Kisah Seorang Admin – Ceritera Agustus #8 Ingin Rasanya

Vira mengamati kedua anak kucing yang sedang asyik bermain-main. Menggemaskan, pikirnya sambil tersenyum. Ingin rasanya dia menggapai mereka lalu mulai menguliti kulit-kulit berbulu lembut itu. Apa rasanya? Tatapannya lalu beralih ke dua sosok yang saling berpandangan dengan mesra, seakan dunia tak berpenghuni selain mereka. Indahnya, dia tersenyum lagi. Ingin rasanya dia mencungkil dua pasang mata itu lalu memainkannya di telapak tangannya. Bagaimana rasanya? Sudahlah, Vira menggelengkan kepala, membuka ransel yang tergeletak di sampingnya. Ia ke taman ini untuk makan siang. Jauh-jauh dari teman-teman kantor yang selalu kepo, “Makan siang apa hari ini?” Katanya meniru suara cempreng salah satu dari mereka sambil mengeluarkan bekalnya dan bersiul-siul kecil, “Kalau saja mereka tahu…” Dia tersenyum lagi. Seorang perempuan lewat, dan membalas senyumnya. Vira memperhatikan bibirnya. Cantik sekali, pikirnya sambil tersenyum. Ingin rasanya mencium bibir itu dan lalu merobeknya dengan gunting.

Tiba-tiba Vira tampak terdiam, badannya kaku. Matanya menatap kosong ke depan lalu bergidik dan tampak kelelahan.

“Sial, aku lengah”. Vira berbicara sendiri. Dibukanya lembar teratas roti yang ia pegang dan kemudian melemparnya jauh-jauh. Dari dalam roti, potongan jari telunjuk manusia menggelinding keluar. “Hentikan ini, Kak Vina!” Ia berteriak entah kepada siapa. Sejumlah orang berhenti dan melihatnya karena hanya ia yang duduk di tengah taman. Vira yang sadar diperhatikan kemudian menenangkan diri kembali. Diambilnya cermin dari dalam tas ranselnya. Dari bayangan di cermin tampak seseorang yang mirip Vira namun tersenyum menyeringai. Muncul sebuah suara dari dalam benaknya, “Aku hanya ingin bersenang-senang. Hidupmu membosankan!. Sayang sekali hanya kau yang diberikan kesempatan hidup oleh Tuhan dan aku yang mati.” Tidak ingin diperhatikan lagi oleh orang-orang, Vira membalas suara tersebut dengan suara pelan, “Kak, jangan ganggu hidupku. Aku ingin hidup normal. Hentikan semua ini.” Bayangan di cermin hanya tersenyum dan tidak membalas. Vira lalu memasukkan cermin tersebut kembali ke dalam kaca dan kembali ke kantor.

***

“Vira..”

“Ya?”

“Hmm, kalau kau tidak ada jadwal atau kesibukan yang lain, aku punya dua tiket menonton.”

“Malam ini? Aku sepertinya sibuk melanjutkan mengedit naskah dan sekarang aku kebagian jadwal meng-admin blog komunitas fiksi yang pernah aku ceritakan itu. Maaf.”

“Oke. Nevermind. Ehm, mungkin lain kali ya?”

“Iya, lain kali saja. Maaf ya.”

“Gak apa-apa. See you.”

Vira kembali duduk di kubikelnya. Memegang kepala dan menyesal menolak ajakan Rey. Seseorang di kantor ini yang menjadi alasannya selalu datang dan tidak pernah cuti. Tapi, ini juga demi kebaikan Rey, kata Vira kepada dirinya sendiri. Ia lalu melanjutkan melihat layar monitor di hadapannya.

“Ah, Rey!”

Laki-laki itu berhenti berjalan dan tidak jadi masuk ke lift.

“Ya?”

“Jam berapa? Aku mungkin bisa sedikit terlambat dan meluangkan waktu untuk menonton malam ini. Sekali-kali aku ingin refreshing.”

Raut muka Rey berubah dan kembali menuju kubikel Vira.

“Jam 8. Aku jemput ke apartemenmu.”

“Oke. Aku tunggu kamu ya.”

“Iya!”

Rey menyerahkan tiket menonton itu, berbalik ke arah lift dan tampak kegirangan. Di dalam kubikel itu, pada cermin yang diletakkan di sudut, tampak Vira sedang berteriak namun tidak ada suara yang keluar dari sana. Pemilik kubikel itu kembali duduk dan menatap ke cermin sambil mengacungkan tiket.

