Finding Ariel – Ceritera Agustus #10 – Tenggelam

Sambil menyelam minum air. Robi merasa dirinya perlahan-lahan tenggelam. Sambil menyelam minum air, pikirnya cepat-cepat ketika merasa nafasnya mulai sesak karena kekurangan oksigen. Saat itu, tiba-tiba saja, Robi merasa dirinya dapat bernafas dengan leluasa. Ia menggoyangkan tubuhnya dan menyadari sebuah perubahan terjadi pada dirinya. Astaga, pikirnya takjub, ternyata benar mantera yang diberikan kepadanya. Saat itu ia teringat satu hal lagi, dia lupa menanyakan mantera untuk kembali menjadi manusia!

Dasar kakek bertanduk rusa sialan. Kutuknya dalam hati. Kakek itu tidak sekalian memberitahunya mantera untuk menjelma kembali sebagai manusia. Karena sudah terlanjur basah, ia pun melanjutkan berenang ke dalam lautan. Di ujung palung ia menemukan istana bergaya oriental. Ia mengetuk pintu istana tersebut dengan kepalanya. Kedua tangannya berubah menjadi sirip kanan dan kiri serta kakinya menjadi satu menjadi sirip besar sehingga ia kesulitan untuk mengetuk. Seorang putri duyung berwajah asia, dengan selendang bening menjuntai di belakang kepala dari pundak kiri ke kanan menyambut Robi.

“Permisi, apakah ini istana Raja Triton?”

“Sebelum aku jawab, pilih dulu di antara dua kotak ini, mau yang kotak kecil atau kotak besar?”

Robi menatap putri duyung tersebut dengan pandangan apa-sih-gw-yang-nanya-kok-malah-ditanya-balik-dan-suruh-milih-beginian. Agar tidak membuang waktu, Robi memilih kotak yang besar dan diminta membuka kotak. Ia pun membuka kotak dan boom! Tumbuh keriput di wajah robi. Ia menjadi lebih tua dari sebelumnya. Putri duyung itu tertawa jungkir balik. Hal ini wajar karena mereka sedang di dalam air. Kemudian, dengan sedikit kesal ia meninggalkan putri duyung tersebut. Harusnya ia tahu, dari penampilan putri duyung yang ia kejar dan nama ayahnya, Raja Triton, ia bukan dari laut ini. Ia harus berenang lebih jauh ke utara.

***

3 Jam berenang, Robi masih belum menemukan apapun. Tidak ada lagi tanda-tanda istana bawah laut. Tanpa ia sadari, sejenis ikan tang berwarna biru terang dengan garis hitam dari mata ke ekor melewati Robi. Ikan itu lalu berbalik ke arah Robi, bertanya,

“Apa kau sedang kesulitan?”

“Ya, apakah kau tahu dimana..”

“Hei, ikan..hmm..dugong raksasa, saat hidup membuatmu terjatuh, kau ingin tahu apa yang harus kau lakukan?”

“Gak, aku cuma pengen tahu dimana..”

Ikan itu mulai bernyanyi.

“Tetaplah berenang. Berenang. Teruslah berenang. Berenang. Berenanglah teruss. Apa yang kita lakukan? berenang, berenang, berenang~”

“Oh, sial. Jangan bernyanyi”

“Hahaha~. Aku suka berenang. Saat kamu ingin berenang, kamu ingin berenang~”

“Sekarang, lagu itu melekat di kepalaku.”

“Oh, maaf.. apa yang kau butuhkan tadi?”

“Aku ingin tahu dimana istana raja Triton.. Apa kau tahu?”

“P. Sherman, 42 Wallaby Way, Sydney!”

“Itu dimana?”

“P. Sherman, 42 Wallaby Way, Sydney!”

Robi menepuk dahinya dengan sirip tapi tidak kena karena siripnya pendek. Ia pun bertambah depresi. Ditinggalkannya ikan tang berwarna biru itu yang masih mengulang-ulang alamat tersebut.

Kali ini entah tenaga darimana ataukah karena selama perjalanan ia memakan sejumlah plankton berwarna hijau bermata satu yang jahat, ia berenang dengan tenaga penuh ke utara. Ke laut atlantik. Kali ini ia yakin karena ia ingat putri duyung itu berambut merah, redhead, bersuara serak dan bermata hijau zamrud. Sebentar, jika zamrud, apakah dia seharusnya berenang ke khatulistiwa? Tidak. Seharusnya ia lebih yakin, Robi kamu tidak istiqomah dengan tujuanmu sendiri. Sadar akan hal itu, ia kembali ke arah utara. Saat itulah, tepat di depan matanya, tampak sebuah istana yang sepertinya yang ia cari selama ini muncul dari balik gunung es dan reruntuhan kapal.

Penuh rasa haru dia ketuk gerbang. Seorang tampak turun dari atas serambi istana menuju gerbang. Akankah ia kembali bertemu Ariel, putri duyung yang pernah menyelamatkannya di laut dahulu kala. Terdengar suara dari balik gerbang.

“Robi kah itu?”

“Iya”

“Rob..”

“Iya, Ariel..”

“Maafin aku.”

“Ariel..”

“Iya, Rob..”

“Aku kangen.”

“Rob..”

“Iya, Ariel?”

“Do you want to build a snowman?”

“Eh? Salah cerita, Ariel sayang. Ariel..”

“Iya, Rob?”

“Ada Ruhana? Kapan kita jualan bubur?”

“Itu mah, engkongnya Robi yang tukang bubur naik gaji kan?”

“Eh ketahuan, keluar dong..”

“Aku gak bisa buka gerbangnya, aku jadi putri duyung, tanganku berubah jadi sirip, dobrak aja. Kan ada tulisannya di situ.”

Robi mundur dan benar dia temukan tulisan ‘silahkan dobrak aja gerbangnya’. Didobraklah pintunya. Pintu gerbang terbuka. Halaman istana terlihat, tapi Ariel tidak ada di balik itu. Hanya ada ikan dugong, berambut merah. Oh, iya. Kan putri duyung. Robi pun menepuk dahinya dengan siripnya lagi tapi tidak kena.

Begitulah, petualangan Robi, mencari Ariel. Karena tidak bisa kembali menjadi manusia, mereka pun hidup bahagia berdua sebagai sepasang dugong. Selamanya. Selamanya.

***

“Kek, kok gitu akhir ceritanya?”

“Ya, kan tadi kata kamu terserah kakek..”

“Kakek ngasal!”

“Mengarang bebas, woo hoo!”

“Sekarang kita kemana lagi, Kek?”

“Bebas! Hahahaha.”

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s