Kotak Pandora – Ceritera Agustus #13 Kotak yang ditinggalkan

Anak-anaknya telah meninggalkannya. Tidak ada satupun yang berdiri bersamanya di dalam ruangan itu. Ia benar-benar sebatangkara. Hanya sebuah kotak tua dan kokoh yang ditinggalkan untuknya. Anaknya yang paling bungsu mengatakan ia baru boleh membukanya setelah ia pergi. Kakaknya sudah pergi terlebih dahulu karena ia harus mengejar jadwal pengiriman. Kotak misterius seperti ini menimbulkan banyak pertanyaan baginya. Apa isi kotak ini? Apakah sebuah hadiah atau kejutan? karena kedua anaknya sangat jahil kepada dirinya. Bukan karena tidak sopan, tapi anak-anaknya sangat tahu ia kesepian di rumah dan saat mereka pulang adalah saat mereka bisa menghibur dirinya dengan kelakar atau tingkah laku yang mengundang gelak tawa. Kenapa mereka memberikan kotak ini dan kenapa harus dibuka setelah mereka pergi?

Ia mengangkat kotak tersebut dan mengguncangnya. Dari berat dan guncangan benda di dalam kotak, didalam kotak itu ada benda yang berjumlah banyak namun ringan. Ia meletakkan kembali kotak tersebut di meja dan pelan-pelan mengangkat tutup kotak. Di dalamnya ia menemukan sejumlah amplop beraneka warna. Ia ambil salah satu amplop di dalamnya.

“Ibunda, surat ini aku tulis jika aku merasa bersyukur atas apa yang engkau lakukan untukku.”

Surat dari si Adik.

“Terimakasih, Tuhan. Engkau telah menciptakan wanita tercantik seperti Ibunda. Selain ialah alarm bangun dan solat yang terbaik, ia juga dokter terbaik. Tidak pernah aku merasa kekurangan gizi apapun namun seiring bertambahnya beratku berkuranglah berat badannya. Seiring bertambah lebat dan hitam rambutku, berkurang dan menjadi peraklah sebagian dari rambutnya. Aku tahu ia mengalami masa sulit setelah ayah pergi tapi tidak pernah sekalipun aku kelaparan dalam satu hari. Aku tahu ia tidak lagi peduli akan malu. Aku tahu ia selalu memerah muka saat berkunjung ke saudara atau tetangga untuk meminta beras atau pinjaman uang. Aku tahu itu dan tidak akan pernah aku mengeluh di hadapannya.”

Air mata wanita itu berkumpul di pelupuk mata. Bertambahnya kata yang dibaca menjatuhkan bulir air lalu menjadi sungai keharuan di pipinya yang tak lagi halus. Ia membuka amplop lainnya dan menemukan tulisan tangan si Kakak.

“Ibu, surat ini aku tulis jika aku merasa berterimakasih atas apa yang kau korbankan untukku.

Ibu, aku pernah dengar ini dari ayah. Kau adalah sarjana terbaik di angkatanmu. Semua hadirin pernah berdiri dan memberikan tepuk tangan meriah ketika engkau memberikan pidato perpisahan di acara wisudamu. Bahkan rektor sendiri yang meminta foto bersama denganmu. Ayah tahu karena ayah salah satu yang bangga pernah hadir mendampingimu di saat itu. Tapi kau tinggalkan itu semua, karena prinsipmu yang seteguh karang, ingin membesarkan anakmu sendiri dan mengawasi setiap pertumbuhannya. Lalu, ayah pernah menunjukkan padaku, kumpulan artikel tentang mengasuh anak dan resep masakan sehat yang kau kumpulkan satu-persatu dari berbagai sumber. Kemudian aku tahu, kenapa kau begitu keras mengajari kami membaca, kenapa kau selalu memaksakan uang yang terbatas untuk tetap membelikan kami buku, kenapa setelah sepeninggalan ayah dan ekonomi sulit masih ada buku baru yang walaupun bekas tersedia di laci buku kita. Ibu, kau tahu? Engkau harus bertanggung jawab akan kecanduanku membaca, bertanggung jawab untuk kegemaranku menulis, keingintahuanku yang luar biasa dan kehausanku akan ilmu yang tidak pernah terpuaskan. Lalu aku, harus bertanggung jawab atas keriput-keriputmu, kelelahanmu, berkurangnya berat badanmu dan luka lecet di dengkul dan telapak kakimu karena beribadah dan berdoa yang lama. Semuanya untuk aku dan Adik.

Ibu, kau tahu? Ayah bilang kau adalah wanita paling ia cintai. Begitu juga dengan kami. Apa yang bisa kami lakukan selain menulis surat-surat ini, beribadah dengan khusyuk dan doa sepenuh hati, semua hanya demi membalas semua budimu.”

Ia dibuat menguras air matanya siang itu. Semua surat itu ditulis satu persatu oleh anak-anaknya. Jumlah surat yang begitu banyak makin membuat haru di dadanya.

“Ibu, ini adik. Ini surat lainnya yang aku tulis buat dibaca olehmu nanti. Kakak bilang ini adalah prasasti cinta kami padamu.”

Surat itu begitu sulit dibaca, tulisan si Adik saat ia masih sekolah dasar.

“Ibu, aku pernah kesal sama ibu. Maaf ya, Ibu. Tapi, masakan ibu, lebih enak dari buatan siapapun. Itu yang buat aku selalu cepat pulang ke rumah. Adik.”

Ia tersenyum. Ia seperti menemukan harta karun yang luar biasa. Semua surat itu adalah mata uang kasih sayang paling mahal yang pernah ia terima. Siang itu benar-benar ia habiskan untuk menikmati kebahagiaan.

***

“Kak, sudah sampai mana?”

“Sudah di pelabuhan. Sebentar lagi akan sampai tempat tujuan, tinggal tunggu kapal ferinya datang.”

“Ibu, bagaimana ya?”

“Tenang saja. Aku juga sudah menitipkan kabar ibu lewat tetangga-tetangga kita jadi jika terjadi sesuatu pada ibu, aku harap jangan, mereka akan menghubungi nomor kita.”

“Maksudku, ibu kesepian di sana..”

“Tenang, ingat kotak surat-surat kita? aku menyerahkannya pada Ibu.”

“Kotak yang mana?”

“Kotak yang surat-surat itu lho. Yang kotak tua, yang kita sembunyikan di loteng.”

“Kak!”

“Apa?”

“Itu tempat itu, Kak!”

“Tempat apa?”

“Itu!”

***

Di bagian bawah tumpukan surat ia menemukan sebuah majalah. Majalah yang cukup tua dan sedikit lapuk. Ia buka lembarannya. Memerah mukanya.

***

“Itu tempat aku menyimpan majalah dewasa, Kak!”

2 pemikiran pada “Kotak Pandora – Ceritera Agustus #13 Kotak yang ditinggalkan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s