Somewhere only we know – Ceritera Agustus #6 Pusat Alam Semesta

Dari antara semua manusia yang diciptakan Tuhan dan mereka yang disesatkan oleh Setan, hanya beberapa yang berhasil menemukan Pusat Semesta, di sana tak ada yang baik dan tak ada yang jahat, tak ada masa lalu dan tak ada masa depan, tak ada ‘saya’ dan tak ada ‘anda’, tak ada perang dan tak ada alasan untuk berperang, hanya lautan ketenangan yang tak berujung. Apa yang mereka temukan di sana, begitu indahnya sehingga mereka kehilangan kemampuan untuk berbicara.

Para malaikat penjaga tempat itu, karena kasihan kepada mereka, menawarkan dua macam pilihan: Bila mereka ingin kembali memperoleh suara mereka, mereka harus melupakan apapun yang pernah mereka lihat, meskipun sebuah perasaan kehilangan akan menetap jauh di dalam sanubari mereka. Jika mereka memilih tetap mengingat keindahan, maka, pikiran mereka akan terganggu sehingga mereka tak dapat membedakan kenyataan dengan khayalan. Demikianlah, mereka yang tak sengaja menemukan tempat yang tak tertera di dalam peta itu, akan kembali entah dengan kerinduan terhadap sesuatu, yang tidak mereka ketahui apa, atau dengan begitu banyak pertanyaan. Mereka yang begitu merindukan perasaan menjadi lengkap kembali akan disebut ‘para pecinta’, dan mereka yang begitu haus akan pengetahuan akan disebut ‘para pembelajar’.

***

“Siapa kamu?”

“Kamu pun, siapa?”

Aku seakan mengenal dia. Tapi, tidak ada satu petunjuk pun dalam ingatanku. Aku mengerahkan semua pikiranku untuk menemukan namanya dalam lembaran-lembaran memoriku tapi gagal.

***

Berawal dari komunitas di internet, aku bertemu dengan Luna Bookworm. Seorang gadis yang sama denganku. Kami sepakat bahwa masyarakat kuno telah menemukan surga di bumi. Kami dengan teori kami yang menyatakan bahwa masyarakat kuno tersebut itu dicatat dalam literatur-literatur kuno sebagai bangsa atlantis berhasil menemukan tempat paling dicari tersebut dan pindah ke tempat itu.  Teori kami ditertawakan oleh teman komunitas yang lain. Padahal, bukti sejarah, kesaksian dan sejumlah ilmuwan pun ada yang berteori hampir sama dengan kami.

Kami kemudian memutuskan untuk kopi darat dan langsung saling menyukai satu sama lain. Tidak menunggu lama, kami pun berpacaran lalu memutuskan tinggal bersama. Dalam markas kecil kami, kami melanjutkan membuktikan teori kami. Sejumlah peta dan cetakan informasi sekecil apapun dari internet atau dari buku terbitan klasik kami pajang di tembok yang kami namakan Dinding Harapan. Plesetan dari nama dinding di Jerusalem sana.

Hari-hari berlalu dan tabungan perjalanan kami sudah cukup. Aku sengaja mencari tambahan dana dengan kerja paruh waktu dan Luna pun memilih mengajar bahasa secara privat untuk ikut menabung ke tabungan perjalanan kami. Setelah memutuskan waktu yang tepat, kami memutuskan untuk memulai ekspedisi kami.

Lokasi tersebut terletak di sebuah lembah yang terpencil di balik sebuah gunung tandus. Tempat yang tidak pernah terekam dalam citra satelit karena selalu tertutupi oleh kabut dan awan. Sejumlah post di internet menamakan lokasi tersebut dengan nama ‘unknown valley‘.

“Aku semakin gugup, Surya.”

“Aku juga.”

Tangan Luna kugenggam. Kami sudah setengah perjalanan dan empat jam berjalan kaki dari titik terakhir mobil dapat masuk ke dalam hutan. Saat kusadari, aku hentikan langkah kakiku dan menahan Luna untuk terus maju. Tepat di depan kami adalah jurang yang dalam.

“Ya ampun, hampir saja.”

“Sebaiknya kita istirahat dan menentukan lokasi kita sekarang. Aku akan menyiapkan tenda. Luna, tolong siapkan makanan.”

“Iya.”

***

“Surya, kamu sudah tidur?”

“Belum. Ada apa? Kok kamu juga belum tidur?”

“Apa sebaiknya kita pulang saja? Firasatku tidak enak.”

Aku bangun dan pindah ke atas Luna.

“Ini mimpi kita, Luna.”

“Iya, aku tahu tapi perlahan rasa penasaran itu jadi ketakutan.”

“Kita sudah sampai di sini.”

“Surya, aku takut.”

