Prank

‘Di salah satu sudut kantor ini, ada tempat yang kita sebagai karyawan tidak boleh berkata kasar, berperilaku tidak sopan, atau bermain-main, jadi saya harap dan minta teman-teman karyawan baru bisa menjaga perilaku sejak masa OJT dan selama bekerja di perusahaan ini’

“Gitu kata Bang Ojan, SPV OJT team 3.”

“Jadi kamu percaya dengan takhayul itu? Memangnya dimana lokasi tempat terlarang itu?”

“Dulu pernah nanya langsung ke Bang Ojan gak dijawab, tapi katanya di dekat WC karyawan di lantai empat, lantai ini.”

Aku dan Rudi sama-sama menoleh ke ujung ruangan. WC karyawan perusahaan multinasional yang didesain dengan cahaya temaram dan entah kenapa sangat sunyi. Aku sendiri malas buang air di sana karena suara apapun yang keluar dari bilik kamar mandi seakan memantul dan memunculkan gema kemana-mana. Karyawan perempuan yang bekerja di lantai ini lebih memilih turun ke lantai dasar dan menggunakan WC tamu di sana. Alasannya? Kebanyakan mengaku karena takut. Aku harap segera menyelesaikan OJT di divisi ini dan ditempatkan di divisi lain di lantai berbeda.

“Berani coba, Rey?”

“Hah?”

“Berani coba membuktikan takhayul itu, nggak?”

“Oke!”

“Beneran, Lo?”

“Lo yang takut sekarang, kan? Ayo, berani atau enggak?”

“Sialan, Lo. Ayo, gue yang masuk ke dalam dulu deh.”

Sejak pertama kali berkenalan dan kebetulan ditempatkan untuk OJT di divisi yang sama, aku sudah lumayan mengenal Rudi. Rudi tidak bisa berbohong. Bahasa tubuhnya sangat mudah terbaca. Ia sempat mengernyitkan dahi dan sekarang ia berkeringat dingin. Suaranya jadi sedikit tinggi saat mencoba menyakinkan lawan bicaranya dengan kebohongannya. Langkahnya juga tidak pasti dan tegas. Mirip seperti seseorang yang terbangun oleh suara keras di malam hari lalu mencoba menangkap si Maling yang masuk ke dalam rumah tapi penuh rasa ketakutan.

“Oke, gini, sekarang gue masuk, gue coba ngomong kata-kata kasar, lalu tunggu setelah 2-3 menit, gue keluar. Gimana?”

“Yakin lo, Rud? Kalau kejadian apa-apa, gimana?”

“Jyah, kan lo bilang juga tadi takhayul”

Rudi masuk ke dalam salah satu bilik WC. Aku menunggu di luar. Terdengar dari dalam suara Rudi memaki dalam bahasa jawa. Aku sedikit geli. Gedung ini kan beralamat dimana hampir semua penduduk provinsi ini menggunakan bahasa sunda dan kemungkinan makhluk halus di gedung ini juga berbahasa sunda. Apakah mereka paham? Haha.

***

Sudah dua menit berlalu. Kenapa malah aku yang ketakutan? Tidak ada suara dari dalam WC. Aku yang malah jadi panik dan ketakutan. Ditambah dengan desain WC yang remang-remang dan menakutkan seperti ini.

“Rud? Baik-baik aja kan, Lo?”

Kataku sambil membuka pintu WC dan beranjak masuk ke dalam. Tidak ada jawaban dan semua bilik WC seperti kondisi terakhir aku lihat.

“Rud, jangan main-main, Lo! Gue tinggal sendirian nih!”

Masih tidak ada jawaban. Aku pura-pura meninggalkan WC dan menanti salah satu pintu bilik WC terbuka. Aku menunggu sekitar satu menit. Tidak ada suara dari dalam bilik atau gerakan pintu. Aku akan mengecek kakinya saja, karena bagian bawah pintu bilik memang berlubang. Aku menundukkan kepala hingga sejajar lubang pintu bagian bawah.

“Bwhuaaa!”

“Sialan! Bangsat!”

“Hahahahaha. Kaget ya lo? Hahahaha.”

“Asem! Udah gue kira lo pasti ngerjain gue!”

“Hahahaha puas lihat wajah kaget lo!”

“Sialan”

“Hahahaha.. eh bentar, ada telepon dari Bang Kunis.. Ya, Bang?”

Aku benar-benar terjebak oleh tipuan kuno si Rudi. Gak nyangka dia bisa membohongi juga.

“Rey, Bang Kunis minta kita berdua turun, ke divisi bahan baku.”

“Ada apa lagi, Bang Kunis?”

“Entahlah, orang itu kan paling demen ngerjain anak baru. Lo lagi pake ngasih nomor gue ke dia.”

“Hehehe. Sori.”

***

Lift yang biasa dipakai ternyata sedang rusak. Aku dan Rudi terpaksa menggunakan tangga darurat buat turun. Gak apa-apalah cuma satu lantai ini. Tapi, tiba-tiba aku jadi ingin buang air kecil. AC kantor ini memang dingin banget dan bikin kepengen kencing terus.

“Eh, Rud, gue malah kebelet nih sekarang, lo ke Bang Kunis duluan ya.”

“Tenang aja, Rey. Lantai 3 mah gak ada WC terlarangnya hahaha.”

“Sial. Kalau dia nanya gue, bilang ke WC dulu ya”

Aku lebih suka WC di lantai ini. Cahaya dari luar dapat masuk melalui kaca jendela dan sedikit menerangi WC di ujung koridor ini. Saat aku masuk ke dalam WC, ada janitor yang mengelap kaca. Sangat berbeda dengan WC di lantai atasnya yang sunyi dan temaram.

“Anjrit! Sialan!”

Ada yang lupa menyiram air seninya di lantai dekat kloset dan sepatuku terlanjur menginjaknya.

***

“Eh, Bang. Kalau Divisi Bahan Baku ada di lantai 3 kan? Kok sepi di sini, Bang?”

“Iya, pakai aja liftnya sih.”

“Liftnya out of order bang.”

“Alasan, Lo. Tadi barusan aja gw pake lift.”

Ting.

“Tuh, bisa kan? kedengeran tuh suara liftnya. Buruan ke sini, gw butuh cepet!”

“Iya Bang, gw datang.”

“Aneh.. tadi padahal rusak. Lantai 3 ya……….. Mampus! Rey!”

***

“Mas, ini kok gak dibersihin. Kotor tuh di situ. Mas, masih ada bekas kencing noh di situ.”

“Mas? Oi”

“!?”

***

“Bang! Bantuin gue!”

“Kenapa lo?”

“Gue di toilet lantai empat, pintu toiletnya gak bisa kebuka. Si Rey ada di dalam, Bang!”

“Ngapain lo di situ? Iseng amat. Angker noh di situ!”

“Bang, plis bang. Temen gue kejebak di dalam, Bang!”

“Temen lo siapa? Si Andi? Jaka?”

“Rey, Bang! Rey!”

“Rey siapa? Gak ada karyawan baru namanya, Rey! Alasan aja, lo. Gue butuh dokumennya sekarang! Buruan!”

“Tapi.. Bang.”

Tut..tut..tut. Rey? Rey?

***

Sejak kejadian itu, gue sempetin ke psikiater untuk periksa kejiwaan gue. Cuma dikasih semacam pil aspirin dan disuruh istirahat. Gue coba jalani hidup dengan menyakinkan diri gue bahwa kemarin gue lagi stres karena work load yang banyak dan mental gue yang rada terganggu karena panik dan belum siap buat bekerja setelah lama menganggur.

“Rud! Gue duluan balik!”

“Iye, Bang!”

“Lembur, Lo?”

“Iya ada titipan Bos Budi belum kelar”

“Yo wes”

“Rud?”

Gue reflek noleh ke belakang ke arah suara yang manggil gue.

“Bwhuaaa!”

Kotak Pandora – Ceritera Agustus #13 Kotak yang ditinggalkan

Anak-anaknya telah meninggalkannya. Tidak ada satupun yang berdiri bersamanya di dalam ruangan itu. Ia benar-benar sebatangkara. Hanya sebuah kotak tua dan kokoh yang ditinggalkan untuknya. Anaknya yang paling bungsu mengatakan ia baru boleh membukanya setelah ia pergi. Kakaknya sudah pergi terlebih dahulu karena ia harus mengejar jadwal pengiriman. Kotak misterius seperti ini menimbulkan banyak pertanyaan baginya. Apa isi kotak ini? Apakah sebuah hadiah atau kejutan? karena kedua anaknya sangat jahil kepada dirinya. Bukan karena tidak sopan, tapi anak-anaknya sangat tahu ia kesepian di rumah dan saat mereka pulang adalah saat mereka bisa menghibur dirinya dengan kelakar atau tingkah laku yang mengundang gelak tawa. Kenapa mereka memberikan kotak ini dan kenapa harus dibuka setelah mereka pergi?

Ia mengangkat kotak tersebut dan mengguncangnya. Dari berat dan guncangan benda di dalam kotak, didalam kotak itu ada benda yang berjumlah banyak namun ringan. Ia meletakkan kembali kotak tersebut di meja dan pelan-pelan mengangkat tutup kotak. Di dalamnya ia menemukan sejumlah amplop beraneka warna. Ia ambil salah satu amplop di dalamnya.

“Ibunda, surat ini aku tulis jika aku merasa bersyukur atas apa yang engkau lakukan untukku.”

Surat dari si Adik.

“Terimakasih, Tuhan. Engkau telah menciptakan wanita tercantik seperti Ibunda. Selain ialah alarm bangun dan solat yang terbaik, ia juga dokter terbaik. Tidak pernah aku merasa kekurangan gizi apapun namun seiring bertambahnya beratku berkuranglah berat badannya. Seiring bertambah lebat dan hitam rambutku, berkurang dan menjadi peraklah sebagian dari rambutnya. Aku tahu ia mengalami masa sulit setelah ayah pergi tapi tidak pernah sekalipun aku kelaparan dalam satu hari. Aku tahu ia tidak lagi peduli akan malu. Aku tahu ia selalu memerah muka saat berkunjung ke saudara atau tetangga untuk meminta beras atau pinjaman uang. Aku tahu itu dan tidak akan pernah aku mengeluh di hadapannya.”

