Di Balik Jarum Jam – Ceritera Juli #16 Jika Aku Bisa (3)

Kami tiba di suatu masa. Aku juga tidak tahu aku dimana. Aku hanya mengabulkan permintaan anak ini. Hanya saja yang aku tahu ini di masa lalu. Kami berdiri di trotoar di samping jalan raya yang penuh kendaraan.

“Kek, jam berapa sekarang?”

“Sebentar lagi jam 5 sore. Kau menunggu jam 5 sore? Ayolah katakan kenapa kau ingin kembali ke masa ini?”

“Sebentar, Kek. Aku sedang mencari sesuatu. Apa kakek bisa melihat gedung apa itu yang di seberang?”

“Itu gedung perkantoran sepertinya dan sebentar lagi karyawan-karyawan di dalamnya akan pulang. Apa kau juga mencari seseorang?”

“Iya. Aku ingin merubah sesuatu di masa lalu. Apakah boleh, Kek?”

Aku tersenyum dan mencari sesuatu berbentuk kotak di sekitarku. Aku menemukan dua kotak rokok bekas.

“Sebenarnya merubah sesuatu di masa lalu akan berpengaruh pada masa depan. Tahu mainan yang namanya domino?”

“Gaplek?”

“Iya. Sebutannya itu juga. Jadi kalau kartu-kartu domino diberdirikan berjajar seperti dua kotak rokok ini, dan di ujungnya jatuh maka jatuh semuanya seperti ini. Jika kamu merubah masa lalu, masa depan akan berubah. Bisa jadi juga berpengaruh pada dirimu. Apa kamu siap? Apa cuma demi senyum kakak perempuan yang tadi itu?”

Dia terdiam dan berpikir sebentar lalu dengan senyum lebarnya dia menjawab,

“Ya. Tidak apa-apa. Satu kali lagi, Kek. Tolong aku. Sebentar lagi jam 5 dan ini rencananya.”

Anak ini mungkin belum berpikir sampai sejauh apa yang aku bayangkan tapi ketulusannya membuatku ingin membantunya lagi.

“Oh, ya.. aku mengerti.”

***

Lampu merah itu aku atur nyalanya dan memberhentikan mobil yang itu tepat di sebelum zebra cross. Anak itu melihatku dan berkata,

“Siap, kek?”

“Oki doki. Ayo!”

Dia menarik lenganku dan berpura-pura sebagai anakku. Aku memang belum pernah memiliki seorang anak dan sepertinya menyenangkan. Anak perempuan sepertinya.

“Ayah, tadi aku gambar Elsa, yah. Nanti kita lihat lagi ya, Yah?”

Dia sengaja memperkeras suaranya agar terdengar oleh pengemudi di dalam mobil sasaran itu. Aku tersenyum dan mengikuti rencananya. Aku tahu ini hanya pura-pura tapi aku benar-benar menikmati dan tertawa lepas.

***

“Apakah kita berhasil, Kek?”

Kami mengintip dari semak di trotoar di seberang jalan.

“Mobil itu berbalik arah dan tidak jadi lurus. Sepertinya sih berhasil.”

“Kek, apa yang terjadi? lihat jariku menjadi tembus pandang!”

Jari-jari kecilnya benar menjadi transparan. Masa depan mulai berubah dan eksistensinya terpengaruh.

“Kek, aku belum bisa pergi dulu. Aku ingin lihat apakah aku berhasil? Bisakah kita ke rumah kakak itu di masa ini?”

Aku tersenyum dan menjawab,

“Oke. Sayang ya kalau kita tidak tahu seperti apa akhirnya?”

Dia memelukku. Ah, sepertinya aku juga ingin punya anak kecil semanis ini.

***

Mobil itu berhenti di depan sebuah rumah. Pengemudinya segera turun dan masuk ke dalam rumah. Dari sini tampak terlihat ia kemudian memeluk seseorang di dalam rumah itu. Si perempuan yang di masa depan tinggal sendirian itu. Sepertinya peristiwa ini mengubah cukup banyak hal di kehidupan perempuan itu. Aku gendong anak itu di bahuku agar dia dapat melihatnya.

“Bagaimana? Puas?”

Tidak ada jawaban. Beban di pundakku pun lenyap. Anak itu sudah menghilang. Aku tidak sempat melihat wajah terakhirnya tapi sepertinya dia cukup bahagia dengan hasilnya.

Satu pemikiran pada “Di Balik Jarum Jam – Ceritera Juli #16 Jika Aku Bisa (3)

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s