Merah Darah – Cerita Agustus #4 Darah di Tubuh Joko

Dia sungguh terkejut ketika mendapati ada darah di kepala, lengan, dan telapak tangannya. Dia sungguh tak tahu mengapa darah-darah itu bisa ada di  tubuhnya. Beribu pertanyaan membuncah di kepalanya, darah siapa ini? Apakah ini darahnya? Mengapa dia sampai berdarah? Apakah ada yang membubuhnya? Ataukah dia bunuh diri? Atau jangan-jangan ini darah orang lain. Kalau darah orang lain mengapa darah itu ada padanya? Jangan-jangan dia telah  membunuh orang. Dia bergidik, dia merinding, dia ketakutan. Dia mencoba memeras otak, berpikir dengan keras kejadian yang terjadi hari ini. Menelaah dengan teliti lapisan memori otaknya, mencoba mengurut kejadian-kejadian hari ini.

“Sudah selesai kebingungannya?”

Joko melihat ke belakang. Seorang laki-laki berambut hitam panjang sebahu, menatapnya dengan muka polos. Dia, mengenakan jaket palka warna coklat dan jeans sobek-sobek. Di tangannya sebatang rokok sedang menyala. Rokok yang ia kenal.

“Ah, maaf, aku minta sebatang. Sudah lama aku tidak merokok. Nih, tisu.”

Dia mengambil tisu dan menyeka darah di kening dan yang mengalir dekat matanya.

“Darah siapa ini? Di mana diriku?”

“Bagaimana ya menjelaskannya? Yang jelas ini alam kematian.”

Alam kematian? Segaul itukah pakaian seorang petugas kematian?

“Kau pikir, kami harus mengenakan sepotong kain putih tanpa jahitan yang diikatkan ke tubuh?”

“Ah tidak. Tidak seperti ini alam kematian yang aku bayangkan..”

“Ya, literatur-literatur palsu itu menjelaskan hal yang ngaco. Semua sesuai interpretasi atas imajinasi penulisnya saja. Mereka belum pernah ke sini waktu mereka menulisnya.”

“Lalu darah siapa ini?”

“Sebelum aku jawab, aku ingin bertanya sesuatu, apakah hidupmu bahagia?”

“Aku..”

***

“Lastri, coba rasakan mie goreng ini.”

“…”

“Lastri, sosis ini juga enak”

“…”

“Lastri.. kenapa kali ini kamu tidak mau berbicara kepadaku?”

“Sebaiknya kita tidak usah bertemu lagi, Joko”

“Kenapa? Apa ada yang salah?”

“…”

“Hei! Apa aku berbicara dengan patung?”

“Semua sudah berubah. Kita tidak bisa seperti ini lagi. Aku sudah bosan denganmu.”

“…”

“Kenapa? Kau setuju kan?”

“Sini kau!”

Hari itu, pertama kali aku memaksa Lastri untuk berhubungan badan. Dia melenguh, tapi bibirnya tidak mau menerima bibirku lagi. Dia basah di bawah sana, tapi tidak memelukku dan bahkan sebagai gantinya dia berulang kali menamparku, mencakar dan memukul dadaku. Kemana Lastri yang aku kenal? Yang selalu bercinta dengan penuh hasrat dan puas dengan apapun yang aku lakukan pada tubuhnya.

Dia menangis di ujung tempat tidur. Sesenggukan. Apa sebegitu najisnya diriku baginya sekarang?

“Su-sudah puas kau, Jo-joko?”

Aku menghisap lebih dalam rokokku. Lalu segera mematikannya dan memperko.. tidak, Ya Tuhan, aku memperkosa Lastri! Lagi!

***

“Aku bahagia, kurasa.”

“Begitu.”

Laki-laki penjaga alam kematian itu menghisap hisapan terakhirnya dan membuang puntung rokok itu.

“Siapa nama kekasihmu, ah dia kekasihmu kan?”

“Lastri?”

“Betul. Itu darah Lastri. Yang melekat di tubuhmu.”

“Kenapa? Bagaimana bisa?”

***

“Ak-ku hamil, bangsat!”

Aku menghentikan pinggulku. Kedua tangannya menutupi wajahnya tapi aku bisa melihat dia menangis. Dia lalu perlahan membebaskan dirinya dari kungkungan kedua kakiku dan menutup tubuh telanjangnya dengan selimut. Aku masih mematung.

“A-anakmu.”

