Prank

‘Di salah satu sudut kantor ini, ada tempat yang kita sebagai karyawan tidak boleh berkata kasar, berperilaku tidak sopan, atau bermain-main, jadi saya harap dan minta teman-teman karyawan baru bisa menjaga perilaku sejak masa OJT dan selama bekerja di perusahaan ini’

“Gitu kata Bang Ojan, SPV OJT team 3.”

“Jadi kamu percaya dengan takhayul itu? Memangnya dimana lokasi tempat terlarang itu?”

“Dulu pernah nanya langsung ke Bang Ojan gak dijawab, tapi katanya di dekat WC karyawan di lantai empat, lantai ini.”

Aku dan Rudi sama-sama menoleh ke ujung ruangan. WC karyawan perusahaan multinasional yang didesain dengan cahaya temaram dan entah kenapa sangat sunyi. Aku sendiri malas buang air di sana karena suara apapun yang keluar dari bilik kamar mandi seakan memantul dan memunculkan gema kemana-mana. Karyawan perempuan yang bekerja di lantai ini lebih memilih turun ke lantai dasar dan menggunakan WC tamu di sana. Alasannya? Kebanyakan mengaku karena takut. Aku harap segera menyelesaikan OJT di divisi ini dan ditempatkan di divisi lain di lantai berbeda.

“Berani coba, Rey?”

“Hah?”

“Berani coba membuktikan takhayul itu, nggak?”

“Oke!”

“Beneran, Lo?”

“Lo yang takut sekarang, kan? Ayo, berani atau enggak?”

“Sialan, Lo. Ayo, gue yang masuk ke dalam dulu deh.”

Sejak pertama kali berkenalan dan kebetulan ditempatkan untuk OJT di divisi yang sama, aku sudah lumayan mengenal Rudi. Rudi tidak bisa berbohong. Bahasa tubuhnya sangat mudah terbaca. Ia sempat mengernyitkan dahi dan sekarang ia berkeringat dingin. Suaranya jadi sedikit tinggi saat mencoba menyakinkan lawan bicaranya dengan kebohongannya. Langkahnya juga tidak pasti dan tegas. Mirip seperti seseorang yang terbangun oleh suara keras di malam hari lalu mencoba menangkap si Maling yang masuk ke dalam rumah tapi penuh rasa ketakutan.

“Oke, gini, sekarang gue masuk, gue coba ngomong kata-kata kasar, lalu tunggu setelah 2-3 menit, gue keluar. Gimana?”

“Yakin lo, Rud? Kalau kejadian apa-apa, gimana?”

“Jyah, kan lo bilang juga tadi takhayul”

Rudi masuk ke dalam salah satu bilik WC. Aku menunggu di luar. Terdengar dari dalam suara Rudi memaki dalam bahasa jawa. Aku sedikit geli. Gedung ini kan beralamat dimana hampir semua penduduk provinsi ini menggunakan bahasa sunda dan kemungkinan makhluk halus di gedung ini juga berbahasa sunda. Apakah mereka paham? Haha.

***

Sudah dua menit berlalu. Kenapa malah aku yang ketakutan? Tidak ada suara dari dalam WC. Aku yang malah jadi panik dan ketakutan. Ditambah dengan desain WC yang remang-remang dan menakutkan seperti ini.

“Rud? Baik-baik aja kan, Lo?”

Kataku sambil membuka pintu WC dan beranjak masuk ke dalam. Tidak ada jawaban dan semua bilik WC seperti kondisi terakhir aku lihat.

“Rud, jangan main-main, Lo! Gue tinggal sendirian nih!”

Masih tidak ada jawaban. Aku pura-pura meninggalkan WC dan menanti salah satu pintu bilik WC terbuka. Aku menunggu sekitar satu menit. Tidak ada suara dari dalam bilik atau gerakan pintu. Aku akan mengecek kakinya saja, karena bagian bawah pintu bilik memang berlubang. Aku menundukkan kepala hingga sejajar lubang pintu bagian bawah.

“Bwhuaaa!”

