#30weekendbercerita List

No Judul Song Jenis Link
1 Kamu Tidak Pernah Tahu AKB48 – Heavy Rotation Aku – Erena https://rinaldyusuf.wordpress.com/2012/09/15/hari-ke-1-kamu-tidak-pernah-tahu-song-akb48-heavy-rotation/
2 Secrets One Republic – Secret Selftalk https://rinaldyusuf.wordpress.com/2012/09/21/weekend-ke-2-lol-secrets-song-one-republic-secret/
3 1 Badum Badudum Depapepe – Kazamidori Rey – Farah https://rinaldyusuf.wordpress.com/2012/09/29/weekend-ke-3-baddum-badududum-song-depapepe-kazamidori/
2 Break! Linkin Park – Breaking The Habits Rey https://rinaldyusuf.wordpress.com/2012/09/29/weekend-ke-3-break-song-linkin-park-breaking-the-habit/
3 Vini Vidi Vici-yus? Doraemon OST Fanfic Daisakusen https://rinaldyusuf.wordpress.com/2012/10/06/weekend-ke-3-vini-vidi-vici-yus-doraemon-opening-song/
4 Tiada Lagi Hadir Untukku Maliq & The Essentials – Beri Cinta Waktu Rey – Farah https://rinaldyusuf.wordpress.com/2012/10/07/weekend-ke-35-tiada-lagi-hadir-untukku-maliq-and-the-essential-beri-cinta-waktu/
4 1 Doki Doki BuzzG – Fairytale iHeart https://rinaldyusuf.wordpress.com/2012/10/15/weekend-ke-4-doki-doki-song-fairytale-buzzg/
2 Bahasa Bintang BuzzG – Hoshi No Uta Sajak https://rinaldyusuf.wordpress.com/2012/10/16/weekend-ke-45-bahasa-bintang-buzzg-hoshi-no-uta/
5 Berisik! Raihan – Demi Masa Kakek Rey https://rinaldyusuf.wordpress.com/2012/10/21/weekend-ke-5-berisik-song-raihan-demi-masa/
6 1 Random Ultraman Tiga OST Kaijuu Story https://rinaldyusuf.wordpress.com/2012/10/27/weekend-ke-6-1-random-xd-song-ultraman-tiga-ost/
2 Shiwa / Wrinkle BuzzG – Shiwa/Wrinkle Lyric https://rinaldyusuf.wordpress.com/2012/10/27/weekend-ke-6-2-shiwa-wrinkle-song-buzzggumi-wrinkleshiwa/
3 Sejuta Alasan Cokelat – Luka Lama Erena https://rinaldyusuf.wordpress.com/2012/10/29/weekend-ke-6-3-sejuta-alasan-song-cokelat-luka-lama/
4 Kamu Noah – Separuh Aku Sajak https://rinaldyusuf.wordpress.com/2012/10/29/weekend-ke-6-4-kamu-song-noah-separuh-aku/
7 1 Mimpi Maroon 5 – Daylight Adit – Tata https://rinaldyusuf.wordpress.com/2012/11/10/weekend-ke-7-mimpi-song-maroon-5-daylight/
2 Dua Evo – Agresif Rey – Adit https://rinaldyusuf.wordpress.com/2012/11/18/weekend-ke-7-5-dua-song-evo-agresif/
8 Pulang Vicky Sianipar – Piso Surit Sibayak Tribe https://rinaldyusuf.wordpress.com/2012/11/17/weekend-ke-8-pulang-song-piso-surit/
9 Date (Gender Switch) Cokelat – Kupilih Dia Rey – Farah https://rinaldyusuf.wordpress.com/2012/11/28/weekend-ke-9-date-gender-switch-song-cokelat-kupilih-dia/
10 Negeri Di Atas Awan Maroon 5 – Goodnight Goodnight Sibayak Tribe https://rinaldyusuf.wordpress.com/2012/12/09/weekend-ke-10-negeri-di-atas-awan-song-maroon-5-goodnight-goodnight/
11 Uban Keisuke Kuwata – Ashita Hareru Kana Bastian – Rey – Tata https://rinaldyusuf.wordpress.com/2012/12/15/weekend-ke-11-uban-song-keisuke-kuwata-ashita-hareru-kana/
12 Harry Potter Scores Fanfic Harry Potter https://rinaldyusuf.wordpress.com/2013/01/02/weekend-ke-12/
13 What If Mocca – What If Sajak https://rinaldyusuf.wordpress.com/2013/01/02/weekend-ke-13-what-if-song-mocca-what-if/
14 Journal Cher Lloyd – Grow Up Feat Busta Rhymes Rey – Adit – Farah https://rinaldyusuf.wordpress.com/2013/01/12/weekend-ke-14-journal-song-cher-lloyd-grow-up-feat-busta-rhymes/
15 Januari Glenn Fredly – Januari Selftalk https://rinaldyusuf.wordpress.com/2013/01/14/weekend-ke-15-januari-song-glenn-fredly-januari/
16 Lucky Gita Gutawa – Tak Perlu Keliling Dunia Rey – Erena https://rinaldyusuf.wordpress.com/2013/02/11/weekend-ke-16-lucky-song-gita-gutawa-tak-perlu-keliling-dunia/
17 Love Letter Coboy Jr – Eaaa Adit – Tata https://rinaldyusuf.wordpress.com/2013/02/11/weekend-ke-17-love-letter-song-eaaa-coboy-jr/
18 Donat Brian McKnight – Marry Your Daughter Bastian – Farah https://rinaldyusuf.wordpress.com/2013/02/11/weekend-ke-18-donat-song-brian-mcknight-marry-your-daughter/
19 Setia Jikustik – Setia Fanfic Hachiko https://rinaldyusuf.wordpress.com/2013/03/04/weekend-ke-19-setia-song-jikustik-setia/
20 Queen Mocca – Secret Admirer Asep – Sumirah https://rinaldyusuf.wordpress.com/2013/03/04/weekend-ke-20-queen-song-mocca-secret-admirer/
21 Malas Padi – Rapuh Rey – Erena https://rinaldyusuf.wordpress.com/2013/03/04/weekend-ke-21-malas-song-padi-rapuh/
22 Kembali Padi – Siapa Gerangan Dirinya Adit – Tata https://rinaldyusuf.wordpress.com/2013/03/04/weekend-ke-22-kembali-song-padi-siapa-gerangan-dirinya/
23 Watermelon Christina Aguilera – Beautiful Winda – Aku https://rinaldyusuf.wordpress.com/2013/04/08/weekend-ke-23-watermelon-song-christina-aguilera-beautifull/
24 Awards Coldplay – Viva La Vida Selftalk https://rinaldyusuf.wordpress.com/2013/04/08/weekend-ke-24-awards-song-coldplay-viva-la-vida/
25 Twins Big Bang – Monster Selftalk https://rinaldyusuf.wordpress.com/2013/04/08/weekend-ke-25-twins-song-big-bang-monster/
26 Bahagia Nadya Fatira – A New World Bastian – Rey – Farah https://rinaldyusuf.wordpress.com/2013/04/17/weekend-ke-26-bahagia-song-nadya-fatira-a-new-world/
27 Jalan Raya Lily Allen – Chinese Rey – Erena https://rinaldyusuf.wordpress.com/2013/04/17/weekend-ke-27-jalan-raya-song-lily-allen-chinese/
28 Newlywed Do As Infinity – Would You Marry Me Adit – Tata https://rinaldyusuf.wordpress.com/2013/04/17/weekend-ke-28-newlywed-song-do-as-infinity-would-you-marry-me/
29 Finale Mighty Mouth Ft Son Dam Bi – Family Adit – Tata – Rey – Erena – Farah – Bastian https://rinaldyusuf.wordpress.com/2013/04/17/weekend-ke-29-finale-song-mighty-mouth-ft-son-dam-bi-family/
30 Weekend ke 30 Selftalk https://rinaldyusuf.wordpress.com/2013/05/12/weekend-ke-30/