Air mata wanita itu berkumpul di pelupuk mata. Bertambahnya kata yang dibaca menjatuhkan bulir air lalu menjadi sungai keharuan di pipinya yang tak lagi halus. Ia membuka amplop lainnya dan menemukan tulisan tangan si Kakak.

“Ibu, surat ini aku tulis jika aku merasa berterimakasih atas apa yang kau korbankan untukku.

Ibu, aku pernah dengar ini dari ayah. Kau adalah sarjana terbaik di angkatanmu. Semua hadirin pernah berdiri dan memberikan tepuk tangan meriah ketika engkau memberikan pidato perpisahan di acara wisudamu. Bahkan rektor sendiri yang meminta foto bersama denganmu. Ayah tahu karena ayah salah satu yang bangga pernah hadir mendampingimu di saat itu. Tapi kau tinggalkan itu semua, karena prinsipmu yang seteguh karang, ingin membesarkan anakmu sendiri dan mengawasi setiap pertumbuhannya. Lalu, ayah pernah menunjukkan padaku, kumpulan artikel tentang mengasuh anak dan resep masakan sehat yang kau kumpulkan satu-persatu dari berbagai sumber. Kemudian aku tahu, kenapa kau begitu keras mengajari kami membaca, kenapa kau selalu memaksakan uang yang terbatas untuk tetap membelikan kami buku, kenapa setelah sepeninggalan ayah dan ekonomi sulit masih ada buku baru yang walaupun bekas tersedia di laci buku kita. Ibu, kau tahu? Engkau harus bertanggung jawab akan kecanduanku membaca, bertanggung jawab untuk kegemaranku menulis, keingintahuanku yang luar biasa dan kehausanku akan ilmu yang tidak pernah terpuaskan. Lalu aku, harus bertanggung jawab atas keriput-keriputmu, kelelahanmu, berkurangnya berat badanmu dan luka lecet di dengkul dan telapak kakimu karena beribadah dan berdoa yang lama. Semuanya untuk aku dan Adik.

Ibu, kau tahu? Ayah bilang kau adalah wanita paling ia cintai. Begitu juga dengan kami. Apa yang bisa kami lakukan selain menulis surat-surat ini, beribadah dengan khusyuk dan doa sepenuh hati, semua hanya demi membalas semua budimu.”

Ia dibuat menguras air matanya siang itu. Semua surat itu ditulis satu persatu oleh anak-anaknya. Jumlah surat yang begitu banyak makin membuat haru di dadanya.

“Ibu, ini adik. Ini surat lainnya yang aku tulis buat dibaca olehmu nanti. Kakak bilang ini adalah prasasti cinta kami padamu.”

Surat itu begitu sulit dibaca, tulisan si Adik saat ia masih sekolah dasar.

“Ibu, aku pernah kesal sama ibu. Maaf ya, Ibu. Tapi, masakan ibu, lebih enak dari buatan siapapun. Itu yang buat aku selalu cepat pulang ke rumah. Adik.”

Ia tersenyum. Ia seperti menemukan harta karun yang luar biasa. Semua surat itu adalah mata uang kasih sayang paling mahal yang pernah ia terima. Siang itu benar-benar ia habiskan untuk menikmati kebahagiaan.

***

“Kak, sudah sampai mana?”

“Sudah di pelabuhan. Sebentar lagi akan sampai tempat tujuan, tinggal tunggu kapal ferinya datang.”

“Ibu, bagaimana ya?”

“Tenang saja. Aku juga sudah menitipkan kabar ibu lewat tetangga-tetangga kita jadi jika terjadi sesuatu pada ibu, aku harap jangan, mereka akan menghubungi nomor kita.”

“Maksudku, ibu kesepian di sana..”

“Tenang, ingat kotak surat-surat kita? aku menyerahkannya pada Ibu.”

“Kotak yang mana?”

“Kotak yang surat-surat itu lho. Yang kotak tua, yang kita sembunyikan di loteng.”

“Kak!”

“Apa?”

“Itu tempat itu, Kak!”

“Tempat apa?”

“Itu!”

***

Di bagian bawah tumpukan surat ia menemukan sebuah majalah. Majalah yang cukup tua dan sedikit lapuk. Ia buka lembarannya. Memerah mukanya.

***

“Itu tempat aku menyimpan majalah dewasa, Kak!”

Si Tukang Ingkar Janji – Ceritera Agustus #12 Janji Diam-Diam

Aroma wangi nasi goreng memenuhi udara dapur pagi ini, setelah tiga bulan lamanya tidak ada kegiatan apapun di sini. Aku menghirup udara dalam-dalam, memenuhi seluruh rongga dadaku dengan aroma yang menghangatkan persendian tulang-tulang yang mulai menua. Sebuah janji aku ucapkan diam-diam, sambil memperhatikan tangan-tangan kecil itu menuangkan sendok demi sendok sarapan pagi ke beberapa piring yang berjejer. Aku tidak akan pergi terlalu lama lagi.

“Ayah! Hari ini mau berangkat kemana?” Anakku yang paling kecil menyadari kedatanganku.

“Hari ini, ayah tidak akan pergi.”

“Ayah.” Kakaknya seperti biasa tidak banyak berbicara hanya langsung memeluk seakan tidak ingin aku pergi lagi.

“Tenang. Malam ini siapa yang mau makan spaghetti bakso buatan ayah?”

“Aku, Yah!”

“Aku”

“Asik. Siapkan perut kalian ya! Kita makan sampai kenyang!”

“Gak jadi. Buatan ayah tidak enak”

Si Kakak pun seperti sebelum-sebelumnya hanya bicara ringkas dan ketus. Ia pun hanya melanjutkan memakan sarapannya. Haha. Aku tersenyum kecut. Si Kecil menempelkan kepala dan aku sudah tahu tanda-tanda apa ini. Ia akan bertanya,

“Yah, kapan ibu pulang?”

“Itu..”

“Dek, Ibu akan pulang saat ibu ingin pulang. Diamlah dan makan sarapanmu.”

“Ya, cepat makan dulu. Hari ini spesial, ayah akan antar kalian ke sekolah.”

Si kecil langsung menurut dan menyantap makanannya. Aku yakin si Kakak juga ingin menanyakan hal yang sama, hanya saja dia sudah cukup dewasa untuk menunjukkan kepada adiknya agar tidak sering-sering menanyakan padaku tentang ibu mereka.

***

“Dah, Ayah!”

“Ayah. Aku sekolah dulu.”

“Hati-hati! Jangan lupa nanti lensa kameranya dibersihkan ya!”

“Tuh, kata Ayah juga harus rajin-rajin dibersihkan, dek.”

Syukurlah mereka masih bisa melewati masa kecil yang biasa saja. Anak perempuan pertamaku walaupun dingin namun menjadi primadona di kelasnya karena cantik dan pintar. Lalu, anak bungsuku yang ceria dan energik, dengan kamera yang aku hadiahkan di ulang tahunnya ke delapan sudah memenangkan sejumlah kejuaran fotografi. Seandainya mereka bisa menjalani kehidupan yang lebih normal dengan kehadiran seorang.. ibu.

***

“Malam ini, tolong antarkan ke lokasi proyek dekat rumah sakit. Ini alamatnya. Tolong sesuai jadwal ya.”

“Pak, saya sudah janji dengan anak saya untuk malam ini..”

“Silahkan cari orang lain untuk tukar shift denganmu atau selesaikan sesegera mungkin. Mengerti?”

“… Baik.”

Aku membuka telepon genggam lipatku dan melihat nama kontak di sana. Pak Arief sedang mengantarkan ke Jawa. Sementara, Pak Budi berangkat sejak malam ke Bogor. Yang lainnya juga sedang in-charge mengantar semen keluar kota. Sesuai permintaan, aku mendapatkan tugas mengantar di dalam kota tapi waktunya, aku sudah janji dengan kedua anak itu.

Sebuah pesan masuk ke dalam telepon genggam ini. Dari si Kakak,

‘Yah. Aku bohong. Buatkan spagheti bakso terenak buat aku dan adik.’

Aku tersenyum. Sambil menunggu shift nanti malam, aku beranjak ke pasar terdekat membeli bahan-bahan untuk spagheti terenak buatanku.

***

“Sudah sampai di rumah?”

“Sudah”

“Adek sudah kerjain PR?”

“Sudah”

“Kakak sudah belajar buat ulangan besok?”

“Sudah”

“Trus, hmm..”

“Aku tunggu yah. Cepat pulang. Hati-hati di jalan. Pasang sabuk pengamannya.” Telepon dimatikan. Siapa yang mengajarkan anak ini menjadi begitu ketus ya? Gemas rasanya dan tidak sabar untuk pulang. Aku menaikkan bahan-bahan masakan dan menaruhnya di samping kursi supir. Aku tersenyum melihatnya sangat kontras dengan dashboard dan ruang sopir truk semen ini yang sangat macho. Mesin truk kemudian menyala. Siap untuk mengantar ke tempat tujuan.

***

‘Ting-tong’

“Itu pasti ayah!”

“Tidak mungkin. Ayah itu tukang ingkar janji.”

“Aku bukakan ya, Kak! Ayaaah”

“….”

“Dek? Siapa yang datang? Dek?”

“….”

“Ibu?”

***

“Halo. Rumah Sakit Jiwa Akihabara. Ada yang dapat saya bantu?”

“Bisa sambungkan saya dengan salah satu pasien?”

“Maaf. Kami tidak dapat menyambungkan anda dengan pasien kami. Anda tahu kan pasien kami..”

“Kalau begitu, tolong sambungkan ke ruangan dokter.”

***

“Aku mohon. Kembalilah. Demi anak-anakmu. Mereka sangat kehilangan kamu.”

“Setiap hari mereka selalu menanyakan kemana kamu pergi sejak saat itu.”

“Dinda, jawab aku. Tolong kembalilah. Aku akan menjemputmu begitu kau bilang iya..”

“Dinda..”

