Di Balik Dinding Tebal – Ceritera Juli #14 Jika Aku Bisa (1)

“Selamat malam”

Siapa orang ini? Bagaimana dia bisa menembus ratusan penjaga dan sampai di sini?

“Tidak usah bingung. Aku hanya ingin berbicara denganmu.”

“Siapa kau?”

“Sebelum aku menjawab pertanyaanmu, izinkan aku bercerita.”

Kenapa dia seperti bisa membaca pikiranku? Apa yang dia mau?

“Aku menyadari keanehan ini tadi pagi. Ketika aku ingin sarapan dengan donat dan cokelat hangat, tetanggaku datang dan membawakannya. Padahal dia adalah tetangga yang tidak pernah menyapa dan terkenal pelit.”

Dia mulai bercerita sambil sesekali menyeruput kopi hangat. Yang aku tahu dispenser itu hanya dapat beroperasi dengan sidik jariku. Apa mungkin dia membawanya dari bawah tanpa dihentikan oleh penjaga?

“Lalu, aku mencoba lagi meminta uang sepuluh juta lima ratus enam ribu dua ratus dolar dan seseorang mentransferkan dengan nominal yang persis sama ke rekeningku. Kau bisa melihatnya sendiri.”

Katanya sambil menunjukkan layar handphonenya ke padaku.

“Kemudian, aku mencoba ingin masuk ke kamar mandi wanita di gedung dekat apartemenku dan seperti yang diduga, tidak ada yang menghentikan dan tidak ada yang menganggapku aneh.”

“Aku menunjuk salah satu handphone mahal dan memintanya kepada kasir, dan ternyata aku diberikan begitu saja. Semua berjalan seperti biasa saja dan tidak ada kecurigaan sedikitpun dari pihak keamanan.”

Aku mendekat ke meja dan tanganku menyusuri bawah permukaan meja. Aku mencari tombol darurat.

“Boleh, silahkan pencet saja dan undang para penjaga kemari.”

Dia menantangku dan tersenyum sangat puas. Aku menekan tombol tersebut dan para penjaga langsung menyerbu ke dalam ruangan. Dia tidak kabur malah meminum kopinya dengan tenang.

“Penjaga tangkap dia!”

Penjaga tidak bergerak. Mereka hanya diam dan kemudian berbalik arah. Aku tercengang dan dia tertawa.

“Pak, apa kau ingat anak yang pernah membacakan pidato perdamaian dunia pada tahun 2014?”

Anak yang itu? Yang sempat diwawancarai karena pidatonya yang inspiratif? Apakah dia adalah anak itu?

“Ya, aku anak yang itu. Pidato itu aku bacakan dengan penuh semangat dan keyakinan. Keyakinan bahwa dunia bisa berdamai dan tidak akan ada perang lagi. Tapi, semakin dewasa aku semakin yakin, perang tidak bisa dihentikan semudah itu. Banyak kepentingan dan bisnis di sana. Bisnis senjata, bisnis sumberdaya dan bisnis penjajahan. Kau punya kesempatan untuk menghentikannya namun kau tidak melakukan.”

Dia menghampiriku dan menepuk pundakku. Aku tidak bisa bergerak dan hanya terdiam.

“Dan permintaan terakhirku, atas nama para anak yang menderita karena perang, aku ingin kau… mati.”

Aku menutup mata, merinding ketakutan dan kemudian terkencing di celana. Suara dari jam besar di sudut ruangan yang berdentum 12 kali seakan lonceng tanda hukuman untukku.

“Ah. Sial.”

Aku membuka mata tidak terjadi apapun pada diriku. Dia terlihat sangat kecewa.

“Ternyata aku diberi kesempatan cuma sehari.”

Aku buru-buru memencet kembali tombol darurat, penjaga masuk dan menangkap laki-laki itu. Matanya tidak bisa lepas dariku. Dia kemudian tersenyum puas. Aku dipermalukan olehnya. Air kencingku membasahi karpet ruang oval ini. Staf gedung putih tidak boleh membiarkan cerita ini keluar. Tidak boleh. Harga diriku sebagai presiden jadi taruhannya.

Satu pemikiran pada “Di Balik Dinding Tebal – Ceritera Juli #14 Jika Aku Bisa (1)

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s