“Hidupmu perlu sedikit berwarna, Vira.”

***

Di dalam kamar tidur di apartemennya, Vira tampak mondar mandir di depan cermin dan berbincang dengan seseorang di dalam cermin.

“Sekarang, apa yang harus aku lakukan, Kak?”

“Tenang. Pilih saja pakaian yang sedikit provokatif. Pilih warna merah, laki-laki suka warna merah.”

“Aku gak bisa. Aku akan batalkan saja sekarang. Aku takut..”

“Takut apa? Takut aku akan membunuh pangeran kuda putihmu itu?”

Vira membalas dengan lemah.

“Iya.”

“Aku mungkin menikmati membunuh dan menyiksa orang-orang. Lalu memutilasi, menguliti, memasak dan mengunyah daging mereka. Tapi, mereka kan cuma orang asing bukan pria idamanmu, betul?”

“Tapi..”

Suara pesan masuk ke dalam handphone milik Vira yang disimpan di atas kasur. Keduanya mengalihkan pandangan ke benda tersebut.

‘Aku sudah berangkat dari rumah. Siap-siap.’

Vira melihat ke belakang, ke cermin. Berharap kakaknya tidak mengetahui siapa pengirim pesan. Ia kemudian memulai menulis pesan balasan.

‘Tidak jadi. Aku tiba-tiba terkena demam. Maaf.’

Hanya tinggal menekan tombol send. Tapi jempol berubah arah dan menekan tombol delete lalu mengetik pesan baru.

‘Aku tunggu. Cepat, keburu malam. Aku juga sudah tidak sabar.’

Send. Lagi-lagi Vira lengah dan tubuhnya dikuasai lagi.

***

‘Ting-tong’

Rey menanti di depan pintu. Di balik badannya, ada buket bunga untuk perempuan yang satu ini. Tidak lama menunggu, kenop pintu bergerak dan daun pintu terbuka.

“Ah, kamu sudah datang. Maaf, aku baru selesai mandi.”

Di hadapannya, berdiri seorang perempuan yang hanya mengenakan handuk dan rambutnya masih basah. Rey menelan ludah dan tidak bisa berkata melihat pemandangan tersebut.

“Apa itu, di punggungmu?”

Rey yang sadar lalu menyerahkan buket bunga tersebut kepadanya. Karena tangan yang menahan handuk digunakan untuk menerima bunga, helai handuk itu terjatuh perlahan.

“Ups”

Vira menahan jatuhnya helai handuk itu dengan cara menjepitnya dengan siku dan bagian dalam lengan. Rey masih terdiam, belum pernah dia melihat perempuan nyaris bugil secara langsung, Selama ini hanya ada di beberapa koleksi majalah dan file video di laptopnya.

“Maaf, silahkan duduk dulu di dalam. Buat dirimu nyaman.”

“I-iya”

***

Keduanya kemudian menikmati malam bersama. Setelah makan di sebuah cafe, mereka beranjak menonton film. Selama film berlangsung, Rey tidak pernah fokus melihat film. Ia berulang kali menatap perempuan di sampingnya. ‘Ia tampak berbeda malam ini,’ pikir Rey. Yang dipandang pun kemudian menoleh ke samping dan membuat gugup yang memandang.

“Rey, ada sesuatu yang ingin kubisikkan. Sini.”

“Ada apa?”

“Sini, dekatkan kepalamu.”

Pertama, sebelah tangan Rey digenggam. Kedua, dengan tangan yang satunya lagi, ia menarik kepala Rey lebih dekat. Ketiga, bibir gadis itu menyentuh bibir si laki-laki. Keempat, keduanya larut dalam ciuman dan melupakan film yang tengah berlangsung.

“Aku ingin pergi dari sini. Filmnya membosankan. Kamu mau ikut? Antar aku.”

Tanpa banyak bicara. Rey berdiri dan diikuti oleh Vira. Keduanya bergenggaman tangan lalu keluar melalui pintu di sebelah kanan teater.

***

“Kita kembali ke apartemenmu?”

“Iya. Aku penasaran sesuatu. Kasurku tidak pernah nyaman di tiduri sendiri. Mungkin akan berbeda jika ada yang menemani.”