Weekend ke 30

“hihihi seharusnya project ni selesai tanggal 15 April kemarin…”

Nyampe juga di weekend ke 30 ini. Gak kerasa dan gak nyangka aja. Bisa tahan nulis 30an post. Awalnya mau dibuat cerita lepas yg berdiri sendiri tapi malah sambung menyambung dan diakhiri di weekend ke 29 dengan ending yg berupa penyelesaian dari semua cerita sebelumnya.

Gak lepas juga dari dukungan para pembaca dan para kolektor yang rajin nagih tiap minggu. Ternyata kisah Rey dkk disukai dan ada fan basenya sendiri2. hahahaa.

Ini aja deh buat penutupnya. Selanjutnya! Proyek baru! Apa ya?

OTL….

Weekend Ke 29 – Finale | Song: Mighty Mouth Ft Son Dam Bi – Family

Aku senang melihatnya tertidur. Pulas. Bulu matanya lentik. Bibirnya kecil, berwarna merah pink. Jari-jarinya mengenggam erat jari telunjukku. Dia keajaiban dalam hidupku.

 

“Tok-tok. Farah? Aku boleh masuk?”

“Masuk aja, Re!”

 

“Halo tante Farah!”

“Eh, ada Ryan juga, gimana sekolahnya?”

“Udah kelas 2, asik Ryan dapat adek baru! Cowok ya, Tante?”

“Cewek, Ryan”

“Namanya siapa?”

“Namanya Maya, nanti dedek Maya-nya dijaga ya?”

“Siap, Tante”

 

Seseorang masuk lagi ke dalam ruangan.

“Halo..”

“Adit! Eh.. Ada dek Indri juga..”

“Indri, salam tuh sama Ryan dan Papahnya”

“Halo, om Re.. Tante Farah..”

“Papahnya Maya mana, Fa?”

“Tuh, tidur di sofa. Semalaman dia gak tidur”

“Bastian mah suami siaga. Hahaha.”

 

Kami bertiga bertemu lagi. Kali ini sebagai orang dewasa. Banyak hal yang terjadi namun tidak merubah banyak senyum di wajah kami.

