Putar arah – Ceritera Agustus #2 TKBMHTK

Laki-laki itu, memesonaku sejak awal aku melihatnya berdiri di atas panggung dan meneriakkan yel-yel, tentang kemerdekaan, tentang persatuan, tentang kebebasan, tentang berbagai macam wacana yang tidak mampu aku rengkuh dalam sekali teguk. Tetapi dia, yang berahang teguh, berkulit terang dan bermata tajam itu, berhasil meraih aku dalam satu kejap rengkuhan ketika entah dari mana batu-batu berjatuhan.

“Lihat sekelilingmu bila berjalan!”

“A-ayah..”

Laki-laki yang tadi berdiri di atas panggung sudah menghilang. Ia sudah beranjak ke daerah lainnya. Aku palingkan pandangan lagi dan ayahku selesai membersihkan dirinya yang terkena sedikit batu.

“A-ayah tidak apa-apa?”

“Tidak apa-apa. Laki-laki itu, siapa namanya tadi? oh iya Gayus. Kata-katanya memukau, tapi aku tidak melihat itu dari matanya. Apa ada yang terluka dari dirimu?”

“Ti-tidak, Yah.”

Ayah tidak bisa melihatnya. Dia begitu gagah, suaranya bagai buluh perindu dan karismatik. Aku dengar dari teman sebayaku dia adalah satrio piningit, ksatria yang sempat disembunyikan oleh nasib dan diramalkan akan menolong bangsa kita keluar dari penjajahan.

“Ayo, kita bersiap untuk malam ini. Kita harus mencari makan dan tempat yang makan.”

“Ba-baik, Yah.”

***

Di pasar darurat aku kembali bertemu dengannya. Ia masih semangat berteriak lantang di atas panggung sana. Padahal aku tahu dia melakukannya hampir seharian. Sungguh sangat besar dedikasinya untuk bangsa ini. Tapi, aku harus segera pulang dan bertemu ayah di titik pertemuan. Ayah bilang pasar darurat tidak begitu aman karena hingar bingarnya namun kami harus membeli persediaan makanan.

“Kode merah!”

Seseorang berteriak dan mengakibatkan kerumunan pasar jadi kacau. Semua orang berlari mencari perlindungan. Kode merah adalah sandi kami untuk serangan musuh. Aku mencoba menuju arah titik pertemuan tapi kerumunan orang mendesakku ke arah sebaliknya. Aku bisa melihat sekilas bayangan ayah. Dia memberi isyarat “pergi” dan berteriak,

“Cari perlindungan!”

Aku lalu berbalik dan mengikuti arus kerumunan.

***

Aku berlindung di sebuah rumah kosong. Aku bisa mendengar suara senapan mesin dan dentuman ledakan. Ruangan tempatku bersembunyi sangat gelap dan aku tidak nyaman berada di dalam sini. Tiba-tiba suasana hening. Aku berencana pergi setelah situasi tampak aman. Tapi, pintu rumah dibuka seseorang dan ia masuk terburu-buru ke dalam rumah.

Dari luar rumah terdengar suara derap sepatu.

“Sial, kemana dia pergi? Kalian cari ke sana dan kamu ke sebelah sana!”

Suasana hening kembali. Hanya terdengar suara letusan senapan dari jauh. Aku berangsur beranjak keluar tapi kemudian bertabrakan dengan seseorang. Aku ingin berteriak tapi tangannya lebih cepat menutup mulutku.

“Jangan bersuara!”

Gayus! Dia di rumah ini bersembunyi bersamaku. Syukurlah karena temaramnya ruangan dia tidak bisa melihat pipiku. Aku bisa merasakan pipiku memerah dan memanas karena pria yang aku suka berada tidak jauh dariku. Ia berbisik kepadaku.

“Kita tunggu sedikit lebih lama. Bisa saja keheningan itu tipuan.”

“I-iya.”

Jantungku berdegup kencang dan aku memilih mengambil jarak darinya. Ia bisa saja mendengar suara jantungku.

“Apa kalian menemukannya?”

“Tidak komandan!”

“Sial. Kita harus bisa menangkap provokator satu itu! Kita cari ke arah utara, aku lihat beberapa penduduk lari ke arah sana!”

Benar kata Gayus. Pasukan musuh masih ada di sekitar sini. Kali ini, dia menyelamatkan diriku. Selain hatiku ditawan olehnya.

“Sekali lagi, tunggu di sini,” kata Gayus.

***

Sambil menunggu, dia menanyakan siapa diriku. Aku katakan padanya dari mana asalku dan tentang ayahku. Lalu dia memegang daguku dan menatap lekat mataku.

“Kamu ternyata cantik.”

