Di Balik Seorang Perempuan – Ceritera Juli #15 Jika Aku Bisa (2)

Aku diam-diam mengikuti anak itu. Dia begitu senang setelah aku mengabulkan permintaannya. Dia sangat ingin mendengarkan isi pikiran seseorang tapi dia tidak mau mengatakanya kepadaku siapa. Langkahnya sangat semangat dan dia berlari ke sana ke mari. Aku yang sudah renta ini kesulitan mengikutinya.

Kira-kira siapa yang ia ingin tahu? Apakah seseorang dari temannya? Ataukah ia ingin tahu isi pikiran kedua orangtuanya? Anak sekecil itu apakah sudah punya kekasih dan ia ingin mendengarkan isi hati kekasihnya?

“Permisi.”

Dia berhenti di sebuah pintu dan mengucapkan salam setelah mengetuk pintunya. Sekitar dua menit kemudian seseorang membukakan pintu. Dari dalam rumah seorang perempuan keluar dan sepertinya mengenal anak tersebut. Perempuan itu masih muda dan cantik. Ia memeluk dan mengelus rambut anak itu. Tak lama kemudian, anak itu masuk. Dari luar aku dapat melihat perempuan dan anak kecil itu berbicara.

Sekitar satu jam kemudian, si anak kecil keluar dari rumah dan melambaikan tangan kepada perempuan itu. Sepertinya perempuan itu hanya seseorang yang dia kenal bukan saudara atau keluarganya.

“Kek. Aku tahu Kakek ada di situ. Keluarlah.”

Ternyata aku sudah ketahuan mengikutinya sejak tadi. Aku pun keluar dari persembunyian.

“Kenapa kakek mengikuti aku?”

“Hahaha. Kakek hanya penasaran, nak. Orang-orang yang selama ini kakek temui dan setelah dikabulkan permintaannya selalu berubah wajahnya rakus dan tamak. Tapi kau tidak seperti itu. Siapa wanita itu tadi?”

“Dia? Kenalanku. Kakak ini selalu mengunjungi aku dan teman-teman di panti asuhan. Wajahnya selalu gembira ketika bersama kami tapi selalu berubah jadi sedih saat ia pulang. Aku terus penasaran dan ingin mengetahui kenapa dia seperti itu. Untunglah aku bertemu Kakek dan sekarang aku tahu kenapa.”

“Jadi kenapa dia seperti itu? Apa alasannya?”

“Nah, Kek. Bisakah Kakek mengabulkan satu lagi permintaanku?”

“Anak pintar. Baiklah karena aku sedang senang saat ini akan aku kabulkan satu lagi. Apa permintaanmu?”

“Aku ingin kembali ke masa lalu.”

Aku terkejut dan anak itu tersenyum lebar.

Di Balik Dinding Tebal – Ceritera Juli #14 Jika Aku Bisa (1)

“Selamat malam”

Siapa orang ini? Bagaimana dia bisa menembus ratusan penjaga dan sampai di sini?

“Tidak usah bingung. Aku hanya ingin berbicara denganmu.”

“Siapa kau?”

“Sebelum aku menjawab pertanyaanmu, izinkan aku bercerita.”

Kenapa dia seperti bisa membaca pikiranku? Apa yang dia mau?

“Aku menyadari keanehan ini tadi pagi. Ketika aku ingin sarapan dengan donat dan cokelat hangat, tetanggaku datang dan membawakannya. Padahal dia adalah tetangga yang tidak pernah menyapa dan terkenal pelit.”

Dia mulai bercerita sambil sesekali menyeruput kopi hangat. Yang aku tahu dispenser itu hanya dapat beroperasi dengan sidik jariku. Apa mungkin dia membawanya dari bawah tanpa dihentikan oleh penjaga?

“Lalu, aku mencoba lagi meminta uang sepuluh juta lima ratus enam ribu dua ratus dolar dan seseorang mentransferkan dengan nominal yang persis sama ke rekeningku. Kau bisa melihatnya sendiri.”

Katanya sambil menunjukkan layar handphonenya ke padaku.

“Kemudian, aku mencoba ingin masuk ke kamar mandi wanita di gedung dekat apartemenku dan seperti yang diduga, tidak ada yang menghentikan dan tidak ada yang menganggapku aneh.”

“Aku menunjuk salah satu handphone mahal dan memintanya kepada kasir, dan ternyata aku diberikan begitu saja. Semua berjalan seperti biasa saja dan tidak ada kecurigaan sedikitpun dari pihak keamanan.”

Aku mendekat ke meja dan tanganku menyusuri bawah permukaan meja. Aku mencari tombol darurat.

“Boleh, silahkan pencet saja dan undang para penjaga kemari.”