 

Bastian terbangun karena suara tawa kami. Begitu juga Maya, malaikat kecilku.

 

“Kenceng banget nangisnya, pah!”

“Iya, Ryan nanti jagain Maya, ya.. Jangan biarkan nangis kayak gitu lagi.”

“Gampang, pah!”

“Ah, Ryan juga diomelin Indri juga nangis..”

“Gak! Enak aja, Om Adit mah”

 

“Assalamualaikum, ada apa ini rame-rame?”

“Mamah!”

“Ih Indri bau acem! Main kemana aja sama papah?”

“Tadi diajarin dribble bola basket sama papah”

“Berbakat loh, mah! Bisa jadi kapten bola basket nih”

“Hiih, jadi pemain biola dong kayak mamah”

 

“Jyah, gak di rumah, gak di sini.. Berantem aja”

“Enggak yah, Kak Re.. Di rumah mah mesraa”

“Apaan, gara-gara donat satu aja, rebutan”

“Hahaha, yuk ke cafe donat gw aja di kafetaria RS, gratiss!”

“Beneran ya, Bas?”

“Ya kan gw ownernya ini..”

“Asiiik”

“Om Bastian superrr”

“Hahaha, mah aku bawa mereka dulu ya.. Kamu istirahat, kalau ada apa-apa telepon..”

“Iya..”

 

Beberapa saat keramaian itupun hilang. Tinggal aku dan Maya saja dalam keheningan yang menentramkan. Tak lama, suara ketukan di pintu pun terdengar lagi.

 

“Assalamualaikum, Farah..”

“Waalaikumsalam..”

“Loh? Dimana yang lain?”

“Mereka di bawah, di cafe donat. Baru datang, Rena?”

“Iya, kemarin dari Lasem, abis nyekar mamah”

“Capek ya? Di kulkas, ada jus buah, maaf gak bisa bantu ambilin”

“Gak apa-apa, kamu kan abis melahirkan ini. Baby-nya di situ yaa? Iih lucuuu. Namanya siapa?”

“Maya”

“Maya ya? Cantik loh kayak mamahnya..”

 

“Rena..”

“Hmm?”

“Makasih ya..”

 

Awalnya Erena hanya mengernyit tidak paham, tapi kemudian dia tersenyum.

“Kamu nanti menyesal loh, dia pria yang baik..”

“Gak, tidak ada penyesalan, masing-masing dari kita telah memilih. Itulah jodoh kita. Sesempurna apapun kisah kamu sebelumnya dengan seseorang, pilihan terakhirlah si jodohmu itu, iya kan?”

“Iya.. Masing-masing dari kita punya masa lalu, tapi yang paling penting kan masa sekarang dan masa depanmu.. Dia itu.. waktu itu.. meninggalkan akad nikahmu demi menolongku yang tersesat di Lasem..”

“Aku tahu. Adit dan Tata yang cerita. Minta dong jus buahnya, dikiiit aja”

“Emang boleh ya? Nih sedotannya..”

 

Aku dan Erena kemudian lebih banyak menghabiskan waktu dalam diam. Erena bermain dengan jari-jari Maya. Aku melihatnya sambil tersenyum.

 

“Ibu Farah, waktunya kontrol ya..”

“Ah, sudah waktunya ya.. Gw nyusul ke bawah ya, Fa.. Takut Ryannya nangis. Nanti mungkin ke sini lagi..”

“Iya, gak papa”

“Mari, suster Fretty..”

“Iya, mari, ibu..”

 

Hening kembali datang. Tapi kutahu pasti takkan lama. Bising pun tak apa sesekali berkunjung. Asalkan bawa pelukan hangat. Tuhan, untuk apa saja yang terjadi, selama ini..hingga saat ini. Aku.. tidak pernah menyesal..

 

Dari kejauhan, terdengar lagi tawa mereka. Orang-orang yang kucintai. Kemari, bawa senyuman yang kurindukan.

Weekend Ke 28 – Newlywed | Song: Do As Infinity – Would You Marry Me?

“Adiiiit. Bukan lewat sini tahu.”

“Beneer, lewat sini. Adit tahu kok”

 

Sudah 1 jam berputar-putar di komplek perumahan ini. Padahal misi perjalanan ini gampang: ambil baju pengiring pengantin untuk pernikahan Kak Farah. Tapi, Adit masih saja terlalu sombong mengakui dia tersesat.

 

“Adit, udah deh, turun saja dan tanya orang sini”

“Gak, ini bentar lagi deh. Percaya sama Adit ya, Ta”

 

Begonya kita lagi. Kita gak pegang nomor yang bisa dihubungi dari pihak WO-nya. Muter-muterlah kita di komplek perumahan ini. Si satpam berkumis yang berjaga di pos mungkin sudah curiga kita berdua pasangan teroris yang nyamar pura-pura nyari tempat Wedding Organizer.

 

“Jangan manyun gitu, Ta.”

