Merah Darah – Cerita Agustus #4 Darah di Tubuh Joko

Dia sungguh terkejut ketika mendapati ada darah di kepala, lengan, dan telapak tangannya. Dia sungguh tak tahu mengapa darah-darah itu bisa ada di  tubuhnya. Beribu pertanyaan membuncah di kepalanya, darah siapa ini? Apakah ini darahnya? Mengapa dia sampai berdarah? Apakah ada yang membubuhnya? Ataukah dia bunuh diri? Atau jangan-jangan ini darah orang lain. Kalau darah orang lain mengapa darah itu ada padanya? Jangan-jangan dia telah  membunuh orang. Dia bergidik, dia merinding, dia ketakutan. Dia mencoba memeras otak, berpikir dengan keras kejadian yang terjadi hari ini. Menelaah dengan teliti lapisan memori otaknya, mencoba mengurut kejadian-kejadian hari ini.

“Sudah selesai kebingungannya?”

Joko melihat ke belakang. Seorang laki-laki berambut hitam panjang sebahu, menatapnya dengan muka polos. Dia, mengenakan jaket palka warna coklat dan jeans sobek-sobek. Di tangannya sebatang rokok sedang menyala. Rokok yang ia kenal.

“Ah, maaf, aku minta sebatang. Sudah lama aku tidak merokok. Nih, tisu.”

Dia mengambil tisu dan menyeka darah di kening dan yang mengalir dekat matanya.

“Darah siapa ini? Di mana diriku?”

“Bagaimana ya menjelaskannya? Yang jelas ini alam kematian.”

Alam kematian? Segaul itukah pakaian seorang petugas kematian?

“Kau pikir, kami harus mengenakan sepotong kain putih tanpa jahitan yang diikatkan ke tubuh?”

“Ah tidak. Tidak seperti ini alam kematian yang aku bayangkan..”

“Ya, literatur-literatur palsu itu menjelaskan hal yang ngaco. Semua sesuai interpretasi atas imajinasi penulisnya saja. Mereka belum pernah ke sini waktu mereka menulisnya.”

“Lalu darah siapa ini?”

“Sebelum aku jawab, aku ingin bertanya sesuatu, apakah hidupmu bahagia?”

“Aku..”

***

“Lastri, coba rasakan mie goreng ini.”

“…”

“Lastri, sosis ini juga enak”

“…”

“Lastri.. kenapa kali ini kamu tidak mau berbicara kepadaku?”

“Sebaiknya kita tidak usah bertemu lagi, Joko”

“Kenapa? Apa ada yang salah?”

“…”

“Hei! Apa aku berbicara dengan patung?”

“Semua sudah berubah. Kita tidak bisa seperti ini lagi. Aku sudah bosan denganmu.”

“…”

“Kenapa? Kau setuju kan?”

“Sini kau!”

Hari itu, pertama kali aku memaksa Lastri untuk berhubungan badan. Dia melenguh, tapi bibirnya tidak mau menerima bibirku lagi. Dia basah di bawah sana, tapi tidak memelukku dan bahkan sebagai gantinya dia berulang kali menamparku, mencakar dan memukul dadaku. Kemana Lastri yang aku kenal? Yang selalu bercinta dengan penuh hasrat dan puas dengan apapun yang aku lakukan pada tubuhnya.

Dia menangis di ujung tempat tidur. Sesenggukan. Apa sebegitu najisnya diriku baginya sekarang?

“Su-sudah puas kau, Jo-joko?”

Aku menghisap lebih dalam rokokku. Lalu segera mematikannya dan memperko.. tidak, Ya Tuhan, aku memperkosa Lastri! Lagi!

***

“Aku bahagia, kurasa.”

“Begitu.”

Laki-laki penjaga alam kematian itu menghisap hisapan terakhirnya dan membuang puntung rokok itu.

“Siapa nama kekasihmu, ah dia kekasihmu kan?”

“Lastri?”

“Betul. Itu darah Lastri. Yang melekat di tubuhmu.”

“Kenapa? Bagaimana bisa?”

***

“Ak-ku hamil, bangsat!”

Aku menghentikan pinggulku. Kedua tangannya menutupi wajahnya tapi aku bisa melihat dia menangis. Dia lalu perlahan membebaskan dirinya dari kungkungan kedua kakiku dan menutup tubuh telanjangnya dengan selimut. Aku masih mematung.

“A-anakmu.”

Aku mencoba menggapai tubuhnya tapi dia menepis tanganku.

“Anakku?”

Kami memang sering berhubungan badan tanpa pengaman. Tapi, kami selalu berhati-hati dan aku tidak pernah menyangka ia akan mengandung anakku.

“Lalu, kenapa kamu menghindar?”

“…”

***

“Kamu gelap mata, tersesat dari bimbingan sang gembala. Dan terjadilah hal itu, sebentar lagi kau akan mengingatnya.”

“Apa yang terjadi dengan Lastri? Apa yang terjadi dengan anakku?”

“Satu batang lagi boleh?”

***

Malam itu, aku menyetir dengan kecepatan tinggi. Di kursi penumpang ada Lastri yang meneleponku karena air ketubannya pecah saat ia beristirahat di kamar kos. Ia panik dan terus berteriak. Sementara aku semakin tidak fokus ke jalan dan berencana di persimpangan itu akan menerobos lampu merah. Aku baru sadar kesalahanku saat lampu truk kontainer menyala begitu terang dari samping. Tabrakan. Mobil terpental hingga ke sisi jalan. Aku terbangun dan mendengar suara Lastri memanggilku.

“Jo-joko..bangun.”

“Las..tri..”

“Selamatkan anak kita.”

Aku memandang bayi merah dalam pelukan Lastri dan tubuhnya penuh darah dimana-mana. Aku berusaha meraihnya dan keluar dari mobil yang terbalik ini. Bayi ini harus aku bawa ke tempat yang aman. Lalu, setelah beberapa langkah, aku teringat Lastri, dia pun harus diselamatkan. Namun, mobil sudah terbakar api. Aku berbalik dan memeluk lebih erat bayi ini. Dia tidak boleh kedinginan. Sambil berjalan terseok, dan meneteskan air mata, aku mengumpulkan kekuatan. Rumah sakit sudah dekat, tinggal 1 kilometer lagi. Tapi, tangisan bayi ini bagaikan nina bobo. Aku memejamkan mata, mataku begitu berat.

***

Si laki-laki alam kematian ini menghembuskan asap rokok ke udara.

“Boleh aku bertanya sesuatu?”

“Silahkan, aku bosan sendiri di sini, jarang yang mengajakku berbicara sambil merokok seperti ini.”

“Apakah anakku selamat?”

Dia melihat ke belakang, Joko pun mengikuti. Seseorang mendekati mereka, seorang perempuan dengan luka bakar tapi Joko langsung dapat mengenalinya. Lastri. Joko bangun dari duduk dan memeluknya. Lastri pun balas memeluk.

