Di Balik Rindang Desamu – Ceritera Juli #18 Tiket Kemana Saja

Ada yang pernah bilang,

‘cinta pertama di musim panas akan segera terlupa seperti demam tapi dia tidak pernah benar-benar pergi, dia masih di situ dan kau usung kemana-mana’

***

Musim panas 10 tahun yang lalu. Saat itu aku masih seorang gadis yang cantik jelita. Karena itu pula, Ayah memintaku untuk berlibur ke desamu saja saat musim panas. Jauh dari godaan laki-laki kota dan polusinya. Perjalanan yang hanya bisa ditempuh oleh bus yang hanya sekali berangkat dan pulang. Serangga musim panas di desamu rajin sekali berdendang saat siang dan sinar matahari berkejaran dengan bayangan daun pohon. Aku membetulkan topi jeramiku dan mengangkat koperku yang baru saja disimpan kondektur bus di tanah. Aku berbalik dan melihat lapangan baseball dimana kau sedang bersiap memukul. Karena melihatku kamu melewatkan bola. Sambil diiringi teriakan temanmu yang memintamu kembali, kamu berlari ke arahku dan menawarkan bantuan mengangkat bawaanku.

“Bolehkah aku bantu? Sepertinya berat.”

Aku begitu saja percaya padamu dan mengizinkanmu membawanya. Kau bertanya kemana aku akan pergi. Lalu berkata,

“Aku tahu dimana itu! Aku antar. Gratis.”

Teman-temanmu di lapangan menyoraki kamu yang berjalan berdua denganku. Aku menarik ujung topi jerami dan menutupi wajahku yang memerah. Entah karena panas matahari atau malu.

Di depan gerbang rumah paman, kau simpan kembali koperku di tanah dan berjanji,

“Besok aku akan menunggumu di sini. Aku bisa mengajakmu keliling desa. Desa ini sangat indah.”

Aku hanya tersenyum dan berterimakasih. Senyummu lebar dan kamu bagaikan tidak merasakan panasnya hari ini. Berlari seperti anak kecil dan melambaikan tangan hingga kau berbalik dan kembali ke lapangan.

***

Saat aku membuka pintu gerbang rumah paman di keesokan paginya aku menemukanmu berteduh di bayangan pagar. Kamu mengenakan baju kotak-kotak dan celana pendek. Di bahumu ada tongkat pancing digantungkan yang menunjukkan kamu akan bawa aku kemana. Kamu tarik tanganku dan mengajakku berlari. Sepertinya berlari adalah hal kesukaanmu dan kamu tahu? kamu lelaki pertama selain Ayah yang menggengam erat jemariku.

Kita pun tiba di pinggir sungai yang deras tapi tidak terlalu dalam. Kamu memintaku melepas sandalku dan mencoba membasahi kaki dengan air sungai. Ikan-ikan berenang di antara kaki kita dan kamu lagi-lagi sangat bahagia. Sambil berpegangan tangan, kita bermain air dan mencoba menangkap ikan dengan tangan. Saat aku tertawa lepas, kamu tiba-tiba terdiam tapi masih tersenyum menatapku. Kamu bilang,

“Kamu cantik.”

Aku yang malu segera naik ke tepian sungai dan mengeringkan ujung rok panjangku yang basah. Kamu mengambil tongkat pancing dan melemparkan kail berumpan ke tengah sungai. Tak berapa lama, kamu berteriak,

“Lihat! Lihat! Aku dapat ikan!”

Aku takjub melihat ikan yang kamu tarik keluar dari air meliukkan ekornya di udara lalu terjatuh di tepian. Kamu menahan gerakan ekornya dengan tangan lalu ia pun berhenti bergerak. Dengan tangkas, kamu olah ikan itu dan menyiapkan api lalu ikan itu siap dibakar. Tanpa aku sadari, kita pun larut dalam tanya jawab tentangku dan tentangmu sambil menunggu ikannya siap disantap. Kamu yang anak seorang petani cokelat di desa ini dan bercita-cita menjadi seorang abdi negara. Lain denganku yang tidak punya mimpi apa-apa selain menjadi istri yang bahagia dan penulis cerita. Sambil tersenyum kamu menatap setiap aku berkata. Aku lupa membawa topi jerami favoritku sehingga aku tidak bisa menutupi pipiku yang memanas dan merah.