“Tata udah janji sama Kak Farah, Dit. Jam 5  sudah di rumah terus pagar ayu dan pagar bagus sudah nyobain baju-bajunya. Tapi sekarang udah jam 5 kurang seperempat”

“…”

“Adit, maaf”

 

Mobil Yaris merah ini pun berhenti tepat di tempat jaga si satpam berkumis. Adit turun dan.. Bertanya!

 

“Oh deket ternyata. Tadi sebenarnya kita udah ngelewatin, gitu kata si bapak Asep, satpam yang tadi.”

 

Si Adit ini…

 

“Kenapa sih?”

“Hehehe”

“Cengar-cengir lagi, nyeremin tahu, Ta”

“Tata sayang sama kamu deh, pokoknya”

“Udah tahuuu. Tuh, di depan, plangnya ketutupan pohon bambu”

 

Mobil berhenti pelan. Aku keluar setelah melepaskan seat belt.

“Eh Ta..”

“Ya Adit?” Aku melongokan lagi kepalaku ke dalam mobil.

“Bulan depan kita ke Wedding Organizer ini lagi ya..”

“Ngapain?”

“Ya buat kita lah. Papah kamu sudah setuju.”

“Eeeehhhhh? Kapan ketemu papah?”

“Rahasia. Hehehe”

Weekend Ke 27 – Jalan Raya | Song: Lily Allen – Chinese

“Maaf apakah ini rumah Ibu Rustya? Sudah pindah? Kemana? Tidak tahu? Baiklah, terimakasih”

 

“Maaf apakah ini rumah keluarga Rustya? Tidak kenal? Baik, terimakasih, maaf mengganggu.. ”

 

Aku kembali mengarahkan mobilku ke jalan raya. Mencoret nama kota Tuban dari daftar kota yang didatangi. Sejauh ini tidak ada yang pernah tahu kemana ia pergi. Ia menghilang begitu saja.

 

Handphoneku berdering. Rey menelepon.

 

“Erena, kamu dimana?”

“Tuban..”

“Ada informasi lagi mengenai beliau?”

“Gak”

“Terus kamu mau kemana?”

“Aku tidak tahu. Mungkin malam ini aku pulang saja ke rumah kamu”

“Bukan hanya rumah Rey, rumah Erena juga..”

“Iya, mamahnya Rey juga Erena ambil juga loh”

“Iya! Gak papa! Aku tunggu di rumah. Hati-hati.”

 

Menyenangkan rasanya memiliki seseorang yang menanti kedatanganmu di rumah. Di Jerman, Ayah fokus pada keluarga barunya dan hanya memberiku uang secara rutin. Seperti apa kerutan di wajahnya, jenggotnya yang tumbuh, rambutnya yang katanya memutih, aku sama sekali tidak tahu, ia seperti alergi bertemu denganku.

 

“Damn!”

 

Jalur pantai utara yang kulewati sekarang terkena macet. Aku ingin mengambil jalur alternatif tapi takut tersesat. Bahasa Indonesiaku terbatas, aku malas bertanya apabila tersesat nanti. Aku bertahan melewati jalur ini. Aku membuka laci mobil, mencari sekotak rokok, dan tidak jadi, aku teringat Rey dan Tata. Mereka sama-sama kompak melarangku merokok. Sebagai ganti, aku mengambil permen karet.

 

Ahh, aku ingin pulang. Pulang ke tempat dimana ada seseorang yang menanti untukku. Dulu, aku hanya bisa kesal, ketika teman-teman berpamitan di waktu sore.

 

“Sudah sore, aku dipanggil ibu”, begitu kata mereka.

 

Sementara aku ketika pulang hanya ada gelap lampu yang dimatikan sejak pagi. Aku mengucapkan salam tapi tidak ada yang menjawab. Aku dibesarkan oleh Ayah Sunyi dan Ibu Sepi.

 

Handphoneku berdering lagi. Rey lagi.

 

“Erena!”

“Iya Rey, ada apa?”

“Seseorang bernama Rustya menelepon ke sini!”

“Bohong..gak mungkin”

“Iya! Dia melihat postinganmu di blog dan beberapa sosial media”

“Mungkin saja penipu, Rey. Sejak kita memulai pencarian kan sering bertemu penipu yang mengaku kenal..”

“Dia tahu nama tengahmu.. Dia bilang, nama tengahmu.. Dian”

 

Duniaku serasa berubah. Aku antara senang dan tidak percaya. Tidak banyak yang tahu nama tengahku karena aku selalu menyingkatnya. Erena D. Hollowitz, D untuk nama Dian, yang artinya penyala, sumber cahaya. Ibu yang menyematkannya di sana, menjadi nama tengahku.

 

“Oke, sekarang dimana dia?”

“Dia bilang dia di Lasem, Jawa Timur. Dia akan kesini beberapa hari lagi”

“Gak, Rey. Beri aku nomornya sekarang! Aku melihat arah Lasem ketika di Tuban.”

“Tapi memangnya kamu tahu Lasem dimana? Kamu harus lewat jalur alternatif dan bisa saja kamu tersesat.”

