AISAHAR – Ceritera Agustus #3 Dua Wanita

Meyda mendongak ketika mendengar bunyi pintu pagar tetangganya bergeser dan sebuah suara mengucapkan selamat pagi. Yani, sedang bersiap-siap memburu omprengan ke kantor. Meyda melemparkan senyuman dan melambaikan tangan. Busa-busa sabun yang berada di tangannya langsung menjalar turun membasahi lengannya. Sejenak Yani memandanginya sebelum melambaikan tangan lalu tergesa-gesa melanjutkan perjalanan.

Merasa sudah cukup menimbulkan kesan sebagai ibu rumah tangga yang baik pada tetangganya itu, ia mengangkat kembali ember cucian ke dalam rumah. Lalu, dikeringkan tangannya dan dikenakannya sarung tangan plastik di kedua tangannya. Ia ambil duplikat kunci yang ia simpan di lubang udara. Ia bersiap. Memasuki rumah tetangganya.

Sambil tetap mengawasi keadaan. Ia berjingkat masuk melalui halaman belakang yang tersambung. Dicobanya duplikat kunci tersebut dan voila! pintu terbuka. Segera ia masuk dan tutup kembali pintu belakang rumah tersebut. Ia tersenyum puas. Kini ia siap menjelajah rumah yang membuatnya penasaran itu.

***

Seseorang menjelajahi basis data FBI pagi ini dan itu Yani. Yani sudah bekerja sebagai agen rahasia pemerintah hampir setengah masa hidupnya. Kali ini, sambil membuka laptop di kursi belakang taksi dia menjelajahi daftar buronan. Ya, dia terpaksa menggunakan taksi karena omprengan sudah habis. Ia tersenyum tipis melihat daftar buronan tertangkap yang kebanyakan adalah hasil pengejarannya. Kali ini dia penasaran akan sesuatu, ia merasa pernah melihat wajah wanita itu. Hanya saja baru kali ini ia berani melakukan penelitian. Sekarang ia memutuskan untuk mempercayai lagi instingnya.

***

Meyda melenggang masuk dan memperhatikan interior ruangan itu. Terlalu rapih dan simpel untuk seorang perempuan karir yang tinggal sendirian. Seharusnya sedikit berantakan karena ia paham kebanyakan perempuan tidak serapih ini bila tinggal sendirian. Tidak ada TV. Tidak aneh juga, mungkin dia wanita kekinian yang tidak suka sinetron dan lebih suka browsing internet atau.. ya.. dia penggemar buku. Ada tiga lemari penuh buku di ruang tengah dan kursi malas. Dilihatnya daftar buku dan dia menemukan satu buku aneh di sana. “Patologi Mamalia” di antara buku hukum, novel dan majalah. Ia mengambil buku tersebut dan terdengar suara gemuruh dan terasa getaran di lantai. Ia mendatangi sumber suara. Ruang rahasia milik tetangganya terungkap dan ini tambah menarik untuknya.

***

Yani memasukkan lokasi sebagai dasar pencarian. Lalu, rentang umur dan jenis kelamin buronan yang ia cari. Aplikasi basis data FBI lalu memulai menyusun data dan memuncul satu persatu nama dan foto buronan. Yani sedikit mengurut kening karena masih banyaknya daftar nama yang belum tertangkap. Lalu, sekilas wajah itu muncul dan terus turun ke bawah daftar. Ia menekan tombol enter dan menghentikan penyusunan daftar nama. Dengan cepat, ia men-scroll ke bawah untuk menemukan lagi wajah itu.

***

Ia memperhatikan penyimpanan botol anggur di sebelah kiri tangga masuk. Salah satunya botol wine tahun 1938. Terpampang pula sebuah lukisan buatan pelukis terkenal dari Bali di ruangan rahasia tersebut. Sofa di ruangan itu juga lebih empuk dan desainnya lebih modern. Di tengah ruangan, terpasang TV layar lebar dan sound system dari merk premium. Ia takjub dengan semua barang yang memenuhi ruangan tersebut dan kelihatannya cukup mahal dan asli. Tangannya memegang kedua pipinya, menahan senyumnya agar tidak terlalu lebar.

***

Wajah yang sama tapi nama yang berbeda. Yani sudah menduganya. Instingnya tidak pernah salah. Ia lalu mencari handphonenya hendak mengkonfirmasi ke markas besar. Ternyata terjatuh ke bawah jok. Betapa terkejutnya dia, indikator penyusup ke dalam ruangan rahasianya menyala. Yani lalu meminta supir taksi memutar arah. Rahasianya bisa saja terbongkar saat ini juga.

***

Meyda lalu membuka salah satu laci di meja kerja. Ia mengambil berkas di sana. Ia membukanya, terbelalak lalu menutup kembali berkas dan menyusunnya di tempat yang sama. Ia salah memasuki rumah. Begitu dia sadar, ada sinar laser di pijakan terakhir tangga masuk. Sinar laser itu pasti memicu sebuah peringatan untuk pemilik rumah dan ia mungkin sudah menyalakan pemicunya. Ia bergegas keluar.

***

Sedikit lagi menuju gang menuju rumahnya. Ia melepaskan pengaman dan memasang peredam pada pistol saku yang ia simpan di dalam blazernya. Ia mengatur nafas dan menyusun skenario kenapa ia kembali lagi ke rumah. Segala macam yang dilakukannya tidak boleh mengundang keramaian. Warga sini tidak boleh tahu ada agen rahasia yang tinggal di lingkungan mereka. Sedikit lagi sampai.. 15 meter.. 10 meter. Lalu suara di belakang mengagetkannya.

“Eh, Neng Yani! Kok tumben sudah pulang?”

“Eh, Ceu Meyda, Iya, Ceu, aku gak enak badan jadi cuma absen dan terus izin pulang.”

“Sakit, Neng? Mau aku masakin bubur?”

“Gak, gak apa-apa. Diistirahatin aja pasti sembuh.”

Yani terkejut namun sedikit lega. Ternyata bukan tetangganya yang memasuki ruangan rahasia karena dari penampilannya yang membawa plastik belanjaan berisi sayur mayur tampak tetangganya ini baru saja dari pasar. Walau ia yakin, tetangganya mungkin adalah buronan yang dicari itu. Setelah berbasa-basi sebentar ia masuk ke dalam rumah. Tetangganya, Meyda pun masuk ke dalam rumah, meletakkan kembali sayur mayur ke dalam tempatnya di kulkas. Ia bersyukur masih mempunyai stok sayuran di kulkas yang memperkuat pencitraannya.

Isi kepala Meyda bercampur aduk, ia tidak ingin lagi meninggalkan suaminya. Mas Yudi itu suami ke 4 dan ia tidak ingin menikah lagi. Tapi, di sini tidak lagi aman buatnya. Jangan-jangan Yani agen FBI itu sengaja pindah untuk menangkapnya. Begitu pula dengan Yani, pertanyaan di otaknya, siapa yang berhasil memasuki ruangan rahasianya tanpa terdeteksi. Apakah ada orang lain di kompleks ini yang pelaku tindakan kriminal selain Meyda dan mengetahui jati dirinya? Tanpa mereka sadari, tukang bakso kesukaan mereka berdua melenggang lewat. Tidak ada beban, tidak ada pikiran berat, hanya bertanya-tanya kenapa hari ini dia tidak dipanggil.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s