Si Tukang Ingkar Janji – Ceritera Agustus #12 Janji Diam-Diam

Aroma wangi nasi goreng memenuhi udara dapur pagi ini, setelah tiga bulan lamanya tidak ada kegiatan apapun di sini. Aku menghirup udara dalam-dalam, memenuhi seluruh rongga dadaku dengan aroma yang menghangatkan persendian tulang-tulang yang mulai menua. Sebuah janji aku ucapkan diam-diam, sambil memperhatikan tangan-tangan kecil itu menuangkan sendok demi sendok sarapan pagi ke beberapa piring yang berjejer. Aku tidak akan pergi terlalu lama lagi.

“Ayah! Hari ini mau berangkat kemana?” Anakku yang paling kecil menyadari kedatanganku.

“Hari ini, ayah tidak akan pergi.”

“Ayah.” Kakaknya seperti biasa tidak banyak berbicara hanya langsung memeluk seakan tidak ingin aku pergi lagi.

“Tenang. Malam ini siapa yang mau makan spaghetti bakso buatan ayah?”

“Aku, Yah!”

“Aku”

“Asik. Siapkan perut kalian ya! Kita makan sampai kenyang!”

“Gak jadi. Buatan ayah tidak enak”

Si Kakak pun seperti sebelum-sebelumnya hanya bicara ringkas dan ketus. Ia pun hanya melanjutkan memakan sarapannya. Haha. Aku tersenyum kecut. Si Kecil menempelkan kepala dan aku sudah tahu tanda-tanda apa ini. Ia akan bertanya,

“Yah, kapan ibu pulang?”

“Itu..”

“Dek, Ibu akan pulang saat ibu ingin pulang. Diamlah dan makan sarapanmu.”

“Ya, cepat makan dulu. Hari ini spesial, ayah akan antar kalian ke sekolah.”

Si kecil langsung menurut dan menyantap makanannya. Aku yakin si Kakak juga ingin menanyakan hal yang sama, hanya saja dia sudah cukup dewasa untuk menunjukkan kepada adiknya agar tidak sering-sering menanyakan padaku tentang ibu mereka.

***

“Dah, Ayah!”

“Ayah. Aku sekolah dulu.”

“Hati-hati! Jangan lupa nanti lensa kameranya dibersihkan ya!”

“Tuh, kata Ayah juga harus rajin-rajin dibersihkan, dek.”

Syukurlah mereka masih bisa melewati masa kecil yang biasa saja. Anak perempuan pertamaku walaupun dingin namun menjadi primadona di kelasnya karena cantik dan pintar. Lalu, anak bungsuku yang ceria dan energik, dengan kamera yang aku hadiahkan di ulang tahunnya ke delapan sudah memenangkan sejumlah kejuaran fotografi. Seandainya mereka bisa menjalani kehidupan yang lebih normal dengan kehadiran seorang.. ibu.

***

“Malam ini, tolong antarkan ke lokasi proyek dekat rumah sakit. Ini alamatnya. Tolong sesuai jadwal ya.”

“Pak, saya sudah janji dengan anak saya untuk malam ini..”

“Silahkan cari orang lain untuk tukar shift denganmu atau selesaikan sesegera mungkin. Mengerti?”

“… Baik.”

Aku membuka telepon genggam lipatku dan melihat nama kontak di sana. Pak Arief sedang mengantarkan ke Jawa. Sementara, Pak Budi berangkat sejak malam ke Bogor. Yang lainnya juga sedang in-charge mengantar semen keluar kota. Sesuai permintaan, aku mendapatkan tugas mengantar di dalam kota tapi waktunya, aku sudah janji dengan kedua anak itu.

Sebuah pesan masuk ke dalam telepon genggam ini. Dari si Kakak,

‘Yah. Aku bohong. Buatkan spagheti bakso terenak buat aku dan adik.’

Aku tersenyum. Sambil menunggu shift nanti malam, aku beranjak ke pasar terdekat membeli bahan-bahan untuk spagheti terenak buatanku.

***

“Sudah sampai di rumah?”

“Sudah”

“Adek sudah kerjain PR?”

“Sudah”

“Kakak sudah belajar buat ulangan besok?”

“Sudah”

“Trus, hmm..”

“Aku tunggu yah. Cepat pulang. Hati-hati di jalan. Pasang sabuk pengamannya.” Telepon dimatikan. Siapa yang mengajarkan anak ini menjadi begitu ketus ya? Gemas rasanya dan tidak sabar untuk pulang. Aku menaikkan bahan-bahan masakan dan menaruhnya di samping kursi supir. Aku tersenyum melihatnya sangat kontras dengan dashboard dan ruang sopir truk semen ini yang sangat macho. Mesin truk kemudian menyala. Siap untuk mengantar ke tempat tujuan.

***

‘Ting-tong’

“Itu pasti ayah!”

“Tidak mungkin. Ayah itu tukang ingkar janji.”

“Aku bukakan ya, Kak! Ayaaah”

“….”

“Dek? Siapa yang datang? Dek?”

“….”

“Ibu?”

***

“Halo. Rumah Sakit Jiwa Akihabara. Ada yang dapat saya bantu?”

“Bisa sambungkan saya dengan salah satu pasien?”

“Maaf. Kami tidak dapat menyambungkan anda dengan pasien kami. Anda tahu kan pasien kami..”

“Kalau begitu, tolong sambungkan ke ruangan dokter.”

***

“Aku mohon. Kembalilah. Demi anak-anakmu. Mereka sangat kehilangan kamu.”

“Setiap hari mereka selalu menanyakan kemana kamu pergi sejak saat itu.”

“Dinda, jawab aku. Tolong kembalilah. Aku akan menjemputmu begitu kau bilang iya..”

“Dinda..”

Lalu, tidak ada suara dari ujung sana. Dan tidak akan pernah ada. Hingga aku sadar, sebuah mobil memaksa menerobos lampu merah di depan sana dan trukku tidak sempat menghindar. Daripada mengorbankan orang banyak, aku tidak bisa membanting stir dan memilih menabrak mobil ini. Sesaat sebelum aku hilang kesadaran, aku yakin bahwa aku benar, sayur-sayuran tidak pantas dengan ruang sopir di dalam truk ini dan sabuk pengaman… walau ketus dia selalu benar. Si anak satu itu.

***

“Ibu.”

“Maafkan ibu. Ibu pulang, Nak.”

‘Sebuah kecelakaan terjadi tepat di perempatan sebelum rumah sakit bersalin di jantung kota. Diduga tindakan ceroboh pengemudi mobil minibus yang memaksa menerobos lampu merah memicu tabrakan dengan truk pengangkut semen. Saat ini korban tewas yang teridentifikasi baru dua orang yaitu kedua supir dari masing-masing kendaran yang beradu.’

“Semen. Ayah.”

“Jangan masuk, Kak.”

“Ayah.”

“Jangan!”

“Ayaah!!”

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s