Di Balik Kerja Keras – Ceritera Juli #19 Masa Depan

‘maaf. karyamu masih belum masuk kriteria kami.’

‘coba lagi untuk lain kali ya. maaf.’

‘kami belum menemukan yang kami cari pada karya-karya anda. terimakasih sudah mencoba.’

Aku masih membaca pesan-pesan dari para wakil penerbit buku. Semuanya menolak dan tidak tertarik dengan karyaku. Kata mereka karyaku terlalu biasa dan tidak ada yang wah. Aku mengakui. Haah. Aku menghela nafas panjang. Aku sudah begadang dua malam dan suhu tubuhku sepertinya meningkat.

‘Ting-tong’

Seseorang menekan tombol bel apartemenku. Aku lihat dari lensa. Aku ingin memastikan apakah itu ibu yang punya apartemen atau tukang tagih lainnya. Tapi tidak, hanya seorang anak kecil yang berpakaian aneh.

“Ya?”

“Apakah anda ini Pak Rey?”

“Iya, tapi panggil aja mas Rey, dik”

“Ah, iya Mas Rey. Saya sungguh tidak percaya! Saya sangat senang!”

“Wait. Kenapa?”

“Anda ini terkenal loh! Saya datang dari masa depan hanya untuk bertemu dengan anda!”

“Hah?”

Hampir sejam dia menjelaskan segalanya dan membuktikan dia benar-benar datang dari masa depan.

“Jadi, karena tulisanku?”

“Iya, di masa depan. Semua karya anda dinilai dengan harga tinggi. Banyak film dan sinetron yang diadaptasi dari karya anda.”

“Tunggu, dapatkah kamu membawa aku ke masa depan yang itu.”

“Pegang tangan saya.”

Aku memegang tangannya lalu gelang di tangannya bersinar terang dan mataku silau karenanya. Saat aku membuka mata, kami berada di dalam sebuah museum berarsitektur unik.

“Lihat ke belakang anda”

Aku tidak percaya. Sebuah diorama persis dengan ruangan tempatku menulis di apartemen. Di situ ada patung lilin diriku yang begitu mirip hingga ke pori-porinya. Dia, tiruan diriku, menggunakan masker, tampak sedang demam namun masih mengetik di laptop.

“Ini disebut stage ‘tidak menyerah’. Anda dikenal dengan kerja keras anda. Saat sakit pun anda masih tetap menulis dengan semangat.”

Aku terdiam dan mengangguk dengan penjelasan dari anak itu.

“Stage di sampingnya, ‘open mind’, anda menyerap banyak gaya menulis dan berbagai genre tulisan namun meramunya menjadi karya yang khas anda.”

Stage itu berupa patung lilinku dengan dikelilingi tokoh ceritaku yang berupa laki-laki, perempuan, dan bahkan hantu. Lalu, aku mengenali salah satunya. Perempuan Hujan, tokoh cerita favoritku. Dia mirip dengan deskripsiku dalam cerita. Tampak sedang membaca buku di bawah payung. Aku sangat senang.

“Ah!”

Seseorang berteriak dari belakang kami. Ternyata salah seorang siswi yang sedang tur ke museum ini.

“Teman-teman, itu Rey!”

Lalu segerombolan siswi mengerubungi kami.

“Apakah anda datang dari masa 200 tahun yang lalu? Aku penggemar berat karya anda. Kami dari jurusan sastra SMA. Bisa minta tanda tangan anda.”

Dia menyerahkan sebuah perangkat semacam tablet yang ada judul karyaku di layarnya.

“Bagaimana cara menulis di atas ini?”

“Oh maaf, begini caranya.”

Sesi tanda tangan hingga puluhan perangkat yang aku tanda tangani. Setelah itu kami wefie bersama dengan kamera drone berukuran kecil namun memiliki resolusi sangat tajam untuk hasil potretannya. Masa depan sungguh luar biasa. Aku berkeliling ke setiap stage.

“Dan ini karya terakhir anda.”

Sebuah buku yang terlihat klasik di antara perangkat digital dan desain yang futuristik. Aku baca judulnya, ‘Serendipity’. Haha. Apa yang aku pikirkan saat memilih judul itu?

***

“Saya pergi, Pak. Terimakasih, atas waktunya. Saya sangat menghargainya.”

“Sama-sama.”

Dia pun menghilang dengan kilatan cahaya yang menyilaukan. Aku membuka pintu. Aku pandangi ruang kerjaku yang berantakan.

“Hatchim!”

Aku ambil masker dan melanjutkan menulis. Semangat!.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s