“Maafkan aku.”

Lastri berkali-kali meminta maaf. Seharusnya aku, pikir Joko. Dia tidak menjawab apapun hanya memeluk wanitanya lebih erat.

“Apakah aku perlu menjawab pertanyaan terakhirmu?”

Joko pikir ia tidak perlu tahu jawabannya. Pikirnya kalaupun terjadi sesuatu padanya, ia, laki-laki alam kematian ini akan mengantarnya pada kami. Joko melepaskan pelukan dan menggenggam tangan Lastri yang tidak lagi halus karena luka bakarnya.

“Itu lorong kalian. Berjalanlah ke sana. Soal tempat terakhir kalian, itu hak prerogatif Si Bos. Jadi jangan salahkan aku ya.”

“Ini. Bawalah.”

“Ah! Terimakasih!”

Joko melemparkan kotak rokoknya yang terakhir dan berjalan berdua bersama Lastri ke lorong cahaya itu.

***

“Mereka menyayangimu. Bahkan dari sebelum kamu lahir. Kamu bisa memaafkan mereka kan?”

“…”

“Bagus. Sini main sama, Om. Ada tempat lain untukmu. Om antar. Ah iya, di bungkus ini juga tertulis ‘Merokok dekat anak berbahaya bagi mereka’. Aku matikan dulu rokoknya ya.”

Laki-laki alam kematian mengangkat bayi merah itu ke dalam pelukannya. Mengayunnya dalam gendongan dan berjalan jauh hingga hilang ke suatu tempat.

*Terinspirasi dari Line Webtoon Korea dengan judul ‘About Death’ karangan Sini/Hyeono dan cerpen ‘Darah di Tubuh Joko’ oleh Ajen Angelina

AISAHAR – Ceritera Agustus #3 Dua Wanita

Meyda mendongak ketika mendengar bunyi pintu pagar tetangganya bergeser dan sebuah suara mengucapkan selamat pagi. Yani, sedang bersiap-siap memburu omprengan ke kantor. Meyda melemparkan senyuman dan melambaikan tangan. Busa-busa sabun yang berada di tangannya langsung menjalar turun membasahi lengannya. Sejenak Yani memandanginya sebelum melambaikan tangan lalu tergesa-gesa melanjutkan perjalanan.

Merasa sudah cukup menimbulkan kesan sebagai ibu rumah tangga yang baik pada tetangganya itu, ia mengangkat kembali ember cucian ke dalam rumah. Lalu, dikeringkan tangannya dan dikenakannya sarung tangan plastik di kedua tangannya. Ia ambil duplikat kunci yang ia simpan di lubang udara. Ia bersiap. Memasuki rumah tetangganya.

Sambil tetap mengawasi keadaan. Ia berjingkat masuk melalui halaman belakang yang tersambung. Dicobanya duplikat kunci tersebut dan voila! pintu terbuka. Segera ia masuk dan tutup kembali pintu belakang rumah tersebut. Ia tersenyum puas. Kini ia siap menjelajah rumah yang membuatnya penasaran itu.

***

Seseorang menjelajahi basis data FBI pagi ini dan itu Yani. Yani sudah bekerja sebagai agen rahasia pemerintah hampir setengah masa hidupnya. Kali ini, sambil membuka laptop di kursi belakang taksi dia menjelajahi daftar buronan. Ya, dia terpaksa menggunakan taksi karena omprengan sudah habis. Ia tersenyum tipis melihat daftar buronan tertangkap yang kebanyakan adalah hasil pengejarannya. Kali ini dia penasaran akan sesuatu, ia merasa pernah melihat wajah wanita itu. Hanya saja baru kali ini ia berani melakukan penelitian. Sekarang ia memutuskan untuk mempercayai lagi instingnya.

***

Meyda melenggang masuk dan memperhatikan interior ruangan itu. Terlalu rapih dan simpel untuk seorang perempuan karir yang tinggal sendirian. Seharusnya sedikit berantakan karena ia paham kebanyakan perempuan tidak serapih ini bila tinggal sendirian. Tidak ada TV. Tidak aneh juga, mungkin dia wanita kekinian yang tidak suka sinetron dan lebih suka browsing internet atau.. ya.. dia penggemar buku. Ada tiga lemari penuh buku di ruang tengah dan kursi malas. Dilihatnya daftar buku dan dia menemukan satu buku aneh di sana. “Patologi Mamalia” di antara buku hukum, novel dan majalah. Ia mengambil buku tersebut dan terdengar suara gemuruh dan terasa getaran di lantai. Ia mendatangi sumber suara. Ruang rahasia milik tetangganya terungkap dan ini tambah menarik untuknya.

***

Yani memasukkan lokasi sebagai dasar pencarian. Lalu, rentang umur dan jenis kelamin buronan yang ia cari. Aplikasi basis data FBI lalu memulai menyusun data dan memuncul satu persatu nama dan foto buronan. Yani sedikit mengurut kening karena masih banyaknya daftar nama yang belum tertangkap. Lalu, sekilas wajah itu muncul dan terus turun ke bawah daftar. Ia menekan tombol enter dan menghentikan penyusunan daftar nama. Dengan cepat, ia men-scroll ke bawah untuk menemukan lagi wajah itu.

***

Ia memperhatikan penyimpanan botol anggur di sebelah kiri tangga masuk. Salah satunya botol wine tahun 1938. Terpampang pula sebuah lukisan buatan pelukis terkenal dari Bali di ruangan rahasia tersebut. Sofa di ruangan itu juga lebih empuk dan desainnya lebih modern. Di tengah ruangan, terpasang TV layar lebar dan sound system dari merk premium. Ia takjub dengan semua barang yang memenuhi ruangan tersebut dan kelihatannya cukup mahal dan asli. Tangannya memegang kedua pipinya, menahan senyumnya agar tidak terlalu lebar.

***

Wajah yang sama tapi nama yang berbeda. Yani sudah menduganya. Instingnya tidak pernah salah. Ia lalu mencari handphonenya hendak mengkonfirmasi ke markas besar. Ternyata terjatuh ke bawah jok. Betapa terkejutnya dia, indikator penyusup ke dalam ruangan rahasianya menyala. Yani lalu meminta supir taksi memutar arah. Rahasianya bisa saja terbongkar saat ini juga.

***

Meyda lalu membuka salah satu laci di meja kerja. Ia mengambil berkas di sana. Ia membukanya, terbelalak lalu menutup kembali berkas dan menyusunnya di tempat yang sama. Ia salah memasuki rumah. Begitu dia sadar, ada sinar laser di pijakan terakhir tangga masuk. Sinar laser itu pasti memicu sebuah peringatan untuk pemilik rumah dan ia mungkin sudah menyalakan pemicunya. Ia bergegas keluar.