Dia menantangku dan tersenyum sangat puas. Aku menekan tombol tersebut dan para penjaga langsung menyerbu ke dalam ruangan. Dia tidak kabur malah meminum kopinya dengan tenang.

“Penjaga tangkap dia!”

Penjaga tidak bergerak. Mereka hanya diam dan kemudian berbalik arah. Aku tercengang dan dia tertawa.

“Pak, apa kau ingat anak yang pernah membacakan pidato perdamaian dunia pada tahun 2014?”

Anak yang itu? Yang sempat diwawancarai karena pidatonya yang inspiratif? Apakah dia adalah anak itu?

“Ya, aku anak yang itu. Pidato itu aku bacakan dengan penuh semangat dan keyakinan. Keyakinan bahwa dunia bisa berdamai dan tidak akan ada perang lagi. Tapi, semakin dewasa aku semakin yakin, perang tidak bisa dihentikan semudah itu. Banyak kepentingan dan bisnis di sana. Bisnis senjata, bisnis sumberdaya dan bisnis penjajahan. Kau punya kesempatan untuk menghentikannya namun kau tidak melakukan.”

Dia menghampiriku dan menepuk pundakku. Aku tidak bisa bergerak dan hanya terdiam.

“Dan permintaan terakhirku, atas nama para anak yang menderita karena perang, aku ingin kau… mati.”

Aku menutup mata, merinding ketakutan dan kemudian terkencing di celana. Suara dari jam besar di sudut ruangan yang berdentum 12 kali seakan lonceng tanda hukuman untukku.

“Ah. Sial.”

Aku membuka mata tidak terjadi apapun pada diriku. Dia terlihat sangat kecewa.

“Ternyata aku diberi kesempatan cuma sehari.”

Aku buru-buru memencet kembali tombol darurat, penjaga masuk dan menangkap laki-laki itu. Matanya tidak bisa lepas dariku. Dia kemudian tersenyum puas. Aku dipermalukan olehnya. Air kencingku membasahi karpet ruang oval ini. Staf gedung putih tidak boleh membiarkan cerita ini keluar. Tidak boleh. Harga diriku sebagai presiden jadi taruhannya.

Di Balik Langit Masih Ada Langit – Ceritera Juli #13 Manusia Kerdil

Mereka sudah aku anggap keluarga sendiri. Staf-stafku.

“Bos, kami berhasil!”

“Syukurlah. Malam ini kita makan enak!”

“Hore, Bos. Baik banget.”

“Mulai sekarang jangan panggil aku Bos, panggil Bapak saja.”

Mata mereka berkaca-kaca. Sepertinya belum pernah ada yang memperlakukan mereka seperti ini.

“Benar boleh, Bos?”

“Eits, bukan Bos tapi Bapak”

“Bapak!”

“Bapak!”

Semuanya memelukku. Lebih tepatnya ada dua belas. Mereka aku temukan sedang kebingungan dan mencari yang bisa memperkerjakan mereka. Mereka tuna karya dan tuna wisma. Aku membujuk satu persatu dari mereka dan inilah kami sekarang. Tidak bisa dipisahkan. Kami bukan lagi karyawan dan bos. Kami keluarga.

***

“Bagaimana? Enak?”

“Enak, Bos. Eh, Bapak!”

“Boleh minta lagi, Pak?”

“Nih, makan yang banyak. Senang lihat kalian makannya banyak.”

“Semoga seperti ini terus ya, Pak.”

“Iya, terimakasih kalian sudah banyak membantu aku selama ini”

Mereka makan dengan sangat lahap dan aku senang melihatnya. Sebagai bujangan 43 tahun, aku belum pernah memiliki anak dan sekarang menjadi anak-anakku. 12 anak sekaligus.

“Berikutnya apa, Pak?”

“Tenang, makan saja dulu, besok kita bahas lagi project kita berikutnya ya?”

“Siap, Pak”

“Pak, ini enak sekali”

Aku tersenyum bahagia. Aku elus kepala mereka.

***

“Lihat, inilah project kita hari ini.”

“Sepertinya lebih rumit dari sebelumnya ya?”

“Ya, betul sekali. Tapi jika kita bekerja harus selalu menetapkan target yang lebih tinggi, lebih besar dari sebelumnya. Apa kalian mau dianggap biasa saja?”

“Tidak!”

Mereka menjawab serempak. Bagus, semangat tim sedang tinggi dan kekompakkan mereka tidak terkalahkan.

“Sekarang, ada yang masih ingat seven habits kita?”

“Be Proactive!”

“Terus?”

“Begin with the End in Mind!”

“Bagus, ada lagi yang bisa meneruskan?”

“Put First Things First!”

“Excellent, ayo lanjutkan lagi?”