“Sialan! Bangsat!”

“Hahahahaha. Kaget ya lo? Hahahaha.”

“Asem! Udah gue kira lo pasti ngerjain gue!”

“Hahahaha puas lihat wajah kaget lo!”

“Sialan”

“Hahahaha.. eh bentar, ada telepon dari Bang Kunis.. Ya, Bang?”

Aku benar-benar terjebak oleh tipuan kuno si Rudi. Gak nyangka dia bisa membohongi juga.

“Rey, Bang Kunis minta kita berdua turun, ke divisi bahan baku.”

“Ada apa lagi, Bang Kunis?”

“Entahlah, orang itu kan paling demen ngerjain anak baru. Lo lagi pake ngasih nomor gue ke dia.”

“Hehehe. Sori.”

***

Lift yang biasa dipakai ternyata sedang rusak. Aku dan Rudi terpaksa menggunakan tangga darurat buat turun. Gak apa-apalah cuma satu lantai ini. Tapi, tiba-tiba aku jadi ingin buang air kecil. AC kantor ini memang dingin banget dan bikin kepengen kencing terus.

“Eh, Rud, gue malah kebelet nih sekarang, lo ke Bang Kunis duluan ya.”

“Tenang aja, Rey. Lantai 3 mah gak ada WC terlarangnya hahaha.”

“Sial. Kalau dia nanya gue, bilang ke WC dulu ya”

Aku lebih suka WC di lantai ini. Cahaya dari luar dapat masuk melalui kaca jendela dan sedikit menerangi WC di ujung koridor ini. Saat aku masuk ke dalam WC, ada janitor yang mengelap kaca. Sangat berbeda dengan WC di lantai atasnya yang sunyi dan temaram.

“Anjrit! Sialan!”

Ada yang lupa menyiram air seninya di lantai dekat kloset dan sepatuku terlanjur menginjaknya.

***

“Eh, Bang. Kalau Divisi Bahan Baku ada di lantai 3 kan? Kok sepi di sini, Bang?”

“Iya, pakai aja liftnya sih.”

“Liftnya out of order bang.”

“Alasan, Lo. Tadi barusan aja gw pake lift.”

Ting.

“Tuh, bisa kan? kedengeran tuh suara liftnya. Buruan ke sini, gw butuh cepet!”

“Iya Bang, gw datang.”

“Aneh.. tadi padahal rusak. Lantai 3 ya……….. Mampus! Rey!”

***

“Mas, ini kok gak dibersihin. Kotor tuh di situ. Mas, masih ada bekas kencing noh di situ.”

“Mas? Oi”

“!?”

***

“Bang! Bantuin gue!”

“Kenapa lo?”

“Gue di toilet lantai empat, pintu toiletnya gak bisa kebuka. Si Rey ada di dalam, Bang!”

“Ngapain lo di situ? Iseng amat. Angker noh di situ!”

“Bang, plis bang. Temen gue kejebak di dalam, Bang!”

“Temen lo siapa? Si Andi? Jaka?”

“Rey, Bang! Rey!”

“Rey siapa? Gak ada karyawan baru namanya, Rey! Alasan aja, lo. Gue butuh dokumennya sekarang! Buruan!”

“Tapi.. Bang.”

Tut..tut..tut. Rey? Rey?

***

Sejak kejadian itu, gue sempetin ke psikiater untuk periksa kejiwaan gue. Cuma dikasih semacam pil aspirin dan disuruh istirahat. Gue coba jalani hidup dengan menyakinkan diri gue bahwa kemarin gue lagi stres karena work load yang banyak dan mental gue yang rada terganggu karena panik dan belum siap buat bekerja setelah lama menganggur.

“Rud! Gue duluan balik!”

“Iye, Bang!”

“Lembur, Lo?”

“Iya ada titipan Bos Budi belum kelar”

“Yo wes”

“Rud?”

Gue reflek noleh ke belakang ke arah suara yang manggil gue.

“Bwhuaaa!”

2 pemikiran pada “Prank

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s