Pahlawan – Ceritera Agustus #11 Dua Puluh Menit untuk Hidup

Sial si Kakek ini. Kenapa dia mengatakan hal itu? Aku belum ingin mati. Beberapa pemuda mulai bergerak ke arahnya seperti yang ia perintahkan. Tenang, Gayus. Selalu ada cara untuk melarikan diri. Kode Jingga artinya musuh berjarak tidak lebih dari 20 menit dari tempat ini. Cukupkah bagiku untuk melarikan diri? Tapi, saat ini aku harus menjaga harga diriku di tempat ini. Mana mungkin aku terlihat ikut melarikan diri bersama yang terluka, wanita dan anak-anak?

“Gayus, kau ikut kan?”

“I-iya”

Sial. Aku dan mulut besarku. Saat ini, anak si orang tua ini juga memperhatikanku, aku tidak bisa lari. Ah! Sebuah ide terlintas di otakku. Begitu saja. Betul, begitu saja. 10 menit cukup untuk putar arah. Aku ikuti dulu rombongan ini kemudian putar arah ke arah yang lebih aman.

“Pakai ini, Gayus. Ini agar kita tidak tersesat dan tidak saling meninggalkan,” kata seorang pemuda kepadaku.

Apa ini? Sebuah tali penghubung antar orang dan orang lainnya?

“Ah, apakah ini tidak bodoh? Jika salah satu tertangkap, kita akan tertangkap semua.”

“Gayus, sejak awal ini bukan misi untuk hidup. Kita adalah tumbal bagi mereka yang akan melarikan diri.”

Tumbal? Sejak kapan aku setuju menjadi tumbal? Aku seorang pembangkit semangat dan proklamator kemerdekaan bangsa ini nanti. Bagaimana aku bisa mati saat ini? Dasar orang-orang tidak waras. Mereka berpikir sangat pendek, lain dengan cara berpikirku.

“Satu menit lagi, persiapan terakhir dan kita berangkat! Gayus, kenakan tali itu.”

Aku memakai tali penghubung ini sambil memaki si orang tua itu dalam hati. Kalau aku mati atau kemerdekaan bangsa ini tidak tercapai, dia yang harus disalahkan.

“Berangkat!”

Sial. Sial. Sial.

***

Hahaha. Ternyata bukan aku saja yang berniat melarikan diri. Seorang pemuda di depanku memutuskan tali dan mengajakku berputar arah. Dia membawa pisau lipat di dalam bootnya selama ini dan sebelum berangkat tadi dia menyimpannya di balik lengan baju. Sebelum kembali ke tempat semula, kami berhenti menunggu rombongan evakuasi kabur terlebih dahulu.

“Cerdas sekali!”

“Hahaha. Aku sudah lihat mimik ketakutanmu tadi, Gayus. Kau juga tidak ingin mati, kan? Hahaha.”

“Yah, apapun lah. Yang penting kita selamat. Pisau lipatmu bagus sekali, merek apa? Boleh kulihat?

Ia menyerahkan pisau lipatnya padaku. Aku perhatikan begitu mengkilat dan tajamnya pisau ini. Sepertinya sering ia asah dengan baik. Sangat tajam.

“Ah, apakah rombongan evakuasi sudah berangkat?”

“Aku lihat dulu, Gayus. Setelah mereka berangkat, kita menyusul mereka dari belakang. Tapi, apa ya kira-kira alasan kita nanti kepada mereka? Eh, Gayus?”

Dengan pisau lipat miliknya, aku gorok leher pemuda yang bahkan belum aku tahu namanya itu. Lalu, aku tikam berkali-kali ke dadanya hingga ia tidak bergerak dan kehabisan nyawa. Ini pengorbanan yang penting, bung. Kau harus mati demi si Pahlawan atau siapa ya namamu tadi? Aku bisa menyebutkannya sebagai pahlawan anumerta di pidato kemerdekaan nanti. Hahaha. Tampak di pandangan, rombongan evakuasi sudah berangkat. Si gadis itu juga mengikuti rombongan tersebut. Setelah jaraknya cukup aku mengikuti di belakang mereka.