“Berikan saja nomornya!”

“Baiklah”

“Maaf Rey, aku tidak bisa menunggu lagi. Aku sudah menanti cukup lama untuk ini”

“… Iya, gak papa. Aku sudah kirim nomornya. Hati-hati, Erena. Aku mohon.”

 

Ban mobil berderit ketika aku putar arah. Ke arah Lasem. Aku hanya berharap ini benar-benar dia. Aku menghubungi nomor tersebut.

 

“Halo..”

Weekend Ke 26 – Bahagia | Song: Nadya Fatira – A New World

Rumah yang sepi. Tidak ada lagi uban yang berjatuhan. Setelah tetangga yang terakhir pergi, aku naik ke kamar. Meringkuk di ujung tempat tidur. Memeluk kakiku. Aku masih belum bisa melupakan wajah dan tubuh nenek yang kaku.

 

Seperti itukah kematian?

 

Tak bergerak. Tidak ada kehangatan. Tidak ada pergerakan di dada. Senyap. Seakan suaranya ditelan udara.

 

*ting tong*

 

Suara bel dibunyikan. Aku dengan gontai menuju pintu depan. Aku belum makan sejak tadi pagi. Badanku lemas. Hatiku juga. Ketika kubuka pintu, ada gadis kecil berambut dikuncir kuda membelakangiku karena terpukau menatap langit malam.

 

“Ah, Bastian! Apa kabar?”

“Uhh hai, Farah..”

“Kamu lemes gitu sih? Belum makan yah? Ini ada nasi goreng tongkol suwir buatan mamah. Kata mamah, Bastian pasti belum makan, jadi mamah minta Farah antar ini dan pastikan semuanya dimakan Bastian baru Farah boleh pulang”

“Uhh.. Gak papa, kamu pulang aja, nanti aku makan”

“Gak! Aku juga awalnya mikir mamah lebay bilang kamu belum makan dari pagi, tapi waktu aku lihat kamu sekarang, bener juga”

“Gak papa, Farah.. Nanti aku makan dan kembalikan ke rumah kamu”

“… Eh boleh aku masuk yaa”

“Eits!”

 

Aku tidak sedang mood menerima tamu. Tapi, Farah masuk begitu saja dan menyalakan beberapa lampu yang sengaja kumatikan.

“Gelap banget! Gak serem apa?”

Aku tidak pernah suka tempat terang. Sejak kecil, aku terbiasa tidur di tempat yang redup atau gelap sekalian. Nenek bilang.. Aku anak yang aneh. Nenek..aku jadi inget nenek lagi.

 

Suara air keran dibunyikan. Suara piring dan sendok beradu menyusul kemudian.

 

“Hehehe, aku cuciin piring-piringnya yaa. Kamu makan aja dulu nasi gorengnya, baru aku pulang”

Farah ini benar-benar keras kepala. Aku terpaksa mengikuti aturan mainnya. Sepiring nasi goreng itu aku makan juga. Aku lapar tapi tidak bernafsu dan hanya memaksa sesendok demi sesendok masuk ke lambungku. Segelas air putih kemudian diletakkan di hadapanku.

“Jangan buru-buru makannya. Aku ingin lebih lama di sini. Aku gak tahu apa yang Bastian rasakan tapi aku ingin bisa membantu menghapus kesedihan Bastian sekarang”

Air mataku jatuh. Kemudian menghilang di balik bulir-bulir nasi goreng. Farah mengusap kepalaku. Persis seperti apa yang nenek lakukan apabila aku menangis.

“Aku cengeng ya, Farah..”

“Aku juga pasti nangis kalau jadi kamu, bahkan lebih mewek kayaknya.. Hehehe tapi yang paling cengeng si Rey tuh”

“Hahaha iya, dia memang cengeng”

“Kamu tersenyum, Bas. Lebih baik seperti itu.”

Nasi gorengnya tidak habis semuanya olehku. Sisanya dimakan Farah, ternyata dia sendiri juga kelaparan. Setelah habis semuanya. Dia pulang. Aku pikir duka akan kembali datang tapi tidak, malam itu aku hanya menangis sebentar lalu lelap dalam tidur.

***

Esok hari, aku minta izin pada guru untuk tidak masuk sekali lagi. Aku membereskan semua barang-barang Nenek. Membersihkan rumah. Memulai hari baru lagi. Teman-temanku yang lain mungkin sedang pelajaran IPA sekarang.

“Ting-tong”

 

Tamu? Apakah kerabat? Atau tetangga sekitar? Tapi aku mendengar keramaian di balik pintu.

 

“Hai Bastian!”

“Gimana kabarnya?”

“Ada yang bisa kami bantu?”

“Woy, ke sekolah lagi dong”

Semua teman sekelasku datang. Tidak ada yang membahas peristiwa kemarin. Ibu guru pun hanya mengusap kepalaku dan masuk ke dalam bersama murid perempuan membuatkan minum dan menyiapkan kue untuk kami semua.

“Farah yang tadi ngasih usul di depan kelas. Kalau kita harus datang kesini”

“Eh, Rey..”