***

Sedikit lagi menuju gang menuju rumahnya. Ia melepaskan pengaman dan memasang peredam pada pistol saku yang ia simpan di dalam blazernya. Ia mengatur nafas dan menyusun skenario kenapa ia kembali lagi ke rumah. Segala macam yang dilakukannya tidak boleh mengundang keramaian. Warga sini tidak boleh tahu ada agen rahasia yang tinggal di lingkungan mereka. Sedikit lagi sampai.. 15 meter.. 10 meter. Lalu suara di belakang mengagetkannya.

“Eh, Neng Yani! Kok tumben sudah pulang?”

“Eh, Ceu Meyda, Iya, Ceu, aku gak enak badan jadi cuma absen dan terus izin pulang.”

“Sakit, Neng? Mau aku masakin bubur?”

“Gak, gak apa-apa. Diistirahatin aja pasti sembuh.”

Yani terkejut namun sedikit lega. Ternyata bukan tetangganya yang memasuki ruangan rahasia karena dari penampilannya yang membawa plastik belanjaan berisi sayur mayur tampak tetangganya ini baru saja dari pasar. Walau ia yakin, tetangganya mungkin adalah buronan yang dicari itu. Setelah berbasa-basi sebentar ia masuk ke dalam rumah. Tetangganya, Meyda pun masuk ke dalam rumah, meletakkan kembali sayur mayur ke dalam tempatnya di kulkas. Ia bersyukur masih mempunyai stok sayuran di kulkas yang memperkuat pencitraannya.

Isi kepala Meyda bercampur aduk, ia tidak ingin lagi meninggalkan suaminya. Mas Yudi itu suami ke 4 dan ia tidak ingin menikah lagi. Tapi, di sini tidak lagi aman buatnya. Jangan-jangan Yani agen FBI itu sengaja pindah untuk menangkapnya. Begitu pula dengan Yani, pertanyaan di otaknya, siapa yang berhasil memasuki ruangan rahasianya tanpa terdeteksi. Apakah ada orang lain di kompleks ini yang pelaku tindakan kriminal selain Meyda dan mengetahui jati dirinya? Tanpa mereka sadari, tukang bakso kesukaan mereka berdua melenggang lewat. Tidak ada beban, tidak ada pikiran berat, hanya bertanya-tanya kenapa hari ini dia tidak dipanggil.

Putar arah – Ceritera Agustus #2 TKBMHTK

Laki-laki itu, memesonaku sejak awal aku melihatnya berdiri di atas panggung dan meneriakkan yel-yel, tentang kemerdekaan, tentang persatuan, tentang kebebasan, tentang berbagai macam wacana yang tidak mampu aku rengkuh dalam sekali teguk. Tetapi dia, yang berahang teguh, berkulit terang dan bermata tajam itu, berhasil meraih aku dalam satu kejap rengkuhan ketika entah dari mana batu-batu berjatuhan.

“Lihat sekelilingmu bila berjalan!”

“A-ayah..”

Laki-laki yang tadi berdiri di atas panggung sudah menghilang. Ia sudah beranjak ke daerah lainnya. Aku palingkan pandangan lagi dan ayahku selesai membersihkan dirinya yang terkena sedikit batu.

“A-ayah tidak apa-apa?”

“Tidak apa-apa. Laki-laki itu, siapa namanya tadi? oh iya Gayus. Kata-katanya memukau, tapi aku tidak melihat itu dari matanya. Apa ada yang terluka dari dirimu?”

“Ti-tidak, Yah.”

Ayah tidak bisa melihatnya. Dia begitu gagah, suaranya bagai buluh perindu dan karismatik. Aku dengar dari teman sebayaku dia adalah satrio piningit, ksatria yang sempat disembunyikan oleh nasib dan diramalkan akan menolong bangsa kita keluar dari penjajahan.

“Ayo, kita bersiap untuk malam ini. Kita harus mencari makan dan tempat yang makan.”

“Ba-baik, Yah.”

***

Di pasar darurat aku kembali bertemu dengannya. Ia masih semangat berteriak lantang di atas panggung sana. Padahal aku tahu dia melakukannya hampir seharian. Sungguh sangat besar dedikasinya untuk bangsa ini. Tapi, aku harus segera pulang dan bertemu ayah di titik pertemuan. Ayah bilang pasar darurat tidak begitu aman karena hingar bingarnya namun kami harus membeli persediaan makanan.

“Kode merah!”

Seseorang berteriak dan mengakibatkan kerumunan pasar jadi kacau. Semua orang berlari mencari perlindungan. Kode merah adalah sandi kami untuk serangan musuh. Aku mencoba menuju arah titik pertemuan tapi kerumunan orang mendesakku ke arah sebaliknya. Aku bisa melihat sekilas bayangan ayah. Dia memberi isyarat “pergi” dan berteriak,

“Cari perlindungan!”

Aku lalu berbalik dan mengikuti arus kerumunan.

***

Aku berlindung di sebuah rumah kosong. Aku bisa mendengar suara senapan mesin dan dentuman ledakan. Ruangan tempatku bersembunyi sangat gelap dan aku tidak nyaman berada di dalam sini. Tiba-tiba suasana hening. Aku berencana pergi setelah situasi tampak aman. Tapi, pintu rumah dibuka seseorang dan ia masuk terburu-buru ke dalam rumah.

Dari luar rumah terdengar suara derap sepatu.

“Sial, kemana dia pergi? Kalian cari ke sana dan kamu ke sebelah sana!”

Suasana hening kembali. Hanya terdengar suara letusan senapan dari jauh. Aku berangsur beranjak keluar tapi kemudian bertabrakan dengan seseorang. Aku ingin berteriak tapi tangannya lebih cepat menutup mulutku.

“Jangan bersuara!”

Gayus! Dia di rumah ini bersembunyi bersamaku. Syukurlah karena temaramnya ruangan dia tidak bisa melihat pipiku. Aku bisa merasakan pipiku memerah dan memanas karena pria yang aku suka berada tidak jauh dariku. Ia berbisik kepadaku.

“Kita tunggu sedikit lebih lama. Bisa saja keheningan itu tipuan.”

“I-iya.”

Jantungku berdegup kencang dan aku memilih mengambil jarak darinya. Ia bisa saja mendengar suara jantungku.

“Apa kalian menemukannya?”

“Tidak komandan!”

“Sial. Kita harus bisa menangkap provokator satu itu! Kita cari ke arah utara, aku lihat beberapa penduduk lari ke arah sana!”

Benar kata Gayus. Pasukan musuh masih ada di sekitar sini. Kali ini, dia menyelamatkan diriku. Selain hatiku ditawan olehnya.

“Sekali lagi, tunggu di sini,” kata Gayus.

***

Sambil menunggu, dia menanyakan siapa diriku. Aku katakan padanya dari mana asalku dan tentang ayahku. Lalu dia memegang daguku dan menatap lekat mataku.

“Kamu ternyata cantik.”