“Tatap mataku. Kamu tidak sendirian. Tarif nafas dan lepaskan. Kamu hanya butuh ini.”

Aku memeluk Luna hingga ia tertidur. Setelah itu, aku keluar dari tenda dan melihat sekitar. Hanya hutan yang nyaris mati dan memang aneh, kami tidak menemui binatang satu pun. Kabut menebal dan aku kembali masuk ke dalam tenda.

“Luna?”

Luna tidak ada di dalam tenda. Aku perhatikan ujung tenda satunya lagi telah membuka dan angin berhembus dari situ. Tidak ada tanya lagi dan aku berlari mencari Luna. Di antara kabut, aku melihat bayangannya. Ia di tepi jurang, matanya tertutup namun seakan menatap ke dalam jurang. Sudah lama sejak terakhir kali  dia sleepwalking.

“Luna!”

Ia membuka mata dan terkejut dengan teriakanku memanggilnya. Ia berbalik dan menoleh ke arahku. Kakinya terpeleset dan tubuhnya limbung ke bawah.

“Surya!”

Aku tidak berpikir panjang lagi. Ikut meloncat ke bawah sana.

***

Petrichor. Aku mencium wangi seperti bau tanah di awal hujan. Aku membuka mata dan tersadar baru saja aku terbaring di sebuah padang rumput. Aku berdiri dan mencari Luna. Aneh, aku baru saja terjatuh tapi tubuhku tidak luka dan tidak lecet. Di tepian sebuah telaga berwarna putih susu, aku menemukan Luna. Ia sedang mengambil air dengan tangannya dan kemudian menyadari keberadaanku.

“Surya!”

Ia berlari menuju kearahku dan kemudian mendekapku.

“Kita berhasil! Ini shangrila! Ini nirwana! Ini pusat alam semesta! Teori kita benar dan cobalah, ini telaga susu madu.”

Aku merasakan air yang tersisa di telapak tangannya. Manis sekali. Rasanya benar seperti susu dan madu.

“Kau rasakan dan dengar suara gemuruh itu? ada sungai yang mengalir di bawah tanah tempat kita berpijak. Ingat kalimat, ‘yang mengalir di bawahnya sungai-sungai’?”

“Benar. Kita berhasil!”

Aku memeluk Luna dan kami berputar-putar sambil menari.

***

“Yang laki-laki, mengalami gegar otak berat dan terpaksa kami operasi untuk menyelamatkan hidupnya. Namun, kini ia hanya memandang kosong saat membuka matanya. Respon ada tapi tidak seperti orang awam. Ia tidak bergairah.”

“Lalu, bagaimana dengan yang perempuan?”

“Sejak terbangun, ia menunjukkan gejala gangguan mental. Tidak ada orang yang bisa ia kenali. Bahkan orangtuanya telah kemari namun ia tidak merespon positif. Hanya tersenyum dan menari ke sana kemari.”

“Lalu, apa yang akan dilakukan tim dokter?”

“Kami akan mencoba mempertemukan keduanya. Karena mereka berdua adalah korban dan sama-sama mengalami peristiwa tersebut. Kami berharap ada reaksi positif dari keduanya.”

***

Dipisahkan dengan sekat kaca. Aku dipertemukan dengan gadis gila itu. Aku dapat melihatnya menari-nari di ruangan sebelah sana. Aku sendiri didudukkan di kursi tepat di depan kaca. Dua orang petugas rumah sakit kemudian memegangi gadis gila itu. Ia dipaksa menatap wajahku. Saat mata kami bertemu, baru aku rasa. Rasa apa ini? Ada yang merongrong ingin keluar dari dadaku. Jantungku berdegup lebih kencang. Aku mendekatkan wajahku ke kaca. Tanganku ingin menyentuh wajahnya. Gadis gila itu juga terdiam saat ia melihatku. Ia berdiri, menangis, tangisan pertamanya di rumah sakit ini sepertinya. Kedua tangannya lalu memukul kaca. Aku dapat mendengar sebagian teriakannya. Kudekatkan bibirku ke mic yang tersedia.

“Siapa kamu?”

“Kamu pun, siapa?”

4 pemikiran pada “Somewhere only we know – Ceritera Agustus #6 Pusat Alam Semesta

  1. Sun and Moon, meet in the middle of the valley, at the center of the universe. 🙂 Ketika keduanya kolaps, bagaimana jadinya dunia ini?

    Like this! Tadinya saya berpikir, apa nggak akan terintimidasi ya para prompters dengan paragraf awalnya Elif Shafak, salah satu penulis perempuan asal Turki yang menurut saya, mengaggumkan pilihan kata-kata dan mitos yang dibawanya ke dalam novel2nya. Ternyata, ada juga yang berhasil menginterpretasikannya seperti ini.

    Suka

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s