Lalu, tidak ada suara dari ujung sana. Dan tidak akan pernah ada. Hingga aku sadar, sebuah mobil memaksa menerobos lampu merah di depan sana dan trukku tidak sempat menghindar. Daripada mengorbankan orang banyak, aku tidak bisa membanting stir dan memilih menabrak mobil ini. Sesaat sebelum aku hilang kesadaran, aku yakin bahwa aku benar, sayur-sayuran tidak pantas dengan ruang sopir di dalam truk ini dan sabuk pengaman… walau ketus dia selalu benar. Si anak satu itu.

***

“Ibu.”

“Maafkan ibu. Ibu pulang, Nak.”

‘Sebuah kecelakaan terjadi tepat di perempatan sebelum rumah sakit bersalin di jantung kota. Diduga tindakan ceroboh pengemudi mobil minibus yang memaksa menerobos lampu merah memicu tabrakan dengan truk pengangkut semen. Saat ini korban tewas yang teridentifikasi baru dua orang yaitu kedua supir dari masing-masing kendaran yang beradu.’

“Semen. Ayah.”

“Jangan masuk, Kak.”

“Ayah.”

“Jangan!”

“Ayaah!!”

Pahlawan – Ceritera Agustus #11 Dua Puluh Menit untuk Hidup

Sial si Kakek ini. Kenapa dia mengatakan hal itu? Aku belum ingin mati. Beberapa pemuda mulai bergerak ke arahnya seperti yang ia perintahkan. Tenang, Gayus. Selalu ada cara untuk melarikan diri. Kode Jingga artinya musuh berjarak tidak lebih dari 20 menit dari tempat ini. Cukupkah bagiku untuk melarikan diri? Tapi, saat ini aku harus menjaga harga diriku di tempat ini. Mana mungkin aku terlihat ikut melarikan diri bersama yang terluka, wanita dan anak-anak?

“Gayus, kau ikut kan?”

“I-iya”

Sial. Aku dan mulut besarku. Saat ini, anak si orang tua ini juga memperhatikanku, aku tidak bisa lari. Ah! Sebuah ide terlintas di otakku. Begitu saja. Betul, begitu saja. 10 menit cukup untuk putar arah. Aku ikuti dulu rombongan ini kemudian putar arah ke arah yang lebih aman.

“Pakai ini, Gayus. Ini agar kita tidak tersesat dan tidak saling meninggalkan,” kata seorang pemuda kepadaku.

Apa ini? Sebuah tali penghubung antar orang dan orang lainnya?

“Ah, apakah ini tidak bodoh? Jika salah satu tertangkap, kita akan tertangkap semua.”

“Gayus, sejak awal ini bukan misi untuk hidup. Kita adalah tumbal bagi mereka yang akan melarikan diri.”

Tumbal? Sejak kapan aku setuju menjadi tumbal? Aku seorang pembangkit semangat dan proklamator kemerdekaan bangsa ini nanti. Bagaimana aku bisa mati saat ini? Dasar orang-orang tidak waras. Mereka berpikir sangat pendek, lain dengan cara berpikirku.

“Satu menit lagi, persiapan terakhir dan kita berangkat! Gayus, kenakan tali itu.”

Aku memakai tali penghubung ini sambil memaki si orang tua itu dalam hati. Kalau aku mati atau kemerdekaan bangsa ini tidak tercapai, dia yang harus disalahkan.

“Berangkat!”

Sial. Sial. Sial.

***

Hahaha. Ternyata bukan aku saja yang berniat melarikan diri. Seorang pemuda di depanku memutuskan tali dan mengajakku berputar arah. Dia membawa pisau lipat di dalam bootnya selama ini dan sebelum berangkat tadi dia menyimpannya di balik lengan baju. Sebelum kembali ke tempat semula, kami berhenti menunggu rombongan evakuasi kabur terlebih dahulu.

“Cerdas sekali!”

“Hahaha. Aku sudah lihat mimik ketakutanmu tadi, Gayus. Kau juga tidak ingin mati, kan? Hahaha.”

“Yah, apapun lah. Yang penting kita selamat. Pisau lipatmu bagus sekali, merek apa? Boleh kulihat?

Ia menyerahkan pisau lipatnya padaku. Aku perhatikan begitu mengkilat dan tajamnya pisau ini. Sepertinya sering ia asah dengan baik. Sangat tajam.

“Ah, apakah rombongan evakuasi sudah berangkat?”

“Aku lihat dulu, Gayus. Setelah mereka berangkat, kita menyusul mereka dari belakang. Tapi, apa ya kira-kira alasan kita nanti kepada mereka? Eh, Gayus?”

Dengan pisau lipat miliknya, aku gorok leher pemuda yang bahkan belum aku tahu namanya itu. Lalu, aku tikam berkali-kali ke dadanya hingga ia tidak bergerak dan kehabisan nyawa. Ini pengorbanan yang penting, bung. Kau harus mati demi si Pahlawan atau siapa ya namamu tadi? Aku bisa menyebutkannya sebagai pahlawan anumerta di pidato kemerdekaan nanti. Hahaha. Tampak di pandangan, rombongan evakuasi sudah berangkat. Si gadis itu juga mengikuti rombongan tersebut. Setelah jaraknya cukup aku mengikuti di belakang mereka.

***

“Mereka ditembaki begitu saja. Lalu darah mereka berjatuhan di pakaianku seperti ini. Mereka lalu memutuskan taliku dan menyuruhku pergi. Aku penting bagi kemerdekaan bangsa ini, kata salah satu pemuda itu. Di sinilah aku sekarang. Padahal aku ingin bertempur bersama mereka.. huhuhu. Mereka lah pahlawan sesungguhnya.”

Bagus Gayus. Kau layak dapat penghargaan atas aktingmu barusan. Penduduk desa revolusi memapahku dan menepuk pundakku. Mereka tampak terisak dan menangis atas cerita dustaku barusan.

“Ah, lihat itu! Seorang penyintas lainnya!”

Aku menengok ke arah belakang. Gadis itu! Dia ternyata masih hidup. Aku pikir dia tersesat atau berhasil ditangkap prajurit. Mungkin ia mewarisi ketangguhan ayahnya. Ia dipapah ke arahku.

“Gayus, syukurlah kau pun selamat.”

“Iya, kau juga, harapan ayahmu dikabulkan Tuhan.”

Apakah hanya perasaanku tapi sorot mata gadis itu sempat berbeda dan menjadi sangat tajam beberapa detik saja?

“Tapi, melihatmu di sini berarti ayah tidak berhasil melarikan diri dan bertahan hidup.”

“Begitulah, aku ikut berduka sedalam-dalamnya untuk ayahmu”

Tidak. Gadis ini berbahaya. Aku bisa merasakan aura membunuh yang sangat kuat darinya. Apakah dia tahu yang sebenarnya?

***

Penduduk desa ini luar biasa! Mereka bahkan memberikanku kamar terpisah dan makanan yang luar biasa lezat. Tidak sia-sia aku melakukan hal tadi siang itu. Tapi, aku mendengar suara seseorang mendekati bilikku.

“Siapa!”

“Ini aku, Gayus..”

Ternyata gadis itu dan ia tampak ketakutan.

“Gayus, aku masih belum bisa melupakan hal tadi siang. Aku baru saja kehilangan ayahku dan tidak ada di desa ini yang aku kenal, so.. apakah aku bisa tidur bersamamu? malam ini saja?”

“Sini, gadis. Mendekatlah.”

Aku perhatikan kedua tangannya, ia tidak membawa alat atau apapun yang bisa digunakan sebagai senjata. Saat ini dia adalah kucing manis lemah yang ingin dimanja.

“Boleh?”

“Sini. Biarkan aku memelukmu dan memberimu kenyamanan.”

Ia pun tertidur di sampingku. Tubuhnya memang masih bau keringat namun siapa yang bisa menolak seorang gadis tidur di sampingmu semalaman? Saat sedang kalut seperti ini, apapun yang kulakukan padanya bisa dianggap pelampiasan stres dan tidak akan ada yang.. ugh. Leherku dijerat begitu cepat dengan benang tipis hingga aku tidak sempat melawan.

“Mati kau! Kau tidak boleh hidup! Demi Ayah dan teman-teman yang kau tinggalkan!!”

Dia tahu peristiwa hari ini! Aku mengeluarkan pisau lipat dari balik kantongku. Menusuk gadis itu berkali-kali. Hingga ia melemahkan kekuatan jeratannya. Aku terbangun mencari semacam kain untuk menutupi dan menghentikan laju darah yang keluar dari leher. Hahaha aku selamat. Darah tidak keluar banyak dan ugh.. benang itu juga beracun. Sialan. Aku belum boleh mati.

***

“Ternyata gadis itu mata-mata musuh! Dia menjerat Gayus tadi malam.”

“Sayang sekali. Padahal, ia orang yang baik.”

“Kita lanjutkan perjuangan Gayus! Lawan penjajah!”

“Lawan! Merdeka atau Mati!”

“Hidup Gayus, sang pahlawan!!”

Finding Ariel – Ceritera Agustus #10 – Tenggelam

Sambil menyelam minum air. Robi merasa dirinya perlahan-lahan tenggelam. Sambil menyelam minum air, pikirnya cepat-cepat ketika merasa nafasnya mulai sesak karena kekurangan oksigen. Saat itu, tiba-tiba saja, Robi merasa dirinya dapat bernafas dengan leluasa. Ia menggoyangkan tubuhnya dan menyadari sebuah perubahan terjadi pada dirinya. Astaga, pikirnya takjub, ternyata benar mantera yang diberikan kepadanya. Saat itu ia teringat satu hal lagi, dia lupa menanyakan mantera untuk kembali menjadi manusia!

Dasar kakek bertanduk rusa sialan. Kutuknya dalam hati. Kakek itu tidak sekalian memberitahunya mantera untuk menjelma kembali sebagai manusia. Karena sudah terlanjur basah, ia pun melanjutkan berenang ke dalam lautan. Di ujung palung ia menemukan istana bergaya oriental. Ia mengetuk pintu istana tersebut dengan kepalanya. Kedua tangannya berubah menjadi sirip kanan dan kiri serta kakinya menjadi satu menjadi sirip besar sehingga ia kesulitan untuk mengetuk. Seorang putri duyung berwajah asia, dengan selendang bening menjuntai di belakang kepala dari pundak kiri ke kanan menyambut Robi.