“Think Win-Win, Seek First to Understand, Then to be Understood, Synergize!”

“Mantap, langsung tiga sekaligus! Ada lagi?”

“Sharpen The Saw!”

“Betul, terapkan ketujuh hal ini, ya. Sekarang siapa yang sudah siap?”

“Saya!”

“Salah, jawabannya bukan ‘Saya’ tapi apa?”

“Kita!”

“Oke, berangkat!”

Semua koor menjawab. Kami siap untuk malam ini.

***

“Jadi bagaimana perasaan anda?”

“Saya tidak tahu, saya hancur, saya tidak punya semangat lagi”

“Apakah ini usaha terakhir anda?”

“Tidak, lepaskan mereka!”

“Gebukin!”

Mereka berteriak namun tidak terdengar dari luar. Kedua belas anggota keluargaku terperangkap semua di dalam botol. Aku tidak mau membaca headline koran besok. Pasti sangat menghancurkan hatiku.

NEKAD. GEROMBOLAN TUYUL YANG MERESAHKAN MASYARAKAT BERANI MENCOBA MERAMPOK BANK SYARIAH. DITANGKAP SEMUA SEKALIGUS. KEPALA KOMPLOTAN JOMBLO 43 TAHUN BONYOK DIGEBUKI MASSA.

Di Balik Mahkota Sang Ratu – Ceritera Juli #12 Cermin Ajaib

Bekas lukanya masih ada.

“Kak, kakak tidak apa-apa?”

Sangat panjang.

“Cepat bawa dia ke rumah sakit!”

Sangat jelek.

“Syukurlah dia selamat, hanya luka lecet dan dan tergores.”

Apanya yang syukurlah. Luka ini aib. Tidak boleh ada yang menodai wajah ini. Aku ratu. Aku idola. Semua harus sempurna.

“Kak?”

“Hah? Ya, kenapa?”

“Sepertinya kakak sangat marah. Ada apa?”

“Oh, nggak. Ini aku tadi lihat ada rambutku yang bercabang. Kamu tahu kan? Gak bagus kalau keliatan ada rambut bercabang seperti ini.”

‘bohong’.

“Hah, ada apa, dek?”

“Ada apa? Aku gak bilang apa-apa, Kak? Aku tadi cuma tanya itu aja.”

“Aku tadi mendengar suara.”

“Jangan nakutin deh, Kak.”

“Oh, mungkin telingaku saja yang salah. Hehe. Hari ini mau motret di mana?”

“Belum tahu, Kak. Lihat nanti pakai tema apa  hari ini di klub. Aku berangkat sebentar lagi. Oh iya, jadi.. sudah menyerah, kak?”

“Mungkin. Mereka tidak pernah membalas email dan menghubungiku setelah audisi.”

“Ya sudah, kak. Ini matcha latte kesukaan kakak. Mungkin lain kali atau kakak bisa mencoba hal lain”

“Mungkin…”

Mereka mana mau calon artis dengan luka seperti ini. Sial! Luka sialan!

“Omong-omong mana kameramu yang satunya lagi?”

“Tidak aku pakai. Itu model lama.”

“Tapi, masih bisa untuk dipakai memotret?”

“Bisa, kakak mau coba memotret? Nanti aku bersihkan dulu lensa dan isi baterainya. Kalau kakak mau memakai nanti ambil saja di kamarku.”

“Iya”

“Oke, aku berangkat dulu ya. Kasih tahu mamah, aku mungkin bisa seharian di luar.”

“Iya, hati-hati”

Sebaiknya aku mencoba kegiatan yang lain. Mungkin saatnya aku di belakang lensa saat ini dan memotret orang lain dan bukan diriku.

‘jelek’

“Hah?”

Tidak ada siapapun di dapur. Tapi aku jelas mendengar suara. Adikku baru saja berangkat dan mamah sudah di tempat kerja.

‘wajah cacat’

“Siapa itu!”

‘aku di sini, wajah cacat’

Suara itu dari cermin di dapur. Aku berdiri dan menatap cermin. Aku melihat bayanganku tapi tanpa bekas luka.

‘Jadi siapa yang paling cantik sekarang?’

Bayanganku bergerak dengan kemauannya sendiri.

‘Aku yang paling cantik dan kau hanya sampah. Mana ada yang mau dengan perempuan berwajah buruk?’

“Hentikan!”

‘Hahahahaha. Sekarang kau tidak lebih dari produk cacat.’

“Hentikan! Aku bilang hentikan!”

Aku melemparkan yang paling mudah aku raih ke cermin tersebut. Karena hanya lap kotor yang aku lempar, kaca itu tidak pecah. Tapi, bayangan itu sudah hilang. Aku mungkin sangat lelah dan tertekan karena bekas luka ini. Lama-lama bekas luka ini jadi gatal. Aku ingin menggaruknya tapi takut akan bertambah hitam. Sebaiknya aku istirahat di kamar dan menenangkan pikiran.