Kamu lalu mengalihkan pandanganmu ke ikan itu dan menariknya dari panggang. Kamu mencoba secuil lalu memintaku juga ikut mencobanya. Sungguh ikan terenak yang pernah aku nikmati. Kamu tertawa melihatku yang terpukau rasa ikan. Dengan jari telunjuk kamu menunjuk ada bekas bumbu di ujung bibirku. Aku berusaha menyeka. Tapi jarimu menyeka dan memegang sebagian dagu dan pipiku. Aku tidak tahu kenapa aku menutup mata dan merasakan wajahmu mendekat. Inikah ciuman pertamaku di tepian sungai dan di bawah mentari musim panas? Tapi tidak, kamu memencet hidungku dan ketika aku membuka mata kamu sedang tersenyum lebar.

Aku yang malu berdiri dan berlari ke arah rumah paman. Tapi tali sandalku terlepas. Aku kesal, kenapa seluruh dunia mendukungmu hingga ke tali sandalku. Aku sendiri lupa kemana pastinya arah rumah paman. Kamu menyusulku, menjatuhkan kedua sandalmu dan memintaku memakainya. Sambil menuju ke arah rumah, kamu berjalan bertelanjang kaki, menenteng sandalku yang rusak di tangan kiri dan memenggam tanganku di tangan yang satunya. Di tengah perjalanan, di antara bayangan daun dan sinar mentari yang masih berusaha menelusup ke wajahku, kamu menciumku.

Kemudian, tidak ada lagi jalan-jalan ke luar, paman memintaku mengikutinya kemana saja. Berkebun, menaiki kuda di peternakan. Di tengah kegiatanku bersama paman, aku sering melihat ke arah gerbang. Aku kadang melihat bayangan kamu di sana. Kamu menunggu.

Hingga hari kepulangan, paman memaksa mengantarkan ke halte bus itu. Tempat aku pertama bertemu denganmu. Saat melewati gerbang, aku benar-benar melihatmu. Kamu menunggu di sana dan berdiri saat mobil melewati gerbang. Aku mencari di mana topi jeramiku dan melemparnya ke luar. Paman tidak tahu apa-apa tentang dia. Paman fokus menyetir saja. Aku melihat bayanganmu dari spion. Kamu memungut topi jerami yang aku lemparkan. Aku merasa tidak berterimakasih atas semua yang kamu lakukan, semua yang merebut hatiku.

***

‘Ting-Tong’

Aku melihat dari lensa pintu. Seorang berseragam hijau bertamu ke rumah. Aku membuka pintu dan menemukan wajah familiar di hadapanku. Kamu. Berseragam tentara. Cita-citamu. Setelah melakukan salut dan hormat, kamu bertanya padaku,

“Maaf, Nona. Saya ingin mengajak anda berdansa. Tapi, saya lupa belum menanyakan nama anda. Siapakah nona yang cantik ini? Yang datang di suatu musim panas dan tak kembali lagi.”

Aku tersenyum,

“Maaf Tuan, Puan tidak berkenan menyebutkan nama sebelum anda menyebutkan nama anda terlebih dahulu.”

Dia mengulurkan tangan mengajak bersalaman.

“Namaku Pramudityo. Nona bisa memanggilku Pram.”

Aku menyambut tangannya lalu memeluk pria musim panasku.

***

Di pesta dansa itu, temanmu yang berbeda dari temanmu di desa, menyoraki kita sebagai bintang pesta malam ini. Lalu, sambil memelukku, kamu berbisik, kamu memenangkan tiket kemana saja, tapi kau tidak bisa menentukan kapan untuk kembali. Aku peluk kamu lebih erat. Takut kehilangan. Lagi.

Satu pemikiran pada “Di Balik Rindang Desamu – Ceritera Juli #18 Tiket Kemana Saja

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s