“Permisi, apakah ini istana Raja Triton?”

“Sebelum aku jawab, pilih dulu di antara dua kotak ini, mau yang kotak kecil atau kotak besar?”

Robi menatap putri duyung tersebut dengan pandangan apa-sih-gw-yang-nanya-kok-malah-ditanya-balik-dan-suruh-milih-beginian. Agar tidak membuang waktu, Robi memilih kotak yang besar dan diminta membuka kotak. Ia pun membuka kotak dan boom! Tumbuh keriput di wajah robi. Ia menjadi lebih tua dari sebelumnya. Putri duyung itu tertawa jungkir balik. Hal ini wajar karena mereka sedang di dalam air. Kemudian, dengan sedikit kesal ia meninggalkan putri duyung tersebut. Harusnya ia tahu, dari penampilan putri duyung yang ia kejar dan nama ayahnya, Raja Triton, ia bukan dari laut ini. Ia harus berenang lebih jauh ke utara.

***

3 Jam berenang, Robi masih belum menemukan apapun. Tidak ada lagi tanda-tanda istana bawah laut. Tanpa ia sadari, sejenis ikan tang berwarna biru terang dengan garis hitam dari mata ke ekor melewati Robi. Ikan itu lalu berbalik ke arah Robi, bertanya,

“Apa kau sedang kesulitan?”

“Ya, apakah kau tahu dimana..”

“Hei, ikan..hmm..dugong raksasa, saat hidup membuatmu terjatuh, kau ingin tahu apa yang harus kau lakukan?”

“Gak, aku cuma pengen tahu dimana..”

Ikan itu mulai bernyanyi.

“Tetaplah berenang. Berenang. Teruslah berenang. Berenang. Berenanglah teruss. Apa yang kita lakukan? berenang, berenang, berenang~”

“Oh, sial. Jangan bernyanyi”

“Hahaha~. Aku suka berenang. Saat kamu ingin berenang, kamu ingin berenang~”

“Sekarang, lagu itu melekat di kepalaku.”

“Oh, maaf.. apa yang kau butuhkan tadi?”

“Aku ingin tahu dimana istana raja Triton.. Apa kau tahu?”

“P. Sherman, 42 Wallaby Way, Sydney!”

“Itu dimana?”

“P. Sherman, 42 Wallaby Way, Sydney!”

Robi menepuk dahinya dengan sirip tapi tidak kena karena siripnya pendek. Ia pun bertambah depresi. Ditinggalkannya ikan tang berwarna biru itu yang masih mengulang-ulang alamat tersebut.

Kali ini entah tenaga darimana ataukah karena selama perjalanan ia memakan sejumlah plankton berwarna hijau bermata satu yang jahat, ia berenang dengan tenaga penuh ke utara. Ke laut atlantik. Kali ini ia yakin karena ia ingat putri duyung itu berambut merah, redhead, bersuara serak dan bermata hijau zamrud. Sebentar, jika zamrud, apakah dia seharusnya berenang ke khatulistiwa? Tidak. Seharusnya ia lebih yakin, Robi kamu tidak istiqomah dengan tujuanmu sendiri. Sadar akan hal itu, ia kembali ke arah utara. Saat itulah, tepat di depan matanya, tampak sebuah istana yang sepertinya yang ia cari selama ini muncul dari balik gunung es dan reruntuhan kapal.

Penuh rasa haru dia ketuk gerbang. Seorang tampak turun dari atas serambi istana menuju gerbang. Akankah ia kembali bertemu Ariel, putri duyung yang pernah menyelamatkannya di laut dahulu kala. Terdengar suara dari balik gerbang.

“Robi kah itu?”

“Iya”

“Rob..”

“Iya, Ariel..”

“Maafin aku.”

“Ariel..”

“Iya, Rob..”

“Aku kangen.”

“Rob..”

“Iya, Ariel?”

“Do you want to build a snowman?”

“Eh? Salah cerita, Ariel sayang. Ariel..”

“Iya, Rob?”

“Ada Ruhana? Kapan kita jualan bubur?”

“Itu mah, engkongnya Robi yang tukang bubur naik gaji kan?”

“Eh ketahuan, keluar dong..”

“Aku gak bisa buka gerbangnya, aku jadi putri duyung, tanganku berubah jadi sirip, dobrak aja. Kan ada tulisannya di situ.”

Robi mundur dan benar dia temukan tulisan ‘silahkan dobrak aja gerbangnya’. Didobraklah pintunya. Pintu gerbang terbuka. Halaman istana terlihat, tapi Ariel tidak ada di balik itu. Hanya ada ikan dugong, berambut merah. Oh, iya. Kan putri duyung. Robi pun menepuk dahinya dengan siripnya lagi tapi tidak kena.

Begitulah, petualangan Robi, mencari Ariel. Karena tidak bisa kembali menjadi manusia, mereka pun hidup bahagia berdua sebagai sepasang dugong. Selamanya. Selamanya.

***

“Kek, kok gitu akhir ceritanya?”

“Ya, kan tadi kata kamu terserah kakek..”

“Kakek ngasal!”

“Mengarang bebas, woo hoo!”

“Sekarang kita kemana lagi, Kek?”

“Bebas! Hahahaha.”

Terbangun – Ceritera Agustus #9 Terbangun

Semua putih. Menyilaukan. Bahkan cahaya terang itu menembus selimut putih yang menutupi wajah dan tubuhku. Aku menyingkirkan selimut tersebut, mencoba menegakkan badan untuk duduk dan mengetahui aku ada di mana. Setelah mataku beradaptasi dengan cahaya, aku memperhatikan ruangan tempatku berada. Bau obat yang menyengat, kotak-kotak dan lemari besi serta suhu ruangan yang dingin juga lembab. Aku tahu aku terbangun dimana, ruang jenazah.

Di sampingku, seseorang yang sama baru saja terbangun. Hampir saja aku menjerit ketakutan tapi wajahnya tidak tampak seperti mayat hidup. Ia hanya “terbangun” sama seperti diriku. Begitu dia menemukan diriku terbangun di sampingnya, ia bertanya hal yang sama dengan yang ingin kutanyakan pada dirinya.

“Mas, kita ada di mana?”

Aku menggeleng. Kemudian, merubah posisi dudukku sehingga kakiku bisa menjuntai ke bagian samping tandu… err.. mayat ini. Ia ikut bangun dan merubah arah. Aku bisa melihat lebih jelas wajah dan profil wajahnya. Sekilas ia mirip sepertiku.

“Aku juga baru saja terbangun sepertimu.”

“Apakah ini semacam trik atau jebakan seseorang kepada kita?”

“Entahlah. Apakah kau memiliki benda semacam jam untuk menunjukkan waktu?”

Ia merogoh ke dalam celananya dan mengeluarkan benda aneh semacam cermin atau alas bedak. Dengan sapuan jari, benda itu bercahaya dan menampilkan sesuatu.

“Jam 11.31 malam, tanggal.. hah?”

“Tanggal berapa?”

“16 Agustus 2015. Itu 25 tahun yang lalu!”

Tidak. Itu bukan 25 tahun yang lalu. Aku ingat, aku mengalami kecelakaan itu tepat di tanggal ini tapi 2015 adalah 25 tahun di masa depan.

“Coba kau ingat apa yang kau lakukan terakhir kali sebelum ini? Aku ingat saat itu aku sedang menyetir dan sebuah truk bermuatan penuh menabrakku dari samping.”

“Saat itu aku sedang mengetik di apartemen dan aku sepertinya tertidur begitu saja.. ah! aku lupa mematikan rokokku! Tapi… tidak ada luka bakar di tubuhku.”

“Begitu juga denganku, tidak ada luka atau lecet sedikitpun.”

Aku masih saja memperhatikan sudut ruangan, mencari benda semacam kamera atau cctv. Siapa tahu ini adalah semacam jebakan konyol di TV atau rekaman reality show. Aku mencoba bangun dan berpindah dari tandu ini tapi ternyata kakiku masih lemah sehingga aku hanya terjatuh di samping tandu.

“Jadi, kau terbangun dari 25 tahun yang lalu dan aku terbangun dari 25 tahun yang akan datang. Seperti apa 25 tahun yang akan datang?” tanyaku agar kami bisa menunggu saat tungkai kaki kami bisa kembali kuat untuk berdiri.

“25 tahun yang akan datang? tahun 2040 adalah masa digital, teknologi umat manusia mencapai masa jayanya di tahun ini eh tahun itu. Sepertinya kamu tidak mengetahui benda ini ya? ini namanya iCall 24s, semua orang di tahun itu memiliki ini. Pemerintah mewajibkan penggunaan iCall sebagai alat pengganti KTP. Setiap kali perusahaan Banana mengeluarkan tipe baru, kamu bisa menukarkan iCall lama dengan yang baru atau jika belum punya, kamu bisa menukarkan kartu KTP lama dengan iCall yang terbaru.”

“Banana? bukankah perusahaan itu milik asing?”

“Tahun 2016, negara kita membeli sebagian besar sahamnya dan menerapkan program iCall untuk warga negaranya, negara lain pun mengikuti program tersebut dan menjadikan kesuksesan investasi terbesar bagi negara kita.”

“Wow. Sungguh suatu prestasi luar biasa bagi presiden Joko.”

“Bukan, bukan. Presiden kita bukan presiden Joko lagi saat itu. Akhir tahun 2015, kudeta dilancarkan mantan calon presiden sebelumnya kepada presiden Joko namun digagalkan oleh Korps Banteng yang dipimpin Ibu Puan Maharatu, anak perempuan mantan presiden kita sebelumnya, Ibu Megaratu. Atas jasa-jasanya, Ibu Puan pun diangkat menjadi presiden, bayangkan! dari seorang menteri menjadi presiden dan menyelamatkan sebuah negara pula!”

Aku seperti merasakan dejavu dengan kejadian ini. Teringat sebuah peristiwa sebelas maret di masa jauh sebelum itu. Ah mungkin hanya perasaanku saja yang mengkait-kaitkan.