“Kalau Rey sih seneng-seneng aja karena pelajaran jadi libur, hehehe”

“Farah ya..”

Gadis itu, si tomboy berambut poni kuda, bagaikan angin. Meniup ke sana kemari awan mendung dari hatiku. Senyumnya seakan senyuman instan. Tersedia untuk kapanpun, dimanapun.

Di hari itu, aku pun berjanji pada diriku sendiri, di suatu hari nanti… Saat aku sudah siap..  aku, Bastian, yang akan membahagiakannya. Semoga didengarkan oleh-Nya.

Weekend Ke 25 – Twins | Song: Big Bang – Monster

Mari, bermain dalam duniaku.

Kau akan bertemu dengan kembaranku yang bermain-main di sana. Si kembar yang pertama akan menyambutmu dengan senyum. Aku menyebutnya si cermin, jika kamu memperlakukannya dengan ramah, dia juga akan melakukan hal yang sama. Begitu pula jika sebaliknya.

Lalu, akan datang si pesta, dia akan mengajakmu bermain hingga lupa sekarang jam berapa. Dia suka bermain, sambil memperhatikan batas dirimu. Apa kamu masih bisa berpesta sambil tetap sadar bahwa waktumu tidak lama?

Si kembar yang ketiga akan datang sambil membawa buku. Dia si  Pemabuk Ilmu dan Ketagihan ilmu. Tangki ilmunya tidak pernah menunjukkan tanda full. Dia akan memperhatikanmu dengan seksama, menganalisa, tapi apa yang disimpulkan hanya tersimpan di benaknya.

Si kembar keempat adalah si anak kecil, dia adalah bayi kecil dari kami semua, dia bisa jadi siapa saja. Matanya selalu melihat, telinganya selalu mendengar. Tapi hatinya akan selalu hati anak kecil.

Lalu yang terakhir adalah si penulis, dia yang menggenggam tanganmu sekarang. Memandumu melintasi labirin-labirin pikiranku. Ada sisi kelam yang tidak terlalu penting kamu ketahui sehingga si penulis akan memandumu tetap pada jalur yang kami tetapkan bersama.

Terimakasih sudah memasuki duniaku. Semoga tidak kapok untuk datang lagi.

Weekend Ke 24 – Awards | Song: Coldplay – Viva La Vida

Jika kamu akan diberikan piala, piala apa yang kamu mau?

Di dalam hidup seorang Rey, Rey yang penulis ya, bukan si tokoh cerita :D, tidak pernah ada piala. Keluargaku ini pun tidak pernah menyediakan lemari khusus buat piala. Alasannya, tidak pernah ada satu pun dari anaknya yang mendapat piala. Hahaha. Sebagai informasi, Rey ini pernah juara lomba baca puisi dan tiap tahun juara lomba makan krupuk loh. Tapi, gak dapet piala, dapetnya bungkus chiki. *ngomong dengan mimik muka serius*

Tapi, Rey selalu suka dengan orang yang memiliki piala. Piala itu adalah kristalisasi dari mimpinya. Semakin banyak piala, semakin banyak mimpi-mimpinya yang terwujud. Senang rasanya melihat mimpi terwujud di dunia nyata kan?

Kembali lagi ke pertanyaan awal, “Jika kamu akan diberikan piala, piala apa yang kamu mau?”. Karena aneh, semakin bertambah umur, cenderung kita tidak membutuhkan piala. Kita berangsur-angsur memilih hidup yang biasa saja, tidak wah, tidak menghebohkan. Hidup kita ada di fase stand-by. Bandingkan dengan anak muda usia sekolah atau kuliah, yang masih berapi-api meraih penghargaan atau piala. Kalau yang tua, dapat ya syukur, gak dapet ya bagus. Begitu mikirnya. Motivasi? Nol.

Coba dipikirkan lagi, bagaimana sih seseorang bisa mendapatkan sebuah piala? Apakah dia hanya memimpikan dalam tidur lalu esok harinya ada di sisinya? Tentu tidak. Dalam rangka memotivasi seseorang yang Rey kenal, Rey selalu memakai perbandingan ini: siapa yang kenal Michael Jordan? Siapa yang kenal Michael Schumacher? Siapa yang kenal Mike Tyson? Kemudian siapa yang kenal Warsito ? Orang-orang akan lebih kenal dengan ketiga Mike tadi daripada Warsito. Kenapa? Karena ketiga Mike tadi telah berlatih rutin, berusaha lebih dari orang biasa, mengorbankan waktu lebih banyak daripada orang biasa. Sementara Warsito? Tidak ada yang mengenalnya, karena dia memilih jadi orang biasa.

Oke. Mungkin apa yang kamu impikan tidak muluk-muluk yang biasa saja. Tidak salah sih. Hanya salah banget.