Aku memalingkan pandanganku darinya dan menepis tangannya dari daguku. Aku tidak bisa menatap matanya lama-lama. Apalagi dia baru saja memujiku seperti itu. Tanpa kami sadari keadaan di luar sana sudah hening. Kami lalu memutuskan untuk keluar dan sepakat menuju titik pertemuan dengan ayahku.

***

Saat kami datang di titik pertemuan, ayah tampak cemas dan wajahnya berubah ceria saat kami datang.

“Kau tidak apa-apa?”

“Ti-tidak, Yah.”

Selain ayah dan kami, ada sejumlah orang yang mencari perlindungan di titik pertemuan tersebut. Ada pria dewasa yang terluka dan beberapa orang wanita dan anak kecil yang menangis. Malangnya bangsaku, terjajah di negerinya sendiri.

***

“Kode Kuning!”

Seseorang berteriak lagi. Kode kuning artinya musuh terlihat dekat dengan tempat kami berada. Dimana kami bisa tenang dan aman? Setiap hari seperti domba yang dikejar serigala.

“Sial, militer musuh ada di dekat sini. Kita harus memecah. Gayus, apakah kau ada ide?”

“Mana aku tahu, Pak. Aku hanya pembangkit semangat bukan prajurit.”

Aku bisa melihat mimik muka ayah menjadi terlihat geram.

“Saat ini semua orang adalah prajurit, Gayus!”

“Jika tidak ada aku, siapa yang bisa mengerahkan pasukan perlawanan?”

Ayah tampak menahan amarahnya. Ia lalu berpaling kearahku dan membawaku ke sudut yang sedikit jauh dari Gayus.

“Katakan padaku kamu tidak menyukai dia.”

“A-aku tidak suka dia, Yah.”

“Janjilah padaku! aku tahu kamu menyukainya. Aku bisa melihat sorot dan caramu memandangnya. Janjilah padaku.”

Aku menunduk sebentar dan kemudian mengangkat lagi wajahku lalu menatap mata tajamnya.

“Aku janji padamu, Yah.”

Di belakang punggung, aku menyilangkan jari telunjuk dan jari tengahku.

“Bagus. Kita tunggu apa keputusan..”

“Kode jingga! Kode jingga!”

Kode jingga! Musuh menuju kemari!

“Sial! Semuanya! Laki-laki yang tidak terluka dan masih muda, ikuti aku!”

Suara ayah membuat beberapa orang pemuda berdiri dan berkumpul ke arah kami. Ayah menatapku, pandangan yang tidak aku sukai. Kedua tangannya memegang pipiku lalu bibirnya mengecup hangat tepi keningku. Seakan dia.. akan pergi jauh.

“Sayang, aku akan berusaha tetap hidup dan kaupun hiduplah. Ikut bersama yang lain, wanita dan anak-anak ke tempat pertemuan di timur. Di sana lebih aman karena pasukan perlawanan sudah bersiap dengan senjata rampasan.”

“La-lalu, ayah kemana?”

“Kami akan mengalihkan perhatian musuh ke barat. Kalian larilah ke arah timur.”

“A-ayah!”

“Kau putriku. Kau pasti tangguh. Aku pun tidak mudah mati.”

Ayah tersenyum. Dia selalu tidak bisa berbohong. Dia sendiri pun tidak yakin.

Lalu ayah dan pemuda lain beserta Gayus berkumpul dalam satu kelompok. Gayus tampak lebih resah dari yang lain. Mungkin karena dia seperti dia bilang tadi, bukan prajurit. Mereka berlari keluar dari titik pertemuan terlebih dahulu. Selang beberapa menit kemudian, kami rombongan yang melarikan diri keluar ke arah timur. Aku sengaja berlari agak terlambat karena memiliki rencana. Tepat setelah rombongan berlari semua dan meninggalkanku, aku memutar arah. Aku katakan pada diri sendiri.

“Aku pun tangguh seperti ayahku. Aku juga bisa berlari cepat dan tidak mudah mati.”

***

Aku mulai kelelahan, selama lari ini kenangan bersama ayah satu persatu terlintas dan air mataku menggenang karenanya. Aku harus menyekanya berkali-kali agar dapat melihat lebih jelas. Lalu, meskipun kabur, tapi aku dapat melihatnya. Aku tidak percaya melihat dirinya. Dia berlari ke arah timur. Tidak seharusnya dia berlari bersama rombongan ke arah itu. Aku melihat… Gayus. Tidak lama setelah itu, rentetan suara peluru ditembakkan. Aku mendengar teriakan-teriakan. Aku melihat lagi ke arahnya pergi. Ia sudah menghilang. Ke kedalaman hutan. Tidak lama kemudian, aku memutuskan memutar arah lagi dan menyusul ke arah yang sama.

“Aku tidak boleh membiarkannya hidup. Demi Ayah.”

Lelaki Favorit – Ceritera Agustus #1 Pulang

Hari sudah menjelang petang ketika aku sampai di rumah. Kubuka gerbang tanpa suara. Aku yakin ada orang di dalam karena gorden masih terbuka dan ada bias-bias cahaya dari lampu duduk di ruang tengah. Kuketuk pintu pelan-pelan. Sebuah wajah yang amat kukenal menyembul begitu pintu terbuka.

“Ah, kamu.”

Aku masuk ke dalam. Mengitarinya perlahan. Memperhatikan apakah ada yang berbeda darinya. Kepalaku dielusnya.

“Aku merindukan dirimu.”

Aku duduk berdua dengannya di ruang tamu. Dia selalu punya ribuan cerita untuk diceritakan dan aku penggemarnya.

“Kali ini yang mana ya?”

Terserah kau saja. Aku akan diam dan mendengarkan. Aku rebahkan kepalaku di pangkuannya. Kalau ada surga di dunia tentunya adalah pangkuannya dan suaranya yang lembut. Sambil masih mengelus kepalaku dia memulai cerita.

“Ini tentang seorang perempuan yang aku cintai.”

Apa? Adakah yang lain yang ia cintai? Kepalaku sedikit terangkat ke atas dan elusannya berhenti.

“Kau cemburu? Haha tenanglah. Dia sudah pergi.”

Aku kembali membuat diriku nyaman dan menurunkan kepalaku lagi.

“Dia adalah mantan istriku. Seseorang yang dulu adalah duniaku.”

Ia bercerita tentang perempuan itu. Yang matanya terang, pipinya merah dan kulitnya lembut. Tentang masakan perempuan itu yang terlalu asin tapi selalu dia rindukan. Tentang kehidupan bersamanya hingga saat perempuan itu terpaksa ia lepaskan. Perempuan itu memilih untuk lupa dan meninggalkannya. Sepertinya itulah yang merebut semua cahaya hidup dari lelaki ini.

“Aku tidak pernah lupa bagaimana rasa kue dan senyum terakhirnya. Aku marah tapi sekaligus aku rela jika itu jalan yang terbaik baginya.”