Aku memalingkan pandanganku darinya dan menepis tangannya dari daguku. Aku tidak bisa menatap matanya lama-lama. Apalagi dia baru saja memujiku seperti itu. Tanpa kami sadari keadaan di luar sana sudah hening. Kami lalu memutuskan untuk keluar dan sepakat menuju titik pertemuan dengan ayahku.

***

Saat kami datang di titik pertemuan, ayah tampak cemas dan wajahnya berubah ceria saat kami datang.

“Kau tidak apa-apa?”

“Ti-tidak, Yah.”

Selain ayah dan kami, ada sejumlah orang yang mencari perlindungan di titik pertemuan tersebut. Ada pria dewasa yang terluka dan beberapa orang wanita dan anak kecil yang menangis. Malangnya bangsaku, terjajah di negerinya sendiri.

***

“Kode Kuning!”

Seseorang berteriak lagi. Kode kuning artinya musuh terlihat dekat dengan tempat kami berada. Dimana kami bisa tenang dan aman? Setiap hari seperti domba yang dikejar serigala.

“Sial, militer musuh ada di dekat sini. Kita harus memecah. Gayus, apakah kau ada ide?”

“Mana aku tahu, Pak. Aku hanya pembangkit semangat bukan prajurit.”

Aku bisa melihat mimik muka ayah menjadi terlihat geram.

“Saat ini semua orang adalah prajurit, Gayus!”

“Jika tidak ada aku, siapa yang bisa mengerahkan pasukan perlawanan?”

Ayah tampak menahan amarahnya. Ia lalu berpaling kearahku dan membawaku ke sudut yang sedikit jauh dari Gayus.

“Katakan padaku kamu tidak menyukai dia.”

“A-aku tidak suka dia, Yah.”

“Janjilah padaku! aku tahu kamu menyukainya. Aku bisa melihat sorot dan caramu memandangnya. Janjilah padaku.”

Aku menunduk sebentar dan kemudian mengangkat lagi wajahku lalu menatap mata tajamnya.

“Aku janji padamu, Yah.”

Di belakang punggung, aku menyilangkan jari telunjuk dan jari tengahku.

“Bagus. Kita tunggu apa keputusan..”

“Kode jingga! Kode jingga!”

Kode jingga! Musuh menuju kemari!

“Sial! Semuanya! Laki-laki yang tidak terluka dan masih muda, ikuti aku!”

Suara ayah membuat beberapa orang pemuda berdiri dan berkumpul ke arah kami. Ayah menatapku, pandangan yang tidak aku sukai. Kedua tangannya memegang pipiku lalu bibirnya mengecup hangat tepi keningku. Seakan dia.. akan pergi jauh.

“Sayang, aku akan berusaha tetap hidup dan kaupun hiduplah. Ikut bersama yang lain, wanita dan anak-anak ke tempat pertemuan di timur. Di sana lebih aman karena pasukan perlawanan sudah bersiap dengan senjata rampasan.”

“La-lalu, ayah kemana?”

“Kami akan mengalihkan perhatian musuh ke barat. Kalian larilah ke arah timur.”

“A-ayah!”

“Kau putriku. Kau pasti tangguh. Aku pun tidak mudah mati.”

Ayah tersenyum. Dia selalu tidak bisa berbohong. Dia sendiri pun tidak yakin.

Lalu ayah dan pemuda lain beserta Gayus berkumpul dalam satu kelompok. Gayus tampak lebih resah dari yang lain. Mungkin karena dia seperti dia bilang tadi, bukan prajurit. Mereka berlari keluar dari titik pertemuan terlebih dahulu. Selang beberapa menit kemudian, kami rombongan yang melarikan diri keluar ke arah timur. Aku sengaja berlari agak terlambat karena memiliki rencana. Tepat setelah rombongan berlari semua dan meninggalkanku, aku memutar arah. Aku katakan pada diri sendiri.

“Aku pun tangguh seperti ayahku. Aku juga bisa berlari cepat dan tidak mudah mati.”

***

Aku mulai kelelahan, selama lari ini kenangan bersama ayah satu persatu terlintas dan air mataku menggenang karenanya. Aku harus menyekanya berkali-kali agar dapat melihat lebih jelas. Lalu, meskipun kabur, tapi aku dapat melihatnya. Aku tidak percaya melihat dirinya. Dia berlari ke arah timur. Tidak seharusnya dia berlari bersama rombongan ke arah itu. Aku melihat… Gayus. Tidak lama setelah itu, rentetan suara peluru ditembakkan. Aku mendengar teriakan-teriakan. Aku melihat lagi ke arahnya pergi. Ia sudah menghilang. Ke kedalaman hutan. Tidak lama kemudian, aku memutuskan memutar arah lagi dan menyusul ke arah yang sama.

“Aku tidak boleh membiarkannya hidup. Demi Ayah.”

2 pemikiran pada “Putar arah – Ceritera Agustus #2 TKBMHTK

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s