Di Balik Maaf – Ceritera Juli #16 Jika Aku Bisa (3) – Another Version

“Atha, ada yang datang.”

“Siapa, Bi?”

….

“Hai.”

Lalu, kau memelukku dengan mata sembab. Pipimu basah dan pelukmu bertambah erat.

***

“Aku hampir saja menyesal tidak bisa bersama Bapak saat beliau.. kesakitan.”

“Maaf. Itu gara-gara aku.”

“Tidak. Aku pun egois memaksakan kehendakku. Ini balasannya.”

“Kamu sudah berusaha jadi putri kesayangannya selama ini.”

Kami duduk berdua di seberang almarhum ayahnya yang baru saja meninggal. Aku tidak tahu bagaimana caranya tapi saat aku membuka mata, aku sudah di hadapan pintu rumahnya. Yang aku tahu malam itu aku bertemu seorang Kakek di perjalananku menuju rumah. Kakek itu menawarkanku sebuah permintaan yang akan ia kabulkan hanya sekali. Lalu aku di sini, di sepuluh tahun yang lalu. Saat dimana aku sangat ingin kembali.

Atha masih menangis sesunggukan. Dia sudah menangis semalaman. Peziarah datang dan pergi, berwajah muram namun lebih muram wanita di sampingku. Dia lelah dan kehilangan harapan. Saat ini aku bersamanya namun aku sebenarnya sudah meninggalkannya di waktu yang itu. Yang aku bayangkan terjadi di saat itu, dia sangat sedih, merasa ditinggalkan, merasa salah mempercayai seseorang dan aku saat ini ingin merubah itu, masa lalu yang aku tidak inginkan.

Lama kelamaan dia tertidur di bahuku. Ia sangat letih. Karena melihat anggota keluarganya yang lain sedang sibuk dengan persiapan penguburan, aku menggantikan bahuku dengan bantal lalu berdiri membantu.

***

Di antara makam-makam yang berdekatan di sebuah pemakaman dekat rumah di situlah tempat terakhir almarhum ayah Atha dikuburkan. Aku mendampingi kemana pun Atha pergi. Aku menggenggam tangannya, ikut menaburkan bunga dan berdoa di samping pusara ayahnya. Ia lalu melihat ke arahku.

“Kapan kamu pulang?”

“Setelah semua selesai aku akan pulang.”

Dia kembali menatap tanah makam.

“Kamu mirip sekali dengannya.”

“Hah? Siapa yang mirip siapa, Tha?”

“Kamu. Mirip sekali dengan Rey yang aku tahu.”

“Aku Rey, Tha.”

“Bukan. Kamu berbeda walau secara fisik kamu mirip dengannya. Kamu tampak lebih tua, lebih dewasa. Rey yang aku kenal tidak sepertimu.”

Dia tahu.

“Jadi, siapa kamu?”

Aku menceritakan segalanya. Tentang aku yang tidak bisa menepati janji mendampinginya selalu. Tentang masa depan yang berbeda hingga pertemuan dengan kakek itu. Dia tersenyum dan hanya berkata.

“Terimakasih.”

***

Setelah proses pemakaman, karena kelelahan dan setelah memastikan semua telah dilaksanakan, aku mengambil salah satu sudut dan menyendiri di sana untuk tertidur. Tanpa aku sadari, aku terbangun di kasurku sendiri di rumah. Aku lihat ke layar handphoneku dan memastikan waktu. Aku kembali. Aku cek nomor kontak Atha dan mencoba meneleponnya. Tidak ada jawaban darinya kecuali suara operator yang menyatakan aku menghubungi nomor yang salah. Tidak ada yang berubah. Kamu tidak bisa mengubah masa lalu. Aku mencoba kembali tidur dan kalau bisa mengulang kembali mimpi yang barusan aku jalani. Tidak bisa. Tidak akan pernah bisa. Sepertinya, penyesalan akan selalu jadi temanku.

Satu pemikiran pada “Di Balik Maaf – Ceritera Juli #16 Jika Aku Bisa (3) – Another Version

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s