***

“Dek, kau sudah tidur?”

Tidak ada jawaban dari kamarnya. Sepertinya dia sudah tidur. Mungkin kecapaian karena seharian memotret. Padahal aku ingin bertanya padanya tentang kamera lamanya dan cara  memotret. Aku buka pintu dan tidak terkunci. Lampu indikator pengisian baterai sudah hijau. Kamera dan lensa itu juga sudah tampak bersih. Aku elus rambut adikku. Dia adikku satu-satunya dan paling sayang kepadaku. Aku perhatikan kamarnya. Cukup berantakan. Di salah satu sudut kamar ada beberapa pigura. Dia dan teman-temannya. Juga ada foto kami sekeluarga.

‘bahkan, adikmu lebih baik dari dirimu.’

Suara itu lagi. Ternyata dari kaca rias di samping lemari.

‘lihat, dia punya teman. dia punya orang-orang yang memperhatikannya.’

Aku coba tidak mengacuhkan suara tersebut.

‘Hahahaha payah. Tidak ada yang mau melihatmu lagi. Semua ketakutan. Hahahaha.’

Aku ambil kamera, lensa, dan baterai lalu bergegas ke kamarku sendiri.

‘Kau pikir bisa lari? Hadapi saja. Kau bukan lagi ratu.’

Ternyata dia juga muncul dari kaca rias di kamarku. Aku melemparkan bantal ke arahnya. Dia menghilang. Aku segera mengambil seprai dari lemari dan menutupi kaca rias dengan itu. Dia tidak terlihat lagi. Suaranya pun tidak terdengar.

Dia tidak benar. Dia berbohong. Aku masih punya orang-orang yang memperhatikanku. Semua masih kagum padaku. Aku masih sang ratu. Aku matahari yang dipuja. Aku juga bulan yang dipuji. Itu tidak benar. Lalu, terpikirkan ide di kepalaku. Aku dengan kamera ini bisa mewujudkannya.

***

Orang rumah tidak boleh tahu apa yang aku lakukan. Mereka akan menganggapku orang aneh. Aku tidak seperti itu. Aku harus membuktikan pada cermin sialan itu kalau aku juga diperhatikan. Satu persatu foto orang-orang yang memperhatikanku di taman aku tempel di kamar. Sambil memasang foto-foto itu, aku teringat perkataan mereka.

‘Mah, kakak itu wajahnya seram’

‘Jangan begitu, dek. Maaf ya, mbak’

‘Kamu cantik, ya. Sayang itu bekas lukanya.’

‘Kenapa bisa seperti itu? Panjang sekali bekasnya’

Bekas luka itu semakin gatal. Aku tidak tahan. Aku garuk dengan kukuku hingga memerah. Sambil memasang foto, aku menggaruk bekas luka itu. Aku hanya ingin bekas luka ini menghilang!

***

“Sedang apa?”

“Nggak, kak. Aku.. aku baru sadar kenop pintu ini punya desain unik.”

“Jangan mencoba-coba masuk kamarku. Tolong jaga privasiku. Minggir.”

Adikku penasaran dengan isi kamarku. Orang rumah belum dan tidak boleh tahu soal ini. Mereka akan menganggap aku gila dan aneh. Tapi, apa yang aku lakukan? Aku begitu dingin kepada adikku.

‘Kau pikir ini sudah cukup?’

Diam.

‘Adikmu punya lebih banyak teman. Teman-temanmu di sekolah juga mulai menjauhimu kan? Tahu kenapa?’

Diam. Bangs*t.

‘Karena kau hina. Cacat. Wajahmu bukan wajah rupawan lagi. Bahkan pengemis pun lebih baik darimu.’

Diam!! Aku perlu mengumpulkan foto orang lebih banyak agar cermin ini diam. Aku butuh lebih. Lebih! Bekas luka ini pun semakin gatal saja. Aku garuk saja hingga hilang.

***

Sudah tidak ada tempat tersisa. Semua dinding sudah aku pasang foto. Mau bilang apa kau sekarang? Hei Cermin! Bicara sesuatu, sial*n! Aku membuka seprei itu dari kaca rias. Tidak ada yang berbicara di sana. Hanya saja, terlihat di kaca itu, bekas cakaran memperburuk bekas luka di pipi. Benar, tidak ada lagi sang ratu.

Jadi..

“Sialan! Puja aku! Puji aku! Kagumi aku!”

Tuhan, aku lelah. Tuhan aku lelah! TUHAN AKU LELAH, AMBIL SAJA NYAWAKU!