Dia menghentikan mengelus kepalaku dan menatap lurus ke suatu sudut yang kosong. Nanar pandangannya. Kemudian dia meneteskan air mata yang lalu ia seka dengan tangan kirinya. Setelah itu, ia menatapku.

“Apakah kau lapar? Aku ke dapur dulu untuk mengambil makanan untukmu. Permisi.”

Dia berdiri. Tubuhnya tidak lagi tegak dan kau bisa melihat punggung itu pernah menanggung kesedihan dan penderitaan yang berat. Rambutnya warna perak dan kulitnya keriput. Dia cukup tua tapi dia tetap lelaki favoritku.

‘Bruk’

Sesuatu jatuh di dapur. Aku berdiri dan berlari ke arah sumber suara. Dia terjatuh dan tidak bergerak lagi. Aku mencari tanda-tanda kehidupan tapi sudah lenyap entah kemana.

Aku berkeliling dan bolak-balik ke sana kemari. Apa yang harus kulakukan. Aku tidak bisa menelepon atau menghubungi orang lain. Aku keluar dari pintu yang sama aku masuk. Aku berlari keluar. Lalu menggonggong, sekuat-kuatnya menggonggong.

Tolong, seseorang tolonglah tuanku! Tuhan, siapa saja. Tolonglah lelakiku.

Di Balik Kerja Keras – Ceritera Juli #19 Masa Depan

‘maaf. karyamu masih belum masuk kriteria kami.’

‘coba lagi untuk lain kali ya. maaf.’

‘kami belum menemukan yang kami cari pada karya-karya anda. terimakasih sudah mencoba.’

Aku masih membaca pesan-pesan dari para wakil penerbit buku. Semuanya menolak dan tidak tertarik dengan karyaku. Kata mereka karyaku terlalu biasa dan tidak ada yang wah. Aku mengakui. Haah. Aku menghela nafas panjang. Aku sudah begadang dua malam dan suhu tubuhku sepertinya meningkat.

‘Ting-tong’

Seseorang menekan tombol bel apartemenku. Aku lihat dari lensa. Aku ingin memastikan apakah itu ibu yang punya apartemen atau tukang tagih lainnya. Tapi tidak, hanya seorang anak kecil yang berpakaian aneh.

“Ya?”

“Apakah anda ini Pak Rey?”

“Iya, tapi panggil aja mas Rey, dik”

“Ah, iya Mas Rey. Saya sungguh tidak percaya! Saya sangat senang!”

“Wait. Kenapa?”

“Anda ini terkenal loh! Saya datang dari masa depan hanya untuk bertemu dengan anda!”

“Hah?”

Hampir sejam dia menjelaskan segalanya dan membuktikan dia benar-benar datang dari masa depan.

“Jadi, karena tulisanku?”

“Iya, di masa depan. Semua karya anda dinilai dengan harga tinggi. Banyak film dan sinetron yang diadaptasi dari karya anda.”

“Tunggu, dapatkah kamu membawa aku ke masa depan yang itu.”

“Pegang tangan saya.”

Aku memegang tangannya lalu gelang di tangannya bersinar terang dan mataku silau karenanya. Saat aku membuka mata, kami berada di dalam sebuah museum berarsitektur unik.

“Lihat ke belakang anda”

Aku tidak percaya. Sebuah diorama persis dengan ruangan tempatku menulis di apartemen. Di situ ada patung lilin diriku yang begitu mirip hingga ke pori-porinya. Dia, tiruan diriku, menggunakan masker, tampak sedang demam namun masih mengetik di laptop.

“Ini disebut stage ‘tidak menyerah’. Anda dikenal dengan kerja keras anda. Saat sakit pun anda masih tetap menulis dengan semangat.”

Aku terdiam dan mengangguk dengan penjelasan dari anak itu.

“Stage di sampingnya, ‘open mind’, anda menyerap banyak gaya menulis dan berbagai genre tulisan namun meramunya menjadi karya yang khas anda.”

Stage itu berupa patung lilinku dengan dikelilingi tokoh ceritaku yang berupa laki-laki, perempuan, dan bahkan hantu. Lalu, aku mengenali salah satunya. Perempuan Hujan, tokoh cerita favoritku. Dia mirip dengan deskripsiku dalam cerita. Tampak sedang membaca buku di bawah payung. Aku sangat senang.

“Ah!”

Seseorang berteriak dari belakang kami. Ternyata salah seorang siswi yang sedang tur ke museum ini.

“Teman-teman, itu Rey!”

Lalu segerombolan siswi mengerubungi kami.

“Apakah anda datang dari masa 200 tahun yang lalu? Aku penggemar berat karya anda. Kami dari jurusan sastra SMA. Bisa minta tanda tangan anda.”

Dia menyerahkan sebuah perangkat semacam tablet yang ada judul karyaku di layarnya.

“Bagaimana cara menulis di atas ini?”

“Oh maaf, begini caranya.”

Sesi tanda tangan hingga puluhan perangkat yang aku tanda tangani. Setelah itu kami wefie bersama dengan kamera drone berukuran kecil namun memiliki resolusi sangat tajam untuk hasil potretannya. Masa depan sungguh luar biasa. Aku berkeliling ke setiap stage.

“Dan ini karya terakhir anda.”

Sebuah buku yang terlihat klasik di antara perangkat digital dan desain yang futuristik. Aku baca judulnya, ‘Serendipity’. Haha. Apa yang aku pikirkan saat memilih judul itu?

***

“Saya pergi, Pak. Terimakasih, atas waktunya. Saya sangat menghargainya.”

“Sama-sama.”

Dia pun menghilang dengan kilatan cahaya yang menyilaukan. Aku membuka pintu. Aku pandangi ruang kerjaku yang berantakan.

“Hatchim!”

Aku ambil masker dan melanjutkan menulis. Semangat!.

Di Balik Rindang Desamu – Ceritera Juli #18 Tiket Kemana Saja

Ada yang pernah bilang,

‘cinta pertama di musim panas akan segera terlupa seperti demam tapi dia tidak pernah benar-benar pergi, dia masih di situ dan kau usung kemana-mana’

***

Musim panas 10 tahun yang lalu. Saat itu aku masih seorang gadis yang cantik jelita. Karena itu pula, Ayah memintaku untuk berlibur ke desamu saja saat musim panas. Jauh dari godaan laki-laki kota dan polusinya. Perjalanan yang hanya bisa ditempuh oleh bus yang hanya sekali berangkat dan pulang. Serangga musim panas di desamu rajin sekali berdendang saat siang dan sinar matahari berkejaran dengan bayangan daun pohon. Aku membetulkan topi jeramiku dan mengangkat koperku yang baru saja disimpan kondektur bus di tanah. Aku berbalik dan melihat lapangan baseball dimana kau sedang bersiap memukul. Karena melihatku kamu melewatkan bola. Sambil diiringi teriakan temanmu yang memintamu kembali, kamu berlari ke arahku dan menawarkan bantuan mengangkat bawaanku.

“Bolehkah aku bantu? Sepertinya berat.”