Di dalam pekerjaan, jika kamu sudah bekerja, apa kamu ingin jabatan menjadi staf saja, jabatan jadi pelaksana saja, jadi pegawai dasar saja… Jika iya, jangan protes jika tidak ada perubahan kesejahteraan dalam hidupmu. Kebaikan di dunia (dan akhirat) yang selalu ada dalam doamu, sebenarnya telah Allah buka jalan menuju ke sana tiap pagi. Seseorang yang hari ini lebih buruk atau sama dengan kemarin termasuk orang yang merugi kan? Jadi masih mau jadi orang biasa saja? Di hatimu terselip keinginan untuk menolong yang lain, membebaskan Palestina, memerdekakan budak, mensejahterakan yang miskin, semua itu apa bisa terjadi jika kamu hanya..orang biasa?

Jangan tertipu dengan film-film atau Cerita dongeng mengenai seseorang yang kebetulan mendapatkan kekuatan kemudian menyelamatkan dunia. Kita ini sudah dewasa, bisa membedakan yang mana kartun dan realita. Jika mengharapkan sesuatu yang besar, maka usaha kita pun harus sama kuatnya, cara-caranya harus lebih maju, semangatnya pun harus lebih dari biasanya.

Banyak orang-orang di sekitar saya yang menginginkan lebih tapi cara-caranya konvensional (gak syariah :p). Di dalam ajaran Islam, diajarkan jika suatu kaum tidak berubah, maka akan seperti ituuuuu saja keadaanya. Ada yang ingin jago excel tapi gak pernah mau paham formula dan arti command-command di dalamnya. Ada yang ingin dapat mencapai target, tapi cara-caranya masih seperti cara-cara yang dulu (yang telah dibuktikan sebelumnya tidak berhasil mencapai target). Kebanyakan orang ketika diberi tantangan, menyerah dan memberi alasan, ya ini gw, gw gak bisa. *tepok jidat*. Rey gak tahu di ajaran agama lain kayak gimana, tapi ajaran untuk menjadi lebih baik pasti ada.

Kuncinya untuk menjadi lebih dari biasa: jangan jadi orang biasa. Mungkin ketika weekend, di saat orang lain sedang istirahat, kita belajar hal baru. Jika dalam ilmu investasi, belajar itu adalah investasi waktu yang paling baik. Sementara proses belajar sendiri tidak memakan waktu yang sebentar. Belajar adalah proses jangka panjang dan terus menerus. Jangan dikira proses belajar berhenti ketika kita menerima ijazah, tidak. Proses belajar baru berhenti ketika jantung tak lagi berdetak, Tuan dan Nyonya.

Jadi apa yang kita dapat, jika ingin sebuah piala (penghargaan, pengakuan, pencapaian) yang besar, kita harus belajar lagi, berlatih lagi. Meminjam istilah-istilah dari novel 5cm, mata dipaksa untuk melihat dari biasanya, hati, kaki dan otak pun juga dipaksa bekerja lebih dari biasanya. Seluruh tubuh kita, lagi-lagi dipaksa untuk berbuat dari biasanya, lebih dari orang biasa. Jangan terbuai dan beralasan dengan kata “BAKAT”, kita semua ini adalah generasi pilihan, dimulai dari mengalahkan jutaan bahkan milyaran saudara-saudara kita sebelum lahir. Terus belajar. Tetap Roso! 😀

Weekend Ke 23 – Watermelon | Song: Christina Aguilera – Beautifull

“Kenapa kamu suka aku?”

“Kenapa? Apakah butuh alasan untuk menyukai seseorang?”

“Jangan basa-basi, tidak pernah ada seseorang yang jatuh cinta karena kepribadian, semua orang menilai penampilan di awal, itu manusiawi”

“…”

“Kenapa? Apa jawabanmu?”

“Karena dadamu, besar”

Plak!

“Loh kok aku ditampar? Katanya manusiawi?”

“Jengkel juga manusiawi kan, Ndra?”

“Tapi aku suka dada kamu!”

Plak!

***

“Kamu benar-benar suka wanita berdada besar ya, Ndra?”

“Ah, semua cowok juga gitu kok”

“Apa gak bosen?”

“Apaan?”

“Itu, sampai dijadikan wallpaper pc kamu gitu”

“Hmm suka aja ngeliatnya hehe”

“Dosa loh”

“Ah bilang aja kamu ngiri, kamu mau foto kamu dijadiin wallpaper aku”

“Diih, siapa juga yang mau!!”

“Buruan, dibuka bajunya! Kamera mana kamera?”

Bletak!

***

“Tidak apa-apa, tidak akan terjadi apa-apa”

“Aku takut, Ndra”

“Siapa tahu cuma bisul? Atau jerawat yang salah tumbuh?”

“Jerawat? Aku baca artikelnya kemarin ini bisa saja..”

“Ssst, Windayanti Nitisari yang kukenal kemana ya? Dia gak penakut gini loh.. Pun jika benar, kamu punya pacarmu yang ganteng ini.. Aku akan menjaga kamu”

“Indra..”

“Smile for me?”

“Ibu Windayanti? Silahkan ke ruangan dr. Andri”

Krieet..

***

“Kamu hebat, Win.. Kamu bisa melewati operasinya”

“Indra.. Kamu di sini? Apa yang mereka ambil?”