Di Balik Pintu – Ceritera Juli #11 Pesan Dalam Botol

*ting tong*

Bukankah semua penghuni kos sudah mudik? Siapa yang datang? Aku menuju pintu depan rumah kos. Siapa tahu pengantar paket yang mengantar pesanan dari toko online buat penghuni kos. Aku melihat lewat lensa pintu. Tidak ada seorang pun di luar. Jangan-jangan anak kampung sini sedang usil dan tahu aku sendirian di kos. Kos putri ini terkenal dengan penghuninya yang cantik dan pemuda kampung suka usil dan menggoda.

Baru saja tiga langkah dari pintu.

*ting tong*

Aku terkejut dan hampir saja berteriak. Aku terdiam dan belum berani untuk melihat melalui lensa pintu. Siapa? dan ini sudah malam.

“Jangan main-main! Aku bisa telepon polisi!”

Suasana hening. Aku mengumpulkan keberanian dan memasang salah satu mataku ke lensa pintu. Tidak ada seorang pun di luar. Hanya ada pamflet yang terbang tertiup angin dan suara anjing menyalak di luar. Aku perlahan membuka pintu hanya membiarkan terbuka sedikit. Lalu aku lihat ada botol tepat di depan pintu. Aku ambil segera botol tersebut dan menutup pintu depan secepatnya. Sebuah kertas ada di dalam botol. Aku keluarkan dan membacanya.

‘Hai’

Ini pasti kerjaan pemuda kampung sini. Ada yang tahu kalau aku sendirian di sini dan berniat mengerjaiku. Kertasnya adalah sejenis kertas A4 dan hurufnya dia kumpulkan dari potongan di majalah atau koran. Bisa jadi dia juga mahasiswa karena kertas ini sering digunakan oleh mahasiswa sepertiku dan huruf-huruf ini, dia tidak ingin diketahui dari tulisan tangannya.

Sebaiknya aku memastikan semua pintu dan jendela sudah terkunci. Aku menyalakan alarm kos dan memasangnya pada tingkat keamanan paling tinggi. Sedikit gerakan akan memicu alarm yang berbunyi sangat keras dan tersambung dengan nomor kontak bapak kos.

Sebaiknya aku tidur cepat. Begitu pagi menjelang, aku akan pergi dari kos dan menginap di kosan Wenny.

***

Aku packing segera setelah matahari terbit. Pintu kamar kos aku pastikan terkunci dua kali. Aku menuju pintu depan dan membuka pintunya. Sebuah botol sudah ada di sana. Aku menendang botol itu jauh-jauh dan berteriak kecil. Botolnya pecah dan gulungan di botol itu perlahan terbuka.

‘Kenapa? Takut? Jangan, aku hanya ingin kenalan.’

Pintu depan kos segera aku kunci dan kemudian berlari ke ujung gang. Dasar psycho! Aku menghubungi Wenny.

“Wen? Dimana?”

“Oh, maaf, aku lupa bilang ya. Tadi malam mamah minta aku segera pulang. Setelah subuh tadi aku naik travel ke Jakarta.”

“Wen! Yang benar saja? Gw udah cerita kan tadi malam ada orang psycho yang mengirimkan pesan aneh di dalam botol! Gw males balik ke kosan lagi! Raras? Dia balik nggak?”

“Raras udah dari minggu kemarin, kan? Kan lo dan gw nganter ke bandara waktu itu. Lupa?”

“Damn. Anak-anak sudah mudik semua?”

“Ya iyalah, lo-nya aja yang kerajinan ngerjain skripsi pas liburan panjang kayak gini. Gw ada temen di sana tapi cowok. Gak papa?”

“Gak lah. Gw juga gak punya uang untuk balik kampung. Gw coba nginep di perpustakaan aja deh, Wen.”

“Nah. Dulu sih gw bisa nginep di sana. Siapa tahu sekarang pun masih bisa.”

Aku berlari ke perpustakaan kampus. Siapa tahu besok si psycho sudah tidak mengganggu.

***

‘TUTUP. Buka setelah liburan hari raya.’

Sial. Kemana orang-orang? Hanya ada security jurusan yang berjaga dan berkeliling. Itupun cuma satu, dua.  Ah kenapa aku tidak terpikir untuk pinjam dulu uang Wenny? Lalu, aku pulang dan meninggalkan si psycho dan ide gilanya selama dua minggu.

“Wen?”

“Ya, gimana perpustakaan buka?”

“Tutup! Wen, gw pinjam dulu uang lo dong.”

“Oke, butuh berapa lo?”

“300 ribu sudah cukup. Sebentar gw ambil dulu nomor rekeningnya, ada di..”

“Woy! Ada apa? Kok lo tiba-tiba diam?”