Aku begitu saja percaya padamu dan mengizinkanmu membawanya. Kau bertanya kemana aku akan pergi. Lalu berkata,

“Aku tahu dimana itu! Aku antar. Gratis.”

Teman-temanmu di lapangan menyoraki kamu yang berjalan berdua denganku. Aku menarik ujung topi jerami dan menutupi wajahku yang memerah. Entah karena panas matahari atau malu.

Di depan gerbang rumah paman, kau simpan kembali koperku di tanah dan berjanji,

“Besok aku akan menunggumu di sini. Aku bisa mengajakmu keliling desa. Desa ini sangat indah.”

Aku hanya tersenyum dan berterimakasih. Senyummu lebar dan kamu bagaikan tidak merasakan panasnya hari ini. Berlari seperti anak kecil dan melambaikan tangan hingga kau berbalik dan kembali ke lapangan.

***

Saat aku membuka pintu gerbang rumah paman di keesokan paginya aku menemukanmu berteduh di bayangan pagar. Kamu mengenakan baju kotak-kotak dan celana pendek. Di bahumu ada tongkat pancing digantungkan yang menunjukkan kamu akan bawa aku kemana. Kamu tarik tanganku dan mengajakku berlari. Sepertinya berlari adalah hal kesukaanmu dan kamu tahu? kamu lelaki pertama selain Ayah yang menggengam erat jemariku.

Kita pun tiba di pinggir sungai yang deras tapi tidak terlalu dalam. Kamu memintaku melepas sandalku dan mencoba membasahi kaki dengan air sungai. Ikan-ikan berenang di antara kaki kita dan kamu lagi-lagi sangat bahagia. Sambil berpegangan tangan, kita bermain air dan mencoba menangkap ikan dengan tangan. Saat aku tertawa lepas, kamu tiba-tiba terdiam tapi masih tersenyum menatapku. Kamu bilang,

“Kamu cantik.”

Aku yang malu segera naik ke tepian sungai dan mengeringkan ujung rok panjangku yang basah. Kamu mengambil tongkat pancing dan melemparkan kail berumpan ke tengah sungai. Tak berapa lama, kamu berteriak,

“Lihat! Lihat! Aku dapat ikan!”

Aku takjub melihat ikan yang kamu tarik keluar dari air meliukkan ekornya di udara lalu terjatuh di tepian. Kamu menahan gerakan ekornya dengan tangan lalu ia pun berhenti bergerak. Dengan tangkas, kamu olah ikan itu dan menyiapkan api lalu ikan itu siap dibakar. Tanpa aku sadari, kita pun larut dalam tanya jawab tentangku dan tentangmu sambil menunggu ikannya siap disantap. Kamu yang anak seorang petani cokelat di desa ini dan bercita-cita menjadi seorang abdi negara. Lain denganku yang tidak punya mimpi apa-apa selain menjadi istri yang bahagia dan penulis cerita. Sambil tersenyum kamu menatap setiap aku berkata. Aku lupa membawa topi jerami favoritku sehingga aku tidak bisa menutupi pipiku yang memanas dan merah.

Kamu lalu mengalihkan pandanganmu ke ikan itu dan menariknya dari panggang. Kamu mencoba secuil lalu memintaku juga ikut mencobanya. Sungguh ikan terenak yang pernah aku nikmati. Kamu tertawa melihatku yang terpukau rasa ikan. Dengan jari telunjuk kamu menunjuk ada bekas bumbu di ujung bibirku. Aku berusaha menyeka. Tapi jarimu menyeka dan memegang sebagian dagu dan pipiku. Aku tidak tahu kenapa aku menutup mata dan merasakan wajahmu mendekat. Inikah ciuman pertamaku di tepian sungai dan di bawah mentari musim panas? Tapi tidak, kamu memencet hidungku dan ketika aku membuka mata kamu sedang tersenyum lebar.

Aku yang malu berdiri dan berlari ke arah rumah paman. Tapi tali sandalku terlepas. Aku kesal, kenapa seluruh dunia mendukungmu hingga ke tali sandalku. Aku sendiri lupa kemana pastinya arah rumah paman. Kamu menyusulku, menjatuhkan kedua sandalmu dan memintaku memakainya. Sambil menuju ke arah rumah, kamu berjalan bertelanjang kaki, menenteng sandalku yang rusak di tangan kiri dan memenggam tanganku di tangan yang satunya. Di tengah perjalanan, di antara bayangan daun dan sinar mentari yang masih berusaha menelusup ke wajahku, kamu menciumku.

Kemudian, tidak ada lagi jalan-jalan ke luar, paman memintaku mengikutinya kemana saja. Berkebun, menaiki kuda di peternakan. Di tengah kegiatanku bersama paman, aku sering melihat ke arah gerbang. Aku kadang melihat bayangan kamu di sana. Kamu menunggu.

Hingga hari kepulangan, paman memaksa mengantarkan ke halte bus itu. Tempat aku pertama bertemu denganmu. Saat melewati gerbang, aku benar-benar melihatmu. Kamu menunggu di sana dan berdiri saat mobil melewati gerbang. Aku mencari di mana topi jeramiku dan melemparnya ke luar. Paman tidak tahu apa-apa tentang dia. Paman fokus menyetir saja. Aku melihat bayanganmu dari spion. Kamu memungut topi jerami yang aku lemparkan. Aku merasa tidak berterimakasih atas semua yang kamu lakukan, semua yang merebut hatiku.

***

‘Ting-Tong’

Aku melihat dari lensa pintu. Seorang berseragam hijau bertamu ke rumah. Aku membuka pintu dan menemukan wajah familiar di hadapanku. Kamu. Berseragam tentara. Cita-citamu. Setelah melakukan salut dan hormat, kamu bertanya padaku,

“Maaf, Nona. Saya ingin mengajak anda berdansa. Tapi, saya lupa belum menanyakan nama anda. Siapakah nona yang cantik ini? Yang datang di suatu musim panas dan tak kembali lagi.”

Aku tersenyum,

“Maaf Tuan, Puan tidak berkenan menyebutkan nama sebelum anda menyebutkan nama anda terlebih dahulu.”

Dia mengulurkan tangan mengajak bersalaman.

“Namaku Pramudityo. Nona bisa memanggilku Pram.”

Aku menyambut tangannya lalu memeluk pria musim panasku.

***

Di pesta dansa itu, temanmu yang berbeda dari temanmu di desa, menyoraki kita sebagai bintang pesta malam ini. Lalu, sambil memelukku, kamu berbisik, kamu memenangkan tiket kemana saja, tapi kau tidak bisa menentukan kapan untuk kembali. Aku peluk kamu lebih erat. Takut kehilangan. Lagi.

Di Balik Bulan yang Datang – Ceritera Juli #17 Jika Aku Bisa (4)

“Kamu! Pergi sana!”

“Yang! Maaf sih, aku kan cuma bercanda!”