“Tapi beredar teori konspirasi, penerapan iCall ini untuk memata-matai warganya. Di salah satu fitur alat ini ada pengenal sidik jari yang disambungkan dengan data di E-KTP sebelumnya dan konon data telepon dan data browsing di internet kita dicatat. Menakutkan ya?”

“Seperti yang aku sering lihat di film-film hollywood di masaku. Hollywood masih ada?”

“Bangkrut, mas. Masa digital dan pembajakan tumbuh beriringan. Sehebat apapun polisi di dunia maya selalu ditaklukan oleh grup anonimus. Pembajakan tumbuh subur, industri sebesar hollywood pun akhirnya menyerah.”

“Wow”. Aku tanpa sadar langsung bertepuk tangan. Masa depan jadi seperti yang diramalkan di film-film di jamanku. Penuh intrik, canggih, dan ketidakpastian. Siapa yang bisa meramalkan Hollywood bisa gulung tikar?

“Lalu, bagaimana di jaman kamu?”

“Jamanku? Di jamanku masih ada buku, koran, dan pesawat telepon. Tidak ada hal yang aneh menurutku. Waktu itu presidennya masih Pak Joko dan aku tidak tahu apakah mantan calon presiden yang gagal melawan Pak Joko yang melakukan kudeta di masamu.”

“Oh Pak Prabianto? Bukan, yang melakukan kudeta yang satunya lagi, yang dulunya berkubu dengan Pak RT, yang salah satu pemilik media itu. Bapak siapa itu.. Wiradiguna ya?”

Oh, aku kira. Hahaha.

“Tapi, aku penasaran seperti apa pesawat telepon? apakah benda itu punya sayap seperti pesawat pada umumnya?”

“Bukan. Pesawat telepon adalah cara kami menyebut telepon yang terletak di meja. Dia tidak mudah dibawa kemana-mana dan tersambung dengan kabel.”

“Ah.. tidak praktis yah?”

“Yah, tapi ada kenikmatan sendiri memlintir tali kabelnya hahaha.”

“Gak ngerti..”

“Ya sepertinya kamu tidak paham bagaimana rasanya. Apakah buku juga tergerus era digital?”

“Buku berubah seperti ini..”

Ia membuka perangkat digitalnya yang tadi dan dari alat tersebut muncul tampilan semacam hologram yang menyerupai buku. Halamannya akan berpindah saat ia berdehem, bersiul atau menggerakkan telunjuknya. Sangat praktis! Tapi..

“Tapi.. apakah kamu pernah tahu wangi sebuah buku ketika dikeluarkan dari plastik pembungkusnya?”

“Plastik dibatasi penggunaannya pada tahun 2020 oleh WHO. Akibatnya dunia kami saat itu lebih bersih dan sampah berkurang drastis. Buku pun ikut dirubah gaya penerbitannya sehingga hanya diperbolehkan terbit secara digital. Baru pada 2023, semua buku di dunia telah dibuatkan versi digitalnya dan versi terbitnya.. ah itu juga memunculkan teori konspirasi lain. Kata teori itu, versi asli buku disimpan oleh pemerintah dan versi digital yang baru telah difilter oleh pemerintahan anyar. Aku banyak tahu seperti ini karena sering meretas ke situs bawah tanah dan forum revolusi. Ah! apa gara-gara itu aku seperti ini sekarang?”

Aku teringat kembali pada keadaan kami sekarang. Aku menggerakkan kedua tungkai kaki. Bagus, keduanya sudah memiliki kekuatan. Kami menjadi waspada saat mendengar kenop pintu seperti dibuka seseorang dari luar. Aku perintahkan kepada anak itu untuk bersembunyi. Seseorang masuk ke dalam ruangan.

“Aaah.. apakah kalian sudah bangun?”

“…”

“Aku tahu kalian bersembunyi di sana. Aku juga mendengarkan pembicaraan kalian dari tadi. Ayolah keluar, jangan persulit kerjaanku.”

Kami keluar perlahan. Seseorang itu adalah laki-laki berambut hitam panjang ikal sebahu, mengenakan jaket palka warna coklat dan jeans sobek-sobek di lutut.

“Apa dari kalian ada yang membawa rokok?

Kami berdua serempak menggeleng.

“Ah kalian membosankan.”

“Tuan, sebenarnya dimana ini?”

“Ini, bagaimana ya, ini alam kematian.”

“Lho kok, aku kembali ke masa 25 tahun yang lalu dan dia ke masa 25 tahun mendatang?”

“Kata siapa alam kematian harus ikut aturan waktu kalian?”

Oh, iya juga. Alam itu kan alam di luar nalar kami, umat manusia.

“Nah, nah. Kalian punya cerita apa lagi? Yuk bercerita padaku. Aku bosan nih. Jangan cerita padaku tentang hal membosankan lagi ya?”

“Ah! Tuan, apakah kau pernah mendengarkan teori konspirasi yang satu ini? Apakah kau pernah lihat benda seperti ini di alam kematian?”

“Woohoo! Ayo cerita apa? Teori apa?”

Kami berdua pun mengikuti laki-laki itu tanpa perlawanan. Terus berjalan ke sebuah lorong bercahaya. Sepertinya alam kematian tidak terlalu membosankan jika ada temannya seperti ini.

Kisah Seorang Admin – Ceritera Agustus #8 Ingin Rasanya

Vira mengamati kedua anak kucing yang sedang asyik bermain-main. Menggemaskan, pikirnya sambil tersenyum. Ingin rasanya dia menggapai mereka lalu mulai menguliti kulit-kulit berbulu lembut itu. Apa rasanya? Tatapannya lalu beralih ke dua sosok yang saling berpandangan dengan mesra, seakan dunia tak berpenghuni selain mereka. Indahnya, dia tersenyum lagi. Ingin rasanya dia mencungkil dua pasang mata itu lalu memainkannya di telapak tangannya. Bagaimana rasanya? Sudahlah, Vira menggelengkan kepala, membuka ransel yang tergeletak di sampingnya. Ia ke taman ini untuk makan siang. Jauh-jauh dari teman-teman kantor yang selalu kepo, “Makan siang apa hari ini?” Katanya meniru suara cempreng salah satu dari mereka sambil mengeluarkan bekalnya dan bersiul-siul kecil, “Kalau saja mereka tahu…” Dia tersenyum lagi. Seorang perempuan lewat, dan membalas senyumnya. Vira memperhatikan bibirnya. Cantik sekali, pikirnya sambil tersenyum. Ingin rasanya mencium bibir itu dan lalu merobeknya dengan gunting.

Tiba-tiba Vira tampak terdiam, badannya kaku. Matanya menatap kosong ke depan lalu bergidik dan tampak kelelahan.

“Sial, aku lengah”. Vira berbicara sendiri. Dibukanya lembar teratas roti yang ia pegang dan kemudian melemparnya jauh-jauh. Dari dalam roti, potongan jari telunjuk manusia menggelinding keluar. “Hentikan ini, Kak Vina!” Ia berteriak entah kepada siapa. Sejumlah orang berhenti dan melihatnya karena hanya ia yang duduk di tengah taman. Vira yang sadar diperhatikan kemudian menenangkan diri kembali. Diambilnya cermin dari dalam tas ranselnya. Dari bayangan di cermin tampak seseorang yang mirip Vira namun tersenyum menyeringai. Muncul sebuah suara dari dalam benaknya, “Aku hanya ingin bersenang-senang. Hidupmu membosankan!. Sayang sekali hanya kau yang diberikan kesempatan hidup oleh Tuhan dan aku yang mati.” Tidak ingin diperhatikan lagi oleh orang-orang, Vira membalas suara tersebut dengan suara pelan, “Kak, jangan ganggu hidupku. Aku ingin hidup normal. Hentikan semua ini.” Bayangan di cermin hanya tersenyum dan tidak membalas. Vira lalu memasukkan cermin tersebut kembali ke dalam kaca dan kembali ke kantor.

***

“Vira..”

“Ya?”

“Hmm, kalau kau tidak ada jadwal atau kesibukan yang lain, aku punya dua tiket menonton.”

“Malam ini? Aku sepertinya sibuk melanjutkan mengedit naskah dan sekarang aku kebagian jadwal meng-admin blog komunitas fiksi yang pernah aku ceritakan itu. Maaf.”

“Oke. Nevermind. Ehm, mungkin lain kali ya?”

“Iya, lain kali saja. Maaf ya.”

“Gak apa-apa. See you.”

Vira kembali duduk di kubikelnya. Memegang kepala dan menyesal menolak ajakan Rey. Seseorang di kantor ini yang menjadi alasannya selalu datang dan tidak pernah cuti. Tapi, ini juga demi kebaikan Rey, kata Vira kepada dirinya sendiri. Ia lalu melanjutkan melihat layar monitor di hadapannya.

“Ah, Rey!”

Laki-laki itu berhenti berjalan dan tidak jadi masuk ke lift.

“Ya?”

“Jam berapa? Aku mungkin bisa sedikit terlambat dan meluangkan waktu untuk menonton malam ini. Sekali-kali aku ingin refreshing.”

Raut muka Rey berubah dan kembali menuju kubikel Vira.

“Jam 8. Aku jemput ke apartemenmu.”

“Oke. Aku tunggu kamu ya.”

“Iya!”

Rey menyerahkan tiket menonton itu, berbalik ke arah lift dan tampak kegirangan. Di dalam kubikel itu, pada cermin yang diletakkan di sudut, tampak Vira sedang berteriak namun tidak ada suara yang keluar dari sana. Pemilik kubikel itu kembali duduk dan menatap ke cermin sambil mengacungkan tiket.

“Hidupmu perlu sedikit berwarna, Vira.”

***

Di dalam kamar tidur di apartemennya, Vira tampak mondar mandir di depan cermin dan berbincang dengan seseorang di dalam cermin.

“Sekarang, apa yang harus aku lakukan, Kak?”

“Tenang. Pilih saja pakaian yang sedikit provokatif. Pilih warna merah, laki-laki suka warna merah.”

“Aku gak bisa. Aku akan batalkan saja sekarang. Aku takut..”