“Nomor rekening gw ada di dompet dan dompet sialan terkutuk gw ketinggalan di kamar!”

“Bego! Buruan ambil. Masih pagi dia gak mungkin berani berbuat aneh-aneh!”

“Jadi, gw harus balik lagi ke kosan?”

“Iya. Sekali ini saja. Gak papa, percaya sama gw. Masih pagi ini.”

“Oke.”

***

Aku mengintip dari ujung gang ke pintu depan kosan. Tidak ada botol di depan pintu. Aku menggenggam batu bata yang aku pungut dari lokasi pembangunan gedung kosan baru di dekat sini. Aku berlari dan segera membuka gerendel pintu kos sambil sesekali melihat ke belakang. Aku berhasil masuk dan mengunci kembali. Suasana kos begitu hening tidak seperti saat musim sibuk kuliah. Aku menuju pintu kamar kos dan mencoba membukanya. Karena aku sangat ketakutan, kunci kamar terjatuh ke bawah. Aku pungut dan segera mencoba memasangnya lagi pada lubang kunci.

*Kriet*

Tepat di tengah kamar ada gelas yang biasa kupakai dan sebuah kertas di dalamnya.

‘Ciluuukkk..’

Aku banting gelas itu dan berteriak sekencang mungkin. Aku berjongkok dan menutup telinga serta memejamkan mataku. Tidak ada yang terjadi. Hanya suara sialan itu. Suara botol dari kaca berguling ke arahku.

***

“Tom! Jadi rencana kita ngasih kejutan udah jalan? Kok gak bilang-bilang?”

“Apaan sih, Wen? Ulang tahun dia kan masih satu minggu lagi.”

“Hah? Terus siapa yang ngasih kejutan? Kok dia bilang ada yang..”

*ting tong”

“Tom, bentar ya. Ada yang datang. Ortu gw baru balik kayaknya. Gw buka pintu dulu.”

“Oke”

Lalu siapa? Kalau bukan Tom dan teman-teman.

*ting tong*

“Bentar, Mah Pah!”

Lho? tidak ada siapapun di luar. Hanya ada sebuah botol di luar. Tepat di depan pintu.

Di Balik Rumah Tangga – Ceritera Juli #10 Kotak Pandora

Aku pria beristri. Aku punya harga diri dan harus mempertahankannya.

“Paaaah, ini kok cucian menumpuk? Katanya kalau aku hamil gak boleh kerja banyak?”

Sejutek apapun istriku. Aku tidak boleh tergoda mencari wanita lain.

“Terus, ini piring kotor, haduuh, Papaah”

Apalagi dia baru saja hamil. Anak pertama kami. Perempuan. Seperti yang terlihat di USG ketika minggu kemarin.

“Aku kerjain saja ya? Rumah jadi berantakan dan kotor. Papaaah. Sedang sibuk apa sih?”

“Iya, mamahku sayang. Aku datang. Aku datang. Ini barusan ada pesan dari kantor.”

“Sekarang kan weekend? Udah deh. Jadi manajernya cukup hari senin sampai jumat saja.”

“Iyaah. Duh bumil satu ini.”

Dan pria beristri harus sayang seperti apapun, sebawel apapun istrinya. Betul? Hiks.

***

“Pak, sepertinya kurang tidur?”

“Iya. Nyonya sedang hamil. Aku bantu-bantu pekerjaan rumah kalau weekend dan sepulang kantor.”

“Jadi gak ada futsal lagi nih, Pak?”

“Off dulu. Maklum ya anak pertama saya nih.”

“Oki doki, Pak.”

“Eits, mana tugas yang saya minta?”

“Hehehe. Belum, pak”

“Enak aja. Buruan. Saya mau pulang cepat hari ini. Selesaikan semua sebelum jam 5!”

Calon ayah harus super. Jaya di kantor jaya di rumah. Sebentar, sepertinya aku kenal slogan ini tapi aku lupa. Aku mengepalkan tangan dan kalau misalnya ada ikat kepala maka aku sudah memasangnya dari tadi. Sebuah pesan masuk di handphone-ku.

‘Pah, dedek minta martabak manis nutella ya. Belinya yang di Jalan Sabang.’

Ampun.

***

Sore itu jam setengah 6 aku sudah menanti di salah satu penjual martabak di jalan sabang. Salah satu penjual martabak paling hits karena menunya yang kekinian. Banyak anak-anak SMA, cabe-cabean, dan ibu-ibu muda yang baru pulang dari kantor.

“Mas, martabak manis nutella satu ya. Yang spesial.”