Dia membanting pintu. Hanya salah ngomong dan dia marah-marah lebay kepadaku. Aku segera pergi. Sepertinya sedang terjadi jadwal bulanan dan dia seperti biasa menjelma jadi siluman ratu drama.

Di perjalanan, tiba-tiba muncul seorang kakek berpakaian aneh. Tanpa basa-basi ia bertanya padaku,

“Jika kamu bisa berubah menjadi orang lain dalam sehari saja, kamu mau jadi siapa?”

Tanpa tanya alasan kenapa dia bertanya seperti itu, langsung kujawab,

“Aku ingin jadi perempuan saja. Penasaran bagaimana jadi perempuan, Kek.”

Kakek itu tertawa dan membalas,

“Baiklah. Aku ingin lihat hasilnya besok.”

Waktu itu aku belum mengetahui maksud tawa kakek itu. Dia pun segera menghilang dalam kegelapan. Esoknya aku tahu, aku terbangun dengan bentuk tubuh yang berbeda. Aku menjadi seorang perempuan!

***

Aku masih mematutkan diriku di depan cermin. Hmm. Cukup seksi juga. Payudara tumbuh di dadaku. Jakunku menghilang dan rambutku menjadi berkilau. Aku kibaskan ke kiri dan ke kanan. Luar biasa. Asyik juga jadi perempuan. Not Bad. Lalu, aku tiba-tiba lapar dan ingin sekali makan. Aku ke dapur dan membuka kulkas. Tidak ada apa pun. Hanya ada air mineral, bir, makanan dingin, air mineral, bir, dan makanan dingin. Aku mengutuk diriku sendiri dan melayangkan pandangan ke sekeliling dapur. Aku teringat aku pernah menyimpan rempeyek kacang di salah satu kaleng. Segera aku tarik dari tempatnya dan bawa ke depan laptop.

Sambil browsing tentang tubuh wanita aku merasakan ada yang salah dengan perutku. Apa rempeyek kacang yang aku makan sudah kadaluarsa? Aku ingat-ingat lagi dan tidak ada yang salah. Rempeyek kacang ini aku beli di sentranya dan dimasak pada hari itu juga. Seminggu sudah kadaluarsa? Lagian aku belum pernah dengar rempeyek kacang kadaluarsa. Ya kan? Aku berangsur ke WC dan melihat sesuatu di cermin. Aku teriak sekencang-kencangnya begitu menyadari hal itu.

***

Begitu menyeramkan yang perempuan alami tiap bulan! Rasa sakitnya tidak menyenangkan. Aku membuat kompres air hangat setelah browsing beberapa situs kesehatan wanita. Aku tidak mungkin keluar. Aku membuat coklat hangat dan meringkuk di tempat tidur.

Aku menelepon beberapa teman perempuan yang terdaftar di kontak handphone. Kebanyakan dari mereka mengira aku orang yang berbeda karena suaraku berubah menjadi lembut. Aku teringat beberapa hal yang mungkin membuat mereka kesal padaku. Terakhir aku telepon Ibu.

“Ibu, aku minta maaf”

“Kamu kenapa? Ini benar anakku?”

“Benar, Bu. Aku anakmu yang paling ganteng dan gak pulang-pulang ke rumah.”

“Oh iya benar kalau begitu. Kenapa kamu meminta maaf? Kamu sakit?”

“Gak apa-apa, Bu. Maafin aku ya. Pokoknya maafkan saja.”

“Ya sebelum kamu meminta maaf, sudah ibu maafkan kok. Kamu kapan pulang?”

“Pengennya sih hari ini, Bu. Huaaa.”

“Lho kok, malah nangisnya tambah kencang? Kamu cowok, gak boleh nangis gitu.”

Aku malah tambah kencang menangis. Anakmu jadi perempuan begini, Bu.

“Anakku yang ngakunya paling ganteng. Udah. Gak apa-apa kamu gak mau cerita ada apa, tapi yang tangguh ya, Nak. Jangan cengeng. Ibu sayang kamu. Cepat pulang.”

“Iya, Bu. Segera aku usahakan ke sana.”

Ibu. Telepon selesai. Aku menarik selimut. Aku tidak tertarik lagi dengan payudara dan tubuh wanitaku. Sakitnya luar biasa. Aku menangis dan tidak tahu kenapa begitu sedih dan tidak terkendali. Letih menangis dan akhirnya aku tertidur.

***

“Bro. Lo kemana aja? kok gak nongol hari ini?”

Suara cowok di dalam kamarku. Aku bangun terkejut dan menarik selimut menutupi tubuhku. Aku takut dia tergoda atau malah kaget melihat perempuan di rumah temannya.

“Bro. Ada apa? Lo gak pake celana?”

Aku mengintip ke dalam selimut. Tubuhku sudah kembali. Aku masuk ke kamar mandi sambil memperhatikan seluruh tubuh. Yes. Sudah normal lagi. Ya Tuhan, terimakasih!

“Bro, sehat lo?”

“Hehehe. Gw ganteng ya kan?”

“Lo salah minum obat ya?”

Aku hanya meringis.

***

“Yang, banyak sekali. Apa ini?”

“Kamu perlu stok ini. Terus ini coklat. Ini stok cemilan. Lalu, kata mbak-mbak aflamart yang tahan tembus yang ini.”

“Kamu kenapa? Tumben.”

“Udah, sini aku peluk.”

“Yang?”

Dia memang tidak perlu tahu apa yang terjadi. Tapi, buat cowok-cowok di luar sana, please do this at home and do this treat to your girlfriend or your wife. If you have any. Mereka bukan siluman ratu drama tapi ini biologis. Wajar. Hehe.

Di Balik Maaf – Ceritera Juli #16 Jika Aku Bisa (3) – Another Version

“Atha, ada yang datang.”

“Siapa, Bi?”

….

“Hai.”

Lalu, kau memelukku dengan mata sembab. Pipimu basah dan pelukmu bertambah erat.

***

“Aku hampir saja menyesal tidak bisa bersama Bapak saat beliau.. kesakitan.”

“Maaf. Itu gara-gara aku.”

“Tidak. Aku pun egois memaksakan kehendakku. Ini balasannya.”

“Kamu sudah berusaha jadi putri kesayangannya selama ini.”

Kami duduk berdua di seberang almarhum ayahnya yang baru saja meninggal. Aku tidak tahu bagaimana caranya tapi saat aku membuka mata, aku sudah di hadapan pintu rumahnya. Yang aku tahu malam itu aku bertemu seorang Kakek di perjalananku menuju rumah. Kakek itu menawarkanku sebuah permintaan yang akan ia kabulkan hanya sekali. Lalu aku di sini, di sepuluh tahun yang lalu. Saat dimana aku sangat ingin kembali.