Aku mencoba menggapai tubuhnya tapi dia menepis tanganku.

“Anakku?”

Kami memang sering berhubungan badan tanpa pengaman. Tapi, kami selalu berhati-hati dan aku tidak pernah menyangka ia akan mengandung anakku.

“Lalu, kenapa kamu menghindar?”

“…”

***

“Kamu gelap mata, tersesat dari bimbingan sang gembala. Dan terjadilah hal itu, sebentar lagi kau akan mengingatnya.”

“Apa yang terjadi dengan Lastri? Apa yang terjadi dengan anakku?”

“Satu batang lagi boleh?”

***

Malam itu, aku menyetir dengan kecepatan tinggi. Di kursi penumpang ada Lastri yang meneleponku karena air ketubannya pecah saat ia beristirahat di kamar kos. Ia panik dan terus berteriak. Sementara aku semakin tidak fokus ke jalan dan berencana di persimpangan itu akan menerobos lampu merah. Aku baru sadar kesalahanku saat lampu truk kontainer menyala begitu terang dari samping. Tabrakan. Mobil terpental hingga ke sisi jalan. Aku terbangun dan mendengar suara Lastri memanggilku.

“Jo-joko..bangun.”

“Las..tri..”

“Selamatkan anak kita.”

Aku memandang bayi merah dalam pelukan Lastri dan tubuhnya penuh darah dimana-mana. Aku berusaha meraihnya dan keluar dari mobil yang terbalik ini. Bayi ini harus aku bawa ke tempat yang aman. Lalu, setelah beberapa langkah, aku teringat Lastri, dia pun harus diselamatkan. Namun, mobil sudah terbakar api. Aku berbalik dan memeluk lebih erat bayi ini. Dia tidak boleh kedinginan. Sambil berjalan terseok, dan meneteskan air mata, aku mengumpulkan kekuatan. Rumah sakit sudah dekat, tinggal 1 kilometer lagi. Tapi, tangisan bayi ini bagaikan nina bobo. Aku memejamkan mata, mataku begitu berat.

***

Si laki-laki alam kematian ini menghembuskan asap rokok ke udara.

“Boleh aku bertanya sesuatu?”

“Silahkan, aku bosan sendiri di sini, jarang yang mengajakku berbicara sambil merokok seperti ini.”

“Apakah anakku selamat?”

Dia melihat ke belakang, Joko pun mengikuti. Seseorang mendekati mereka, seorang perempuan dengan luka bakar tapi Joko langsung dapat mengenalinya. Lastri. Joko bangun dari duduk dan memeluknya. Lastri pun balas memeluk.

“Maafkan aku.”

Lastri berkali-kali meminta maaf. Seharusnya aku, pikir Joko. Dia tidak menjawab apapun hanya memeluk wanitanya lebih erat.

“Apakah aku perlu menjawab pertanyaan terakhirmu?”

Joko pikir ia tidak perlu tahu jawabannya. Pikirnya kalaupun terjadi sesuatu padanya, ia, laki-laki alam kematian ini akan mengantarnya pada kami. Joko melepaskan pelukan dan menggenggam tangan Lastri yang tidak lagi halus karena luka bakarnya.

“Itu lorong kalian. Berjalanlah ke sana. Soal tempat terakhir kalian, itu hak prerogatif Si Bos. Jadi jangan salahkan aku ya.”

“Ini. Bawalah.”

“Ah! Terimakasih!”

Joko melemparkan kotak rokoknya yang terakhir dan berjalan berdua bersama Lastri ke lorong cahaya itu.

***

“Mereka menyayangimu. Bahkan dari sebelum kamu lahir. Kamu bisa memaafkan mereka kan?”

“…”

“Bagus. Sini main sama, Om. Ada tempat lain untukmu. Om antar. Ah iya, di bungkus ini juga tertulis ‘Merokok dekat anak berbahaya bagi mereka’. Aku matikan dulu rokoknya ya.”

Laki-laki alam kematian mengangkat bayi merah itu ke dalam pelukannya. Mengayunnya dalam gendongan dan berjalan jauh hingga hilang ke suatu tempat.

*Terinspirasi dari Line Webtoon Korea dengan judul ‘About Death’ karangan Sini/Hyeono dan cerpen ‘Darah di Tubuh Joko’ oleh Ajen Angelina

3 pemikiran pada “Merah Darah – Cerita Agustus #4 Darah di Tubuh Joko

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s