Istriku tiba-tiba suka makanan manis sejak ia hamil. Padahal ia tidak terlalu suka sebelumnya. Mungkin dia sedang ngidam. Ketidaksukaannya pada makanan manis membuat bentuk tubuhnya terjaga. Sebagai suami seharusnya aku bangga punya istri seseksi itu. Haha. Tapi, sejak hamil badannya membesar. Dia sering mematutkan diri di depan kaca dan tampak sedikit kecewa. Namun tendangan-tendangan kecil di perutnya membuatnya lebih banyak tersenyum dan melupakan lekuk tubuhnya yang tidak lagi seperti dulu. Aku ingin cepat-cepat dek utun lahir ke dunia. Tidak sabar rasanya mendengar seorang anak perempuan memanggilku, ‘ayah’.

Sambil menunggu, aku membuka laman facebook. Tidak ada hal menarik selain sharing postingan teman-teman yang absurd dan tanpa sumber valid. Ada minion sebagai lambang dajjal lah, ada kue cubit plastik, ada jual bayi, jasa telepon jomblo. Semakin aneh saja rasanya di dunia maya dan yang lebih aneh lagi, ada yang percaya. Lalu, perhatianku menuju satu nama. Wajahnya aku kenal. Sudah cukup lama aku tidak melihatnya. Mantan pacar sebelum istri.

Aku tergoda membuka kotak pandora ini. Aku perhatikan status-statusnya. Aku bilang pada diriku sendiri ini hanya sambil mengisi waktu luang menunggu martabak nutella-nya jadi. Dia belum menikah dan tidak punya kekasih. Terlihat dari foto-fotonya ia lebih sering dengan teman perempuannya. Aku scroll ke bawah dan tanpa sengaja terpencetlah tombol like. Mampus. Buru-buru aku unlike yang aku pencet tadi.

“Mas, ini sudah jadi martabaknya.”

Mas-mas martabaknya mengagetkanku. Sambil menerima dus martabak, aku menyerahkan uang dan langsung memasukkan handphone ke celana. Tanpa aku sadari, karena tekanan di dalam kantong, aku mengirimkan pesan huruf tidak beraturan ke wall-nya.

***

Malamnya, aku baru sadar hal tersebut dan segera menghapus pesan tidak sengaja itu dari facebook wall-nya. Tapi, ia sudah mengetahui dan menuliskan pesan di messenger facebook.

‘ya, mas? ada apa?’

Aku lihat ke belakang punggungku. Istriku sedang tertidur pulas. Aku membalas pesannya.

‘tidak apa-apa.’

‘gimana kabarnya, mas?’

‘ya, begini saja. hectic. hehe.’

‘kerja di mana?’

Aku terlibat jauh dalam percakapan. Kira-kira jam 3 malam kami berhenti berbincang di ruang chat. Ia mengakhir dengan sebuah pesan.

‘mas, aku kangen. bisa ketemu? aku ingin cerita banyak. gak asik kalau lewat sini. met tidur ya. jangan mimpiin indah, mimpi aku saja ya? jk.’

Aku pria beristri.

***

“Pah, pulang jam berapa hari ini?”

Kira-kira begitu pertanyaan istriku tiap hari.

“Hari ini? Sepertinya ada meeting akhir bulan, mah. Mamah baik-baik saja kan?”

Apakah suaraku terdengar mencurigakan? Kenapa istriku diam setelah aku menjawab pertanyaannya?

“Oh, ya. Jangan lupakan pekerjaan papah juga, ya. Amanah itu. Nanti ada amanah besar juga buat kita tapi bukan sekarang.”

Aneh, aku merasa aku tersindir. Aku mencium kening istriku dan berangkat ke kantor. Aku merasa tidak nyaman.

***

‘mas, nanti sore jadi, kan?’

‘iya, aku sudah siap-siap. untunglah pekerjaan hari ini cuma sedikit’

‘oke, aku tunggu di lobi saja ya. dekat kok dari jalan sudirman’

Aku berdebar-debar. Aku sangat penasaran. Seperti apakah dia saat ini? Sementara itu, wajah istriku terbayang-bayang. Lagi-lagi aku yakinkan diriku, ini hanya ngobrol biasa. Memang di lobi hotel, tapi tidak akan lebih lanjut seperti memesan kamar.

Sebuah pesan masuk ke handphone-ku bukan dari messenger.

‘(Calon) ayah dek bayi, yang semangat kerjanya. Hari ini aku mengingkari janji ya. Kasihan papah kalau pulang rumah berantakan. Aku..’

Aku tidak melanjutkan membaca pesan tersebut dan segera menyimpan handphone itu di kursi penumpang. Mobilku keluar dari parkiran kantor dan menuju hotel itu. Lampu menunjukkan warna merah. Mobil berhenti tepat di belakang zebra cross. Aku penasaran kelanjutan pesan tadi. Sebelumnya aku takut kelanjutan pesan itu akan membuat tambah merasa bersalah dan menghalangiku bertemu dengan mantan pacarku itu.