“Takut apa? Takut aku akan membunuh pangeran kuda putihmu itu?”

Vira membalas dengan lemah.

“Iya.”

“Aku mungkin menikmati membunuh dan menyiksa orang-orang. Lalu memutilasi, menguliti, memasak dan mengunyah daging mereka. Tapi, mereka kan cuma orang asing bukan pria idamanmu, betul?”

“Tapi..”

Suara pesan masuk ke dalam handphone milik Vira yang disimpan di atas kasur. Keduanya mengalihkan pandangan ke benda tersebut.

‘Aku sudah berangkat dari rumah. Siap-siap.’

Vira melihat ke belakang, ke cermin. Berharap kakaknya tidak mengetahui siapa pengirim pesan. Ia kemudian memulai menulis pesan balasan.

‘Tidak jadi. Aku tiba-tiba terkena demam. Maaf.’

Hanya tinggal menekan tombol send. Tapi jempol berubah arah dan menekan tombol delete lalu mengetik pesan baru.

‘Aku tunggu. Cepat, keburu malam. Aku juga sudah tidak sabar.’

Send. Lagi-lagi Vira lengah dan tubuhnya dikuasai lagi.

***

‘Ting-tong’

Rey menanti di depan pintu. Di balik badannya, ada buket bunga untuk perempuan yang satu ini. Tidak lama menunggu, kenop pintu bergerak dan daun pintu terbuka.

“Ah, kamu sudah datang. Maaf, aku baru selesai mandi.”

Di hadapannya, berdiri seorang perempuan yang hanya mengenakan handuk dan rambutnya masih basah. Rey menelan ludah dan tidak bisa berkata melihat pemandangan tersebut.

“Apa itu, di punggungmu?”

Rey yang sadar lalu menyerahkan buket bunga tersebut kepadanya. Karena tangan yang menahan handuk digunakan untuk menerima bunga, helai handuk itu terjatuh perlahan.

“Ups”

Vira menahan jatuhnya helai handuk itu dengan cara menjepitnya dengan siku dan bagian dalam lengan. Rey masih terdiam, belum pernah dia melihat perempuan nyaris bugil secara langsung, Selama ini hanya ada di beberapa koleksi majalah dan file video di laptopnya.

“Maaf, silahkan duduk dulu di dalam. Buat dirimu nyaman.”

“I-iya”

***

Keduanya kemudian menikmati malam bersama. Setelah makan di sebuah cafe, mereka beranjak menonton film. Selama film berlangsung, Rey tidak pernah fokus melihat film. Ia berulang kali menatap perempuan di sampingnya. ‘Ia tampak berbeda malam ini,’ pikir Rey. Yang dipandang pun kemudian menoleh ke samping dan membuat gugup yang memandang.

“Rey, ada sesuatu yang ingin kubisikkan. Sini.”

“Ada apa?”

“Sini, dekatkan kepalamu.”

Pertama, sebelah tangan Rey digenggam. Kedua, dengan tangan yang satunya lagi, ia menarik kepala Rey lebih dekat. Ketiga, bibir gadis itu menyentuh bibir si laki-laki. Keempat, keduanya larut dalam ciuman dan melupakan film yang tengah berlangsung.

“Aku ingin pergi dari sini. Filmnya membosankan. Kamu mau ikut? Antar aku.”

Tanpa banyak bicara. Rey berdiri dan diikuti oleh Vira. Keduanya bergenggaman tangan lalu keluar melalui pintu di sebelah kanan teater.

***

“Kita kembali ke apartemenmu?”

“Iya. Aku penasaran sesuatu. Kasurku tidak pernah nyaman di tiduri sendiri. Mungkin akan berbeda jika ada yang menemani.”

***

Setelah membuka pintu, keduanya masuk dan melanjutkan ciuman. Pintu dibanting hingga tertutup dan keduanya berangsur-angsur menuju sofa. Di sana, Vira terbaring dan Rey di atasnya. Tangan Rey kemudian menelusup ke dalam baju yang dikenakan Vira hendak menjamah bagian dalamnya. Tiba-tiba Vira sejenak terdiam. Lalu sebuah tamparan menghantam pipi kanan Rey.

“Hentikan!”

Rey kesakitan dan terkejut dengan tamparan barusan. Ia terkesiap dan berdiri dari posisinya semula yang hampir menindih Vira. Wajahnya kebingungan. Vira mencoba berontak dan keluar dari kedua kaki Rey. Tapi, salah satu tangan Rey berhasil menangkap kedua tangan Vira.

“Hei. Apa yang kamu lakukan barusan?”

“Aku tidak mau! Hentikan Rey! Lepaskan aku!”

“Dasar wanita jalang! Kamu yang memulai dan memprovokasiku dari awal!”

Salah satu tangan Rey lalu membuka kancing satu persatu. Karena panik dan terus memberontak, salah satu tangan Vira berhasil keluar dari pegangan Rey. Ia mencoba meraih sesuatu di atas kepalanya dan kemudian menghantam ke kepala pria itu. Karena syok di kepalanya oleh hantaman benda tumpul, Rey limbung dan jatuh ke bawah sofa. Vira berdiri sambil mengancingkan kembali baju yang dikenakannya. Sambil memperhatikan Rey yang tergeletak di bawah dan darah yang mengalir dari belakang kepalanya, ia bangkit dari sofa, mundur dan menangis sesenggukan.

“Lihat, Kak! Ini semua gara-gara Kakak!”

“…”

“Sekarang kemana kamu, Kak? Lihat apa yang kau lakukan!”

“…”

Vira mencari bayangan atau sesuatu yang bisa memantulkan bayangan dirinya dan menemukannya di cermin yang terpasang pada lemari di dekat ruang tamu. Ia memperhatikan bayangan di cermin tapi tidak ada bayangan yang biasanya menyeringai atau tersenyum menakutkan itu. Ia hanya melihat di belakangnya, Rey bangkit dan hendak menyerangnya lagi. Dengan refleks dia mengambil sesuatu di atas credenza dan mengarahkannya ke laki-laki itu. Ternyata sebuah gunting dan benda itu membuat luka melintang di leher Rey. Darah lalu mengalir keluar dari luka. Tangan Rey mencoba menghentikan lajunya tapi darah malah memuncrat keluar dan menghujani perempuan yang berhasil menyerangnya itu. Hanya terdengar suara seperti ayam yang disembelih lalu suara berdebam. Sesuatu jatuh di lantai untuk kedua kalinya. Perempuan yang bermandikan darah segar itu terdiam. Kata-kata seakan hilang dari lidahnya. Ia melotot melihat tubuh laki-laki itu menggelepar di lantai lalu berhenti bergerak. Hanya darah dan darah yang mengalir membasahi lantai dan sebagian tempat di ruang tamu.

***

Ia baru saja mempostingkan sesuatu di laman blog yang ia admin hari ini. Baru sempat ia lakukan karena cukup lama, hampir enam jam, ia membersihkan ruang tamu dari noda darah. Ia kemudian berdiri dan beranjak dari komputer dan mengambil sepiring bubuk kopi hitam yang ia siapkan dari tadi untuk di simpan di sudut ruangan agar menyerap bau amis darah. Kain-kain yang berlumuran darah itu kemudian dikumpulkan jadi satu dan dimasukkan ke dalam ember. Ia lalu beranjak ke dapur dan membuka freezer box berwarna putih dan berukuran besar. Ember itu lalu ia balikkan dan terjatuhlah kain berlumuran darah itu ke dalam kotak pendingin. Bersama mayat Rey yang lebih dulu ia simpan di dalam dan potongan tubuh dari mayat orang-orang asing yang lebih lama dibekukan di situ. Kemudian, sambil menatap pigura yang berisikan foto keluarganya yang tergantung di dinding dapur, dimana tergambar seorang anak perempuan yang menggenggam masing-masing sebelah tangan orangtuanya, ia bergumam,

“Makan apa kita hari ini, Kak?”

Em Je – Ceritera Agustus #7 Apalah Arti Sebuah Nama

Namaku Michael Jackson.

Bukan. Aku bukan si King of Pop. Aku bukan si jago moonwalk dance itu. Aku hanya seorang anak remaja di sebuah desa di pedalaman jawa. Oleh karena itu aku lebih medhok berbahasa jawa daripada cas-cis-cus bahasa inggris. Jadi berhenti memanggilku..

“Mas MJ! Ibu ada?”

“Ibuuu! Ada mbok Sartinem!”

Jangan panggil aku itu MJ. Namaku memang Michael Jackson, jangan disingkat jadi MJ, aku bukan merek madu yang dibintang iklani Agnes Monica, aku bukan nama bus di Jakarta, apalagi pacarnya Spiderman. Panggil saja aku..

“Mas Joko, kamu sudah buat PR biologi?”

“Sudah, dek Lastri. Mau nyonto punyaku, tha?”

Ya. Dek Lastri memang juara. Cantiknya, lemah lembutnya, suaranya, kulitnya, semuanya juara dan gak ada lawan. Dikasih tahu sekali sudah paham. Aku minta dia panggil aku Joko saja dan hingga sekarang masih dia panggil gitu. Duh dek Lastri, apa sih arti namamu? Kok rasanya ngademin hati ini setiap manggil namamu?

“Artinya mampu bertahan, Mas”

“Kok? Ada ceritanya?”

“Ibu dan bapak dulu sangat ingin punya anak. Tapi kakak-kakakku meninggal semua di dalam kandungan. Lalu, aku satu-satunya yang bisa lahir ke dunia dari rahim ibu. Itu aku juga keluar dengan kondisi yang gak bagus, Mas. Badanku kuning waktu itu. Bapak pun kasih nama Lastri, itu doa juga buatku, biar terus bertahan hidup dan alhamdulillah sampai sebesar ini sekarang, Mas.”

“Alhamdulillah..”

Dari kelas 4 SD kamu pindah ke sekolahan ini juga masih mampu bertahan terus di hatiku, Dek. Hihi.

“Lah, kalau Michael Jackson itu gimana ceritanya, Mas?”