“… Gak ada, Winda.. Kamu masih seperti dulu, cantik”

“Jangan bohong, Ndra. Kamu gak pernah bisa bohong”

“Kamu masih tetap cantik, aku bersumpah, masih tetap cantik..walau tanpa semangka-semangka itu”

Biip..biip..biip..

Weekend ke 22 – Kembali | Song: Padi – Siapa Gerangan Dirinya

Menghapus kebencian itu susah. Aku sudah mencobanya berulang kali. Tapi, tidak bisa, padahal dia sahabatku sendiri.

“Adit, aku tidak bisa.”
“Ada yang lain yang kau suka?”
“Dia, dit. Aku pikir dengan memaksakan rasa ini kepadamu aku bisa, tapi tidak.”
“Siapa?”

Dia memilihmu. Saat itu kebencian mengkonsumsi hatiku perlahan. Aku bahkan bermimpi membuatmu bunuh diri. Jika kau lenyap, semua akan berbalik keuntungan bagiku kan?

Atau, aku saja yang lenyap?

Otakku menyusun rencana. Rencana bunuh diri. Aku tidak mungkin bunuh diri di rumah. Ibu akan kesulitan membersihkan mayatku. Setidaknya setelah aku mati tidak merepotkan orang lain.

Coret juga rencana menyilet nadi di kamar mandi. Aku tidak mau mayatku dilintasi cacing-cacing atau kecoa sampai aku ditemukan.

Kemudian, aku tidak suka bunuh diri dengan menjatuhkan diri. Pasti sakit dan jika gagal, aku yang rugi. Menyetrum diri sendiri di sutet terdekat? Aku bisa dicegah duluan sebelum bunuh diri. Mayatku pun bisa gosong. Tidak keren sama sekali.

Akhirnya, aku memilih bunuh diri saja di perpustakaan. Tempat favorit Farah. Belum pernah ada yang bunuh diri di perpustakaan, kan? Pasti keren.

Aku bersembunyi di salah satu sudut perpustakaan hingga tempat ini ditutup. Di sakuku ada sebotol penuh obat keras. Aku akan menutup hidupku dengan obat keras ini.

Aku kebosanan menanti perpustakaan ini tutup. Aku ambil salah satu buku tebal dan coba membacanya untuk menghabiskan waktu. Aneh, walaupun buku tebal ini tidak menarik untuk dibaca namun hampir tidak ada debu. Tidak seperti buku lainnya. Ketika kubuka, berjatuhan beberapa lembar kertas.

‘Akhirnya aku menemukan tempat yang tepat untuk menyembunyikan suratku. Kamarku sering diacak-acak Kak Rey. Apa orang itu tidak pernah mengerti arti privasi?’

Kak Rey? Ini surat-surat Tata, adiknya?

‘Aku kembali mengingatmu di kala hujan, Kak. Kamu tahu hujan? Makhluk yang paling berani yang pernah diciptakan Tuhan? Ketika ia di ‘atas’ ia tidak pernah takut untuk ‘jatuh bebas’. Apa yang terjadi dengan sikapnya itu? Ia membasahi ladang yang gersang dengan keikhlasannya, menumbuhkan tunas, membantu kehidupan baru. Aku pun ingin jadi hujan bagimu, Kak. Aku ingin jadi alasanmu bahagia.’

‘Ini mungkin cinta monyetku yang sederhana. Awalnya kekaguman, namun perlahan mengajariku melihat dunia menjadi lebih baik. Ironis ya? Ketika di satu sisi lain orang bilang cinta itu membutakan. Awalnya aku cukup bahagia melihat sepatu sekolahmu di dekat pintu rumahku. Lalu aku ingin bisa mengenggam tanganmu dan kita saling menguatkan’

Aku? Bagi Tata? Selama ini..

‘Cinta itu selalu menimbulkan pertanyaan. Dulu kita berjalan dalam kuadran masing-masing. Lalu, garis hidupku menemukan dirimu, bersinggungan, mengagumi dan kini aku ingin dipertemukan denganmu dalam satu diagram hidup. Pertanyaan pun muncul bagai jamur di musim hujan. Apakah kamu baik-baik saja? Sakit apa? Apa yang kamu sukai? Apa yang kamu benci? Apakah hanya dia saja yang bisa kamu cintai?’

Aku berhenti membaca ketika mendengar suara buku terjatuh. Tata di sini. Memergokiku membaca surat-suratnya. Buku-buku tadi terjatuh dari genggamannya.

“Kak, sedang apa di sini?”

Suasana jadi canggung. Mukanya memerah. Terbit air mata di sudut matanya.

“Maaf kak, aku tinggal ya.”

Dia berbalik dan ingin segera pergi. Aku berdiri, berlari, dan merengkuh tangannya. Dia tertarik ke belakang dan kudekap dalam peluk. Aku tidak tahu apa yang kulakukan. Aku belum pernah merasa seperti ini. Di senja itu, di perpustakaan sekolah, aku menemukannya. Alasanku hidup dan kembali.