Hanya ada security jurusan yang berjaga dan berkeliling. Itupun cuma satu, dua.  Ah kenapa aku tidak terpikir untuk pinjam dulu uang Wenny? Lalu, aku pulang dan meninggalkan si psycho dan ide gilanya selama dua minggu.

“Wen?”

“Ya, gimana perpustakaan buka?”

“Tutup! Wen, gw pinjam dulu uang lo dong.”

“Oke, butuh berapa lo?”

“300 ribu sudah cukup. Sebentar gw ambil dulu nomor rekeningnya, ada di..”

“Woy! Ada apa? Kok lo tiba-tiba diam?”

“Nomor rekening gw ada di dompet dan dompet sialan terkutuk gw ketinggalan di kamar!”

“Bego! Buruan ambil. Masih pagi dia gak mungkin berani berbuat aneh-aneh!”

“Jadi, gw harus balik lagi ke kosan?”

“Iya. Sekali ini saja. Gak papa, percaya sama gw. Masih pagi ini.”

“Oke.”

***

Aku mengintip dari ujung gang ke pintu depan kosan. Tidak ada botol di depan pintu. Aku menggenggam batu bata yang aku pungut dari lokasi pembangunan gedung kosan baru di dekat sini. Aku berlari dan segera membuka gerendel pintu kos sambil sesekali melihat ke belakang. Aku berhasil masuk dan mengunci kembali. Suasana kos begitu hening tidak seperti saat musim sibuk kuliah. Aku menuju pintu kamar kos dan mencoba membukanya. Karena aku sangat ketakutan, kunci kamar terjatuh ke bawah. Aku pungut dan segera mencoba memasangnya lagi pada lubang kunci.

*Kriet*

Tepat di tengah kamar ada gelas yang biasa kupakai dan sebuah kertas di dalamnya.

‘Ciluuukkk..’

Aku banting gelas itu dan berteriak sekencang mungkin. Aku berjongkok dan menutup telinga serta memejamkan mataku. Tidak ada yang terjadi. Hanya suara sialan itu. Suara botol dari kaca berguling ke arahku.

***

“Tom! Jadi rencana kita ngasih kejutan udah jalan? Kok gak bilang-bilang?”

“Apaan sih, Wen? Ulang tahun dia kan masih satu minggu lagi.”

“Hah? Terus siapa yang ngasih kejutan? Kok dia bilang ada yang..”

*ting tong”

“Tom, bentar ya. Ada yang datang. Ortu gw baru balik kayaknya. Gw buka pintu dulu.”

“Oke”

Lalu siapa? Kalau bukan Tom dan teman-teman.

*ting tong*

“Bentar, Mah Pah!”

Lho? tidak ada siapapun di luar. Hanya ada sebuah botol di luar. Tepat di depan pintu.

4 pemikiran pada “Di Balik Pintu – Ceritera Juli #11 Pesan Dalam Botol

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s