“Ibuku dulu waktu hamil ngidam didengerin lagu-lagu Michael Jackson dan ngeidolain deknen. Lah bapakku trus kepikiran ngasih nama itu pas aku lahir. Mungkin juga doa biar aku seterkenal mas Michael.”

“Aaamiiin. Bapakmu gak diguyu wong po, mas.. pas ngedaftarin di Disdukcapil.”

“Ya iya. Jarene kebanyakan gaya. Orang desa kok namanya kayak londo.”

Lalu, si dek Lastri ketawa. Ketawanya kok lucu ya? Lucu-lucu menggemaskan. Ada lesung pipitnya dan gigi gingsulnya. Nggemesin, buanget.

***

Lain di sekolah, lain pas kuliah. Aku di-bully karena nama Michael Jackson ini. Dan lebih kejam, ibu tiri wae kalah.

“Marika Kamarihay?”

“Ada, Pak.”

“Nah ini, artis kita, Michael Jackson?”

“Hadir, Pak.”

“Wah, gak bisa, coba kamu nari dulu, kalau enggak, gak saya tulis di absen hari ini.”

Lalu, aku menari. Ditertawakan satu kelas. Tidak ada lagi Dek Lastri yang tidak ketawa saat aku di-bully. Orang tuanya tidak mampu menyekolahkan Lastri lebih tinggi lagi. Kata Bapaknya,

Wedok kuwi gak usah dhuwur-dhuwur. Perempuan itu gak usah tinggi-tinggi pendidikannya. Ujung-ujungnya dinikahin. Percuma, tho?”

Woh, bapaknya ini ndeso banget ik. Yang memberikan pendidikan pertama buat anak itu kan ibunya. Justru penting juga buat perempuan itu punya pendidikan yang tinggi. Tapi, ya gitulah, ini aja aku sekolah dibiayai dari sawah yang bapak jual. Sawahnya dijual lalu bapak nyewa tanahnya buat ditanami sama beliau. Ngenes juga melihat bapak nyewa tanah sendiri. Makanya aku kuliah yang pintar, biar cepat pulang, biar bapak senang, biar ibu dapat uang dan biar Lastri bisa kupinang.

***

“Assalamualaikum, Pak.”

“Waalaikumsalam, lho ada mas MJ!”

“Iya, Pak. Baru pulang dari Bogor. Lastrinya ada, Pak?”

“… Mas MJ, belum tahu?”

“Lah, ada apa pak?”

“Itu.. anakku.. sampun sedo.. ”

***

Kata Ibu, aku gak boleh malu sama namaku sendiri. Justru nama itu doa dan semua doa orangtua itu saktinya lebih sakti dari Gatotkaca atau Arjuna. Kata Ibu, apalah arti nama. Nama itu akan kamu tinggal, itu pasti, gak aku bawa mati. Hanya saja, yang aku lakukan di dunia akan menentukan seberapa berharga namaku nanti. Apakah akan tinggal begitu saja di nisan kena debu dan pasir seperti Lastri, di walk of fame di Hollywood sana atau cukup di piagam wisuda sebagai mahasiswa lulusan dengan titel Cum Laude dari Institut Pertanian Bogor? Apalah arti nama.. cuma doa setulus jiwa dari orangtua.

Terjemahan. 

  • nyonto : mencontek, mencontoh, meniru (jawa)
  • deknen : dia (jawa)
  • gak diguyu wong po : tidak ditertawakan orang, kah? (jawa)
  • jarene : katanya (jawa)
  • londo : belanda, bule, orang asing
  • wae : saja
  • ndeso banget ik : udik sekali, kampungan
  • sampun : sudah

Somewhere only we know – Ceritera Agustus #6 Pusat Alam Semesta

Dari antara semua manusia yang diciptakan Tuhan dan mereka yang disesatkan oleh Setan, hanya beberapa yang berhasil menemukan Pusat Semesta, di sana tak ada yang baik dan tak ada yang jahat, tak ada masa lalu dan tak ada masa depan, tak ada ‘saya’ dan tak ada ‘anda’, tak ada perang dan tak ada alasan untuk berperang, hanya lautan ketenangan yang tak berujung. Apa yang mereka temukan di sana, begitu indahnya sehingga mereka kehilangan kemampuan untuk berbicara.

Para malaikat penjaga tempat itu, karena kasihan kepada mereka, menawarkan dua macam pilihan: Bila mereka ingin kembali memperoleh suara mereka, mereka harus melupakan apapun yang pernah mereka lihat, meskipun sebuah perasaan kehilangan akan menetap jauh di dalam sanubari mereka. Jika mereka memilih tetap mengingat keindahan, maka, pikiran mereka akan terganggu sehingga mereka tak dapat membedakan kenyataan dengan khayalan. Demikianlah, mereka yang tak sengaja menemukan tempat yang tak tertera di dalam peta itu, akan kembali entah dengan kerinduan terhadap sesuatu, yang tidak mereka ketahui apa, atau dengan begitu banyak pertanyaan. Mereka yang begitu merindukan perasaan menjadi lengkap kembali akan disebut ‘para pecinta’, dan mereka yang begitu haus akan pengetahuan akan disebut ‘para pembelajar’.

***

“Siapa kamu?”

“Kamu pun, siapa?”

Aku seakan mengenal dia. Tapi, tidak ada satu petunjuk pun dalam ingatanku. Aku mengerahkan semua pikiranku untuk menemukan namanya dalam lembaran-lembaran memoriku tapi gagal.

***

Berawal dari komunitas di internet, aku bertemu dengan Luna Bookworm. Seorang gadis yang sama denganku. Kami sepakat bahwa masyarakat kuno telah menemukan surga di bumi. Kami dengan teori kami yang menyatakan bahwa masyarakat kuno tersebut itu dicatat dalam literatur-literatur kuno sebagai bangsa atlantis berhasil menemukan tempat paling dicari tersebut dan pindah ke tempat itu.  Teori kami ditertawakan oleh teman komunitas yang lain. Padahal, bukti sejarah, kesaksian dan sejumlah ilmuwan pun ada yang berteori hampir sama dengan kami.

Kami kemudian memutuskan untuk kopi darat dan langsung saling menyukai satu sama lain. Tidak menunggu lama, kami pun berpacaran lalu memutuskan tinggal bersama. Dalam markas kecil kami, kami melanjutkan membuktikan teori kami. Sejumlah peta dan cetakan informasi sekecil apapun dari internet atau dari buku terbitan klasik kami pajang di tembok yang kami namakan Dinding Harapan. Plesetan dari nama dinding di Jerusalem sana.

Hari-hari berlalu dan tabungan perjalanan kami sudah cukup. Aku sengaja mencari tambahan dana dengan kerja paruh waktu dan Luna pun memilih mengajar bahasa secara privat untuk ikut menabung ke tabungan perjalanan kami. Setelah memutuskan waktu yang tepat, kami memutuskan untuk memulai ekspedisi kami.

Lokasi tersebut terletak di sebuah lembah yang terpencil di balik sebuah gunung tandus. Tempat yang tidak pernah terekam dalam citra satelit karena selalu tertutupi oleh kabut dan awan. Sejumlah post di internet menamakan lokasi tersebut dengan nama ‘unknown valley‘.

“Aku semakin gugup, Surya.”

“Aku juga.”

Tangan Luna kugenggam. Kami sudah setengah perjalanan dan empat jam berjalan kaki dari titik terakhir mobil dapat masuk ke dalam hutan. Saat kusadari, aku hentikan langkah kakiku dan menahan Luna untuk terus maju. Tepat di depan kami adalah jurang yang dalam.

“Ya ampun, hampir saja.”

“Sebaiknya kita istirahat dan menentukan lokasi kita sekarang. Aku akan menyiapkan tenda. Luna, tolong siapkan makanan.”

“Iya.”

***

“Surya, kamu sudah tidur?”

“Belum. Ada apa? Kok kamu juga belum tidur?”

“Apa sebaiknya kita pulang saja? Firasatku tidak enak.”

Aku bangun dan pindah ke atas Luna.

“Ini mimpi kita, Luna.”

“Iya, aku tahu tapi perlahan rasa penasaran itu jadi ketakutan.”

“Kita sudah sampai di sini.”

“Surya, aku takut.”

“Tatap mataku. Kamu tidak sendirian. Tarif nafas dan lepaskan. Kamu hanya butuh ini.”

Aku memeluk Luna hingga ia tertidur. Setelah itu, aku keluar dari tenda dan melihat sekitar. Hanya hutan yang nyaris mati dan memang aneh, kami tidak menemui binatang satu pun. Kabut menebal dan aku kembali masuk ke dalam tenda.

“Luna?”

Luna tidak ada di dalam tenda. Aku perhatikan ujung tenda satunya lagi telah membuka dan angin berhembus dari situ. Tidak ada tanya lagi dan aku berlari mencari Luna. Di antara kabut, aku melihat bayangannya. Ia di tepi jurang, matanya tertutup namun seakan menatap ke dalam jurang. Sudah lama sejak terakhir kali  dia sleepwalking.

“Luna!”

Ia membuka mata dan terkejut dengan teriakanku memanggilnya. Ia berbalik dan menoleh ke arahku. Kakinya terpeleset dan tubuhnya limbung ke bawah.

“Surya!”

Aku tidak berpikir panjang lagi. Ikut meloncat ke bawah sana.

***

Petrichor. Aku mencium wangi seperti bau tanah di awal hujan. Aku membuka mata dan tersadar baru saja aku terbaring di sebuah padang rumput. Aku berdiri dan mencari Luna. Aneh, aku baru saja terjatuh tapi tubuhku tidak luka dan tidak lecet. Di tepian sebuah telaga berwarna putih susu, aku menemukan Luna. Ia sedang mengambil air dengan tangannya dan kemudian menyadari keberadaanku.

“Surya!”

Ia berlari menuju kearahku dan kemudian mendekapku.

“Kita berhasil! Ini shangrila! Ini nirwana! Ini pusat alam semesta! Teori kita benar dan cobalah, ini telaga susu madu.”

Aku merasakan air yang tersisa di telapak tangannya. Manis sekali. Rasanya benar seperti susu dan madu.