***

“Mereka ditembaki begitu saja. Lalu darah mereka berjatuhan di pakaianku seperti ini. Mereka lalu memutuskan taliku dan menyuruhku pergi. Aku penting bagi kemerdekaan bangsa ini, kata salah satu pemuda itu. Di sinilah aku sekarang. Padahal aku ingin bertempur bersama mereka.. huhuhu. Mereka lah pahlawan sesungguhnya.”

Bagus Gayus. Kau layak dapat penghargaan atas aktingmu barusan. Penduduk desa revolusi memapahku dan menepuk pundakku. Mereka tampak terisak dan menangis atas cerita dustaku barusan.

“Ah, lihat itu! Seorang penyintas lainnya!”

Aku menengok ke arah belakang. Gadis itu! Dia ternyata masih hidup. Aku pikir dia tersesat atau berhasil ditangkap prajurit. Mungkin ia mewarisi ketangguhan ayahnya. Ia dipapah ke arahku.

“Gayus, syukurlah kau pun selamat.”

“Iya, kau juga, harapan ayahmu dikabulkan Tuhan.”

Apakah hanya perasaanku tapi sorot mata gadis itu sempat berbeda dan menjadi sangat tajam beberapa detik saja?

“Tapi, melihatmu di sini berarti ayah tidak berhasil melarikan diri dan bertahan hidup.”

“Begitulah, aku ikut berduka sedalam-dalamnya untuk ayahmu”

Tidak. Gadis ini berbahaya. Aku bisa merasakan aura membunuh yang sangat kuat darinya. Apakah dia tahu yang sebenarnya?

***

Penduduk desa ini luar biasa! Mereka bahkan memberikanku kamar terpisah dan makanan yang luar biasa lezat. Tidak sia-sia aku melakukan hal tadi siang itu. Tapi, aku mendengar suara seseorang mendekati bilikku.

“Siapa!”

“Ini aku, Gayus..”

Ternyata gadis itu dan ia tampak ketakutan.

“Gayus, aku masih belum bisa melupakan hal tadi siang. Aku baru saja kehilangan ayahku dan tidak ada di desa ini yang aku kenal, so.. apakah aku bisa tidur bersamamu? malam ini saja?”

“Sini, gadis. Mendekatlah.”

Aku perhatikan kedua tangannya, ia tidak membawa alat atau apapun yang bisa digunakan sebagai senjata. Saat ini dia adalah kucing manis lemah yang ingin dimanja.

“Boleh?”

“Sini. Biarkan aku memelukmu dan memberimu kenyamanan.”

Ia pun tertidur di sampingku. Tubuhnya memang masih bau keringat namun siapa yang bisa menolak seorang gadis tidur di sampingmu semalaman? Saat sedang kalut seperti ini, apapun yang kulakukan padanya bisa dianggap pelampiasan stres dan tidak akan ada yang.. ugh. Leherku dijerat begitu cepat dengan benang tipis hingga aku tidak sempat melawan.

“Mati kau! Kau tidak boleh hidup! Demi Ayah dan teman-teman yang kau tinggalkan!!”

Dia tahu peristiwa hari ini! Aku mengeluarkan pisau lipat dari balik kantongku. Menusuk gadis itu berkali-kali. Hingga ia melemahkan kekuatan jeratannya. Aku terbangun mencari semacam kain untuk menutupi dan menghentikan laju darah yang keluar dari leher. Hahaha aku selamat. Darah tidak keluar banyak dan ugh.. benang itu juga beracun. Sialan. Aku belum boleh mati.

***

“Ternyata gadis itu mata-mata musuh! Dia menjerat Gayus tadi malam.”

“Sayang sekali. Padahal, ia orang yang baik.”

“Kita lanjutkan perjuangan Gayus! Lawan penjajah!”

“Lawan! Merdeka atau Mati!”

“Hidup Gayus, sang pahlawan!!”

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s