***

Setelah membuka pintu, keduanya masuk dan melanjutkan ciuman. Pintu dibanting hingga tertutup dan keduanya berangsur-angsur menuju sofa. Di sana, Vira terbaring dan Rey di atasnya. Tangan Rey kemudian menelusup ke dalam baju yang dikenakan Vira hendak menjamah bagian dalamnya. Tiba-tiba Vira sejenak terdiam. Lalu sebuah tamparan menghantam pipi kanan Rey.

“Hentikan!”

Rey kesakitan dan terkejut dengan tamparan barusan. Ia terkesiap dan berdiri dari posisinya semula yang hampir menindih Vira. Wajahnya kebingungan. Vira mencoba berontak dan keluar dari kedua kaki Rey. Tapi, salah satu tangan Rey berhasil menangkap kedua tangan Vira.

“Hei. Apa yang kamu lakukan barusan?”

“Aku tidak mau! Hentikan Rey! Lepaskan aku!”

“Dasar wanita jalang! Kamu yang memulai dan memprovokasiku dari awal!”

Salah satu tangan Rey lalu membuka kancing satu persatu. Karena panik dan terus memberontak, salah satu tangan Vira berhasil keluar dari pegangan Rey. Ia mencoba meraih sesuatu di atas kepalanya dan kemudian menghantam ke kepala pria itu. Karena syok di kepalanya oleh hantaman benda tumpul, Rey limbung dan jatuh ke bawah sofa. Vira berdiri sambil mengancingkan kembali baju yang dikenakannya. Sambil memperhatikan Rey yang tergeletak di bawah dan darah yang mengalir dari belakang kepalanya, ia bangkit dari sofa, mundur dan menangis sesenggukan.

“Lihat, Kak! Ini semua gara-gara Kakak!”

“…”

“Sekarang kemana kamu, Kak? Lihat apa yang kau lakukan!”

“…”

Vira mencari bayangan atau sesuatu yang bisa memantulkan bayangan dirinya dan menemukannya di cermin yang terpasang pada lemari di dekat ruang tamu. Ia memperhatikan bayangan di cermin tapi tidak ada bayangan yang biasanya menyeringai atau tersenyum menakutkan itu. Ia hanya melihat di belakangnya, Rey bangkit dan hendak menyerangnya lagi. Dengan refleks dia mengambil sesuatu di atas credenza dan mengarahkannya ke laki-laki itu. Ternyata sebuah gunting dan benda itu membuat luka melintang di leher Rey. Darah lalu mengalir keluar dari luka. Tangan Rey mencoba menghentikan lajunya tapi darah malah memuncrat keluar dan menghujani perempuan yang berhasil menyerangnya itu. Hanya terdengar suara seperti ayam yang disembelih lalu suara berdebam. Sesuatu jatuh di lantai untuk kedua kalinya. Perempuan yang bermandikan darah segar itu terdiam. Kata-kata seakan hilang dari lidahnya. Ia melotot melihat tubuh laki-laki itu menggelepar di lantai lalu berhenti bergerak. Hanya darah dan darah yang mengalir membasahi lantai dan sebagian tempat di ruang tamu.

***

Ia baru saja mempostingkan sesuatu di laman blog yang ia admin hari ini. Baru sempat ia lakukan karena cukup lama, hampir enam jam, ia membersihkan ruang tamu dari noda darah. Ia kemudian berdiri dan beranjak dari komputer dan mengambil sepiring bubuk kopi hitam yang ia siapkan dari tadi untuk di simpan di sudut ruangan agar menyerap bau amis darah. Kain-kain yang berlumuran darah itu kemudian dikumpulkan jadi satu dan dimasukkan ke dalam ember. Ia lalu beranjak ke dapur dan membuka freezer box berwarna putih dan berukuran besar. Ember itu lalu ia balikkan dan terjatuhlah kain berlumuran darah itu ke dalam kotak pendingin. Bersama mayat Rey yang lebih dulu ia simpan di dalam dan potongan tubuh dari mayat orang-orang asing yang lebih lama dibekukan di situ. Kemudian, sambil menatap pigura yang berisikan foto keluarganya yang tergantung di dinding dapur, dimana tergambar seorang anak perempuan yang menggenggam masing-masing sebelah tangan orangtuanya, ia bergumam,

“Makan apa kita hari ini, Kak?”

7 pemikiran pada “Kisah Seorang Admin – Ceritera Agustus #8 Ingin Rasanya

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s