“Kau rasakan dan dengar suara gemuruh itu? ada sungai yang mengalir di bawah tanah tempat kita berpijak. Ingat kalimat, ‘yang mengalir di bawahnya sungai-sungai’?”

“Benar. Kita berhasil!”

Aku memeluk Luna dan kami berputar-putar sambil menari.

***

“Yang laki-laki, mengalami gegar otak berat dan terpaksa kami operasi untuk menyelamatkan hidupnya. Namun, kini ia hanya memandang kosong saat membuka matanya. Respon ada tapi tidak seperti orang awam. Ia tidak bergairah.”

“Lalu, bagaimana dengan yang perempuan?”

“Sejak terbangun, ia menunjukkan gejala gangguan mental. Tidak ada orang yang bisa ia kenali. Bahkan orangtuanya telah kemari namun ia tidak merespon positif. Hanya tersenyum dan menari ke sana kemari.”

“Lalu, apa yang akan dilakukan tim dokter?”

“Kami akan mencoba mempertemukan keduanya. Karena mereka berdua adalah korban dan sama-sama mengalami peristiwa tersebut. Kami berharap ada reaksi positif dari keduanya.”

***

Dipisahkan dengan sekat kaca. Aku dipertemukan dengan gadis gila itu. Aku dapat melihatnya menari-nari di ruangan sebelah sana. Aku sendiri didudukkan di kursi tepat di depan kaca. Dua orang petugas rumah sakit kemudian memegangi gadis gila itu. Ia dipaksa menatap wajahku. Saat mata kami bertemu, baru aku rasa. Rasa apa ini? Ada yang merongrong ingin keluar dari dadaku. Jantungku berdegup lebih kencang. Aku mendekatkan wajahku ke kaca. Tanganku ingin menyentuh wajahnya. Gadis gila itu juga terdiam saat ia melihatku. Ia berdiri, menangis, tangisan pertamanya di rumah sakit ini sepertinya. Kedua tangannya lalu memukul kaca. Aku dapat mendengar sebagian teriakannya. Kudekatkan bibirku ke mic yang tersedia.

“Siapa kamu?”

“Kamu pun, siapa?”

Cinta Tidak Butuh Penjelasan – Ceritera Agustus #5 Rahasia Kakek

“Adit!”

“Iya, Nek!”

“Turun! Nenek mau bilang sesuatu sama kamu!”

Aku mempause game di komputer dan turun ke bawah. Pagi yang malas seharusnya tapi aku curiga Nenek sudah gatal ingin menyuruhku.

“Iya, Nek. Ada apa?”

“Kamar sudah diberesin? Besok minggu Nenek dan Kakek akan menjual barang bekas tidak terpakai. Kamu ke gudang gih, beresin barang yang kira-kira sudah tidak terpakai.”

Aku manyun. Nenek memasang muka seram. Aku menyerah dan menuju laci di meja dapur, mengambil masker dan naik ke gudang di loteng. Aku menyalakan lampu dan terlihat semua barang berdebu. Nafas panjang aku hela dan..

‘Hatchiu!’

Aku alergi debu makanya aku paling malas kerjaan beberes seperti ini.

***

Sudah beberapa barang yang kira-kira menarik namun tidak terpakai aku letakkan di kardus bekas TV. Hidungku masih berair dan tinggal peti tua itu yang belum aku periksa. Peti yang tidak dikunci itu tadinya ada di bawah tumpukan sejumlah kardus. Aku buka dan menemukan sebuah dokumen milik Kakek yang berstempel RAHASIA. Pekerjaan beberes ini jadi menarik. Bagaikan menemukan sebuah harta karun di dalam game. Karena penasaran, aku buka ikatan tali dan mengambil lembaran kertas di dalamnya. Hanya foto-foto candid wanita yang sedang tersenyum. Tapi, wanita di foto ini cukup cantik. Siapakah wanita ini dan apa hubungannya dengan Kakekku?

“Oh, itu foto Nenekmu. Kamu ya, nakal. Kan Kakek sudah pasang stempel RAHASIA.”

Aku melihat ke belakang. Kakek sudah kembali dari warung.

“Masa? Ini Nenek? Kok cantik?”

Aku dijewer Kakek.

“Nenekmu itu cantik. Sekarang aja berkeriput dan beruban seperti itu. Lihat saja mamah kamu. Cantik kan? Adududuh”

“Bukannya beberes malah ngobrol dan meng-ghibah di atas sini. Lihat apa?”

Kali ini Nenek yang menjewer telinga Kakek. Mereka lalu membahas foto-foto nenek di dalam dokumen RAHASIA milik Kakek. Kakek bercerita ia dulu sengaja menabung untuk membeli kamera analog hanya untuk memotret Nenek. Katanya, ia fans berat Nenek. Nenek yang tadinya ingin memandori kegiatan beberes gudang malah bernostalgia bersama Kakek melihat foto-foto dirinya. Beberapa menit kemudian, nenek tersadar dan memarahi aku dan kakek.

“Pokoknya sebelum makan siang sudah selesai! Bersih-bersih dan ke dapur, aku buatkan spageti bakso untuk kakek dan siomay untuk kamu, dit.”

“Siap!” Aku dan Kakek hampir bersamaan menjawab.

***

“Kek, apakah cinta cuma bisa tumbuh karena dia cantik atau ganteng?”

“Kamu sudah pernah jatuh cinta belum?”

“Aku pernah suka sama Sinta, anak Ustadz Mu’tammad tapi gak tahu apa itu juga bisa dibilang cinta, Kek.”

“Ya. Kalau menurut Kakek, itu masih sebatas suka. Ketertarikan biologis, seperti sapi jantan tertarik dengan sapi betina, kambing jantan tertarik dengan kambing betina dan sebagainya. Tapi, itu bukan cinta, masih sebatas suka atau tertarik saja.”

“Terus?”

“Cinta itu menurut Kakek adalah perasaan yang hanya dimiliki manusia. Ketertarikan secara biologis atau fisik tadi ditambah dengan perhatian, ketulusan, dan kesabaran.”

“Berarti lebih rumit cinta daripada suka?”

“Iya, bisa dibilang begitu, tapi jika kamu benar-benar jatuh cinta, kamu akan tahu bahwa sesungguhnya cinta itu rumit tapi juga mudah. Cinta itu sakit tapi juga menyembuhkan, cinta itu berat tapi juga meringankan. Contohnya, seorang laki-laki yang bekerja demi keluarga yang dicintainya, lelahnya tidak akan terlalu terasa, Dit. Cinta itu mengangkat sebagian bebannya.”

“Terus kalau sayang?”

“Er, sayang ya? Kakek kok jadi bingung sendiri ya? Hahaha. Kalau Kakek dulu pernah dikasih tahu nenekmu, sayang itu rasa ikhlas, memaafkan, kesetiaan, dan tandanya jika kita sayang, kita akan nyaman dengan orang tersebut.”

“Nah, kalau sama Sinta, Adit malah gemetaran, salah tingkah, gak bisa ngomong lancar, Kek. Itu apa? Cinta, Suka atau Sayang? Tapi, Adit ingin terus bertemu Sinta.”

“Adit, yang namanya cinta sejati itu akan memberikan kenyamanan dan ketenangan. Yang kamu baru rasakan itu baru semacam kekaguman, tidak beda dengan ketertarikan yang Kakek bilang tadi.”

“Jadi bukan cinta ya, Kek?”

“Ah, beneran ini Kakek malah bingung sendiri jelasin ke kamu. Nanti juga kamu akan tahu, Dit. Yang jelas, kalau itu membawamu pada keburukan, kecanduan, ketagihan itu bukan cinta. Hindari yang seperti itu.”

“Kakek kan juga ketagihan sama Nenek. Makanya menikah.”

“Beda, itu beda. Duh, cucu Kakek ini. Coba saja jatuh cinta nanti kamu akan tahu.”

Sambil berdiskusi tentang cinta, akhirnya selesai juga pekerjaan beberes ini.

“Kek, terakhir, apa yang membuat Kakek jatuh cinta pada Nenek? Kan Nenek galak begitu.”

Kakek tersenyum. Ia lalu berbisik padaku.

“Pernah lihat Nenek tersenyum? Kakek selalu jatuh cinta saat melihat Nenek tersenyum. Indah sekali.”

Aku mengernyitkan dahi. Lah, katanya bukan cinta pada fisik?

“Yang di atas? Mau makan enggak?”

“Iya!” Lagi-lagi kami menjawab serempak.

***

“Adit sama Kakek bahas apa sih di atas? Kayaknya seru.”

“Rahasia ya, Dit?”

Aku mengacungkan jempol kepada Kakek. Mulutku penuh dengan siomay tidak bisa segera menjawab pertanyaan Kakek.

“Oh, begitu ya. Oke. Tadinya Nenek mau bikin puding juga. Gak jadi deh. Main rahasia-rahasiaan dari Nenek nih ceritanya.”

Kakek pun batal menjaga hal apa yang kami bicarakan di atas. Beliau menjelaskan secara singkat yang kami bicarakan tadi.

“Oh bahas tentang cinta. Dikira bahas apa.”

“Nek, kalau Nenek apa yang cintai dari Kakek?”

“Apa ya? Gak ada, Dit. Nenek mah sayang, bukan cinta kalau sama Kakek,” kata Nenek lalu tertawa dan Kakek pun mencubit pipi keriput Nenek.

Aku pun bingung lagi. Nenek menatapku lalu melanjutkan,

“Cinta menurut Nenek tidak perlu alasan. Kayak Nenek ke kamu, Dit. Cucu Nenek satu-satunya. Gak butuh jawaban. Kamu mungkin belum mengerti sekarang, nanti kamu akan tahu.”

Kali ini keduanya memandangiku berharap aku paham tapi tidak juga mengerti.

“Udah ah. Pusing. Siomay-nya enak, Nek. Adit istirahat dulu di atas ya.”

“Sok kamu istirahat, jangan langsung tidur ya, solat dulu.”

“Iyaa”

***

“Jadi, Kek. Kenapa Kakek suka sama Nenek?”

“Apa ya? Cinta kan gak butuh jawaban, kata kamu. Hahaha.”

“Gak kreatif.”

“Biarin, hahaha.”