Atha masih menangis sesunggukan. Dia sudah menangis semalaman. Peziarah datang dan pergi, berwajah muram namun lebih muram wanita di sampingku. Dia lelah dan kehilangan harapan. Saat ini aku bersamanya namun aku sebenarnya sudah meninggalkannya di waktu yang itu. Yang aku bayangkan terjadi di saat itu, dia sangat sedih, merasa ditinggalkan, merasa salah mempercayai seseorang dan aku saat ini ingin merubah itu, masa lalu yang aku tidak inginkan.

Lama kelamaan dia tertidur di bahuku. Ia sangat letih. Karena melihat anggota keluarganya yang lain sedang sibuk dengan persiapan penguburan, aku menggantikan bahuku dengan bantal lalu berdiri membantu.

***

Di antara makam-makam yang berdekatan di sebuah pemakaman dekat rumah di situlah tempat terakhir almarhum ayah Atha dikuburkan. Aku mendampingi kemana pun Atha pergi. Aku menggenggam tangannya, ikut menaburkan bunga dan berdoa di samping pusara ayahnya. Ia lalu melihat ke arahku.

“Kapan kamu pulang?”

“Setelah semua selesai aku akan pulang.”

Dia kembali menatap tanah makam.

“Kamu mirip sekali dengannya.”

“Hah? Siapa yang mirip siapa, Tha?”

“Kamu. Mirip sekali dengan Rey yang aku tahu.”

“Aku Rey, Tha.”

“Bukan. Kamu berbeda walau secara fisik kamu mirip dengannya. Kamu tampak lebih tua, lebih dewasa. Rey yang aku kenal tidak sepertimu.”

Dia tahu.

“Jadi, siapa kamu?”

Aku menceritakan segalanya. Tentang aku yang tidak bisa menepati janji mendampinginya selalu. Tentang masa depan yang berbeda hingga pertemuan dengan kakek itu. Dia tersenyum dan hanya berkata.

“Terimakasih.”

***

Setelah proses pemakaman, karena kelelahan dan setelah memastikan semua telah dilaksanakan, aku mengambil salah satu sudut dan menyendiri di sana untuk tertidur. Tanpa aku sadari, aku terbangun di kasurku sendiri di rumah. Aku lihat ke layar handphoneku dan memastikan waktu. Aku kembali. Aku cek nomor kontak Atha dan mencoba meneleponnya. Tidak ada jawaban darinya kecuali suara operator yang menyatakan aku menghubungi nomor yang salah. Tidak ada yang berubah. Kamu tidak bisa mengubah masa lalu. Aku mencoba kembali tidur dan kalau bisa mengulang kembali mimpi yang barusan aku jalani. Tidak bisa. Tidak akan pernah bisa. Sepertinya, penyesalan akan selalu jadi temanku.

Di Balik Jarum Jam – Ceritera Juli #16 Jika Aku Bisa (3)

Kami tiba di suatu masa. Aku juga tidak tahu aku dimana. Aku hanya mengabulkan permintaan anak ini. Hanya saja yang aku tahu ini di masa lalu. Kami berdiri di trotoar di samping jalan raya yang penuh kendaraan.

“Kek, jam berapa sekarang?”

“Sebentar lagi jam 5 sore. Kau menunggu jam 5 sore? Ayolah katakan kenapa kau ingin kembali ke masa ini?”

“Sebentar, Kek. Aku sedang mencari sesuatu. Apa kakek bisa melihat gedung apa itu yang di seberang?”

“Itu gedung perkantoran sepertinya dan sebentar lagi karyawan-karyawan di dalamnya akan pulang. Apa kau juga mencari seseorang?”

“Iya. Aku ingin merubah sesuatu di masa lalu. Apakah boleh, Kek?”

Aku tersenyum dan mencari sesuatu berbentuk kotak di sekitarku. Aku menemukan dua kotak rokok bekas.

“Sebenarnya merubah sesuatu di masa lalu akan berpengaruh pada masa depan. Tahu mainan yang namanya domino?”

“Gaplek?”

“Iya. Sebutannya itu juga. Jadi kalau kartu-kartu domino diberdirikan berjajar seperti dua kotak rokok ini, dan di ujungnya jatuh maka jatuh semuanya seperti ini. Jika kamu merubah masa lalu, masa depan akan berubah. Bisa jadi juga berpengaruh pada dirimu. Apa kamu siap? Apa cuma demi senyum kakak perempuan yang tadi itu?”

Dia terdiam dan berpikir sebentar lalu dengan senyum lebarnya dia menjawab,

“Ya. Tidak apa-apa. Satu kali lagi, Kek. Tolong aku. Sebentar lagi jam 5 dan ini rencananya.”

Anak ini mungkin belum berpikir sampai sejauh apa yang aku bayangkan tapi ketulusannya membuatku ingin membantunya lagi.

“Oh, ya.. aku mengerti.”

***

Lampu merah itu aku atur nyalanya dan memberhentikan mobil yang itu tepat di sebelum zebra cross. Anak itu melihatku dan berkata,

“Siap, kek?”

“Oki doki. Ayo!”

Dia menarik lenganku dan berpura-pura sebagai anakku. Aku memang belum pernah memiliki seorang anak dan sepertinya menyenangkan. Anak perempuan sepertinya.

“Ayah, tadi aku gambar Elsa, yah. Nanti kita lihat lagi ya, Yah?”

Dia sengaja memperkeras suaranya agar terdengar oleh pengemudi di dalam mobil sasaran itu. Aku tersenyum dan mengikuti rencananya. Aku tahu ini hanya pura-pura tapi aku benar-benar menikmati dan tertawa lepas.

***

“Apakah kita berhasil, Kek?”

Kami mengintip dari semak di trotoar di seberang jalan.

“Mobil itu berbalik arah dan tidak jadi lurus. Sepertinya sih berhasil.”

“Kek, apa yang terjadi? lihat jariku menjadi tembus pandang!”

Jari-jari kecilnya benar menjadi transparan. Masa depan mulai berubah dan eksistensinya terpengaruh.

“Kek, aku belum bisa pergi dulu. Aku ingin lihat apakah aku berhasil? Bisakah kita ke rumah kakak itu di masa ini?”

Aku tersenyum dan menjawab,

“Oke. Sayang ya kalau kita tidak tahu seperti apa akhirnya?”

Dia memelukku. Ah, sepertinya aku juga ingin punya anak kecil semanis ini.

***

Mobil itu berhenti di depan sebuah rumah. Pengemudinya segera turun dan masuk ke dalam rumah. Dari sini tampak terlihat ia kemudian memeluk seseorang di dalam rumah itu. Si perempuan yang di masa depan tinggal sendirian itu. Sepertinya peristiwa ini mengubah cukup banyak hal di kehidupan perempuan itu. Aku gendong anak itu di bahuku agar dia dapat melihatnya.

“Bagaimana? Puas?”

Tidak ada jawaban. Beban di pundakku pun lenyap. Anak itu sudah menghilang. Aku tidak sempat melihat wajah terakhirnya tapi sepertinya dia cukup bahagia dengan hasilnya.