‘(Calon) ayah dek bayi, yang semangat kerjanya. Hari ini aku mengingkari janji ya. Kasihan papah kalau pulang rumah berantakan. Aku memasakkan tumis jamur dengan telor kesukaan (Calon) ayah dek bayi. Aku sudah membereskan rumah, cuci piring, cuci baju. Bumil kuat dong.’

Aku terdiam membaca pesan. Lalu terdengar suara dari luar mobil. Seorang anak perempuan berseragam SD berjalan menuntun ayahnya di belakang.

“Ayah, tadi aku gambar Elsa, yah. Nanti kita lihat lagi ya, Yah?”

Yang dituntun oleh anak itu, ayahnya, tidak terlihat lelah. Tersenyum lebar seakan dia lelaki terbahagia di dunia. Mereka berlalu dan masih terus bercanda hingga ke seberang.

Aku..

Handphone milikku kupegang dengan dua tangan. Aku hapus kontaknya. Aku bersihkan chat history. Aku block facebook-nya. Kotak pandora ini seharusnya ditutup, disiram bensin dan dibakar. Mobil di belakang mengklakson karena lampu sudah berganti hijau. Aku memutar arah dan bergegas menuju rumah.

Di rumah, istriku tidak menyadari kedatanganku. Ia sedang asik menonton sinetron. Aku peluk dari belakang sambil berbisik.

“Aku sayang kamu, mah. Aku sayang dek utun. Aku sayang kita.”

“Lah, katanya meeting? Bawa oleh-oleh gak?”

Nyonya! Bodo amatlah. Aku pria beristri dan akan selalu menepati janjiku dulu. Bersamamu selalu di sehat dan sakitku. Ini tempatku kembali. Satu-satunya di dunia.

Link #CeriteraJuli @KampungFiksi

Untuk yang ingin baca-baca project #CeriteraJuli @KampungFiksi buatan saya, berikut adalah link-link cerita tersebut:

  1. Prompt Ke 1 – Rahasia . Di Balik Garis Dua
  2. Prompt Ke 2 – Kamera . Di Balik Bekas Luka
  3. Prompt Ke 3 – Doa . Di Belakang Pria Super
  4. Prompt Ke 4 – Romantis . Di Balik Kata Romantis
  5. Prompt Ke 5 – Kenangan . Di Balik Rencana
  6. Prompt Ke 6 – Bibir . Di Balik Ciuman
  7. Prompt Ke 7 – Pohon Cerita . Di Balik Papan Tombol
  8. Prompt Ke 8 – Terlambat . Di Balik Tanggung Jawab
  9. Prompt Ke 9 – Pertemuan . Di Balik Percakapan Di Dunia Maya
  10. Prompt Ke 10 – Kotak Pandora . Di Balik Rumah Tangga
  11. Prompt Ke 11 – Pesan Dalam Botol . Di Balik Pintu
  12. Prompt Ke 12 – Cermin Ajaib . Di Balik Mahkota Sang Ratu
  13. Prompt Ke 13 – Manusia Kerdil . Di Balik Langit Masih Ada Langit
  14. Prompt Ke 14 – Jika Aku Bisa (1) . Di Balik Dinding Tebal
  15. Prompt Ke 15 – Jika Aku Bisa (2) . Di Balik Seorang Perempuan
  16. Prompt Ke 16 – Jika Aku Bisa (3) . Di Balik Jarum Jam
  17. Prompt Ke 16 (Versi ke 2) – Jika Aku Bisa (3) . Di Balik Maaf
  18. Prompt Ke 17 – Jika Aku Bisa (4) . Di Balik Bulan yang Datang
  19. Prompt Ke 18 – Tiket Kemana Saja . Di Balik Rindang Desamu
  20. Prompt Ke 19 – Masa Depan . Di Balik Kerja Keras

Buat yang ingin ikutan #CeriteraJuli baca selengkapnya di website KampungFiksi.

Di Balik Percakapan Di Dunia Maya – Ceritera Juli #9 Pertemuan

Capung_Boyz: Apakah kumpulan puisimu akan dicetak ulang lagi?

Edelweis.Snow: Mungkin tahun depan. Sori ya.

Capung_Boyz: Ah, sayang sekali.

Edelweis.Snow: Aku kasih tahu jika nanti cetak ulang. Memangnya kenapa dengan buku yang pertama?

Capung_Boyz: Seorang temanku meminjamnya dan aku tidak bisa mengambilnya kembali.

Edelweis.Snow: Boleh aku tebak siapa temanmu ini? Jangan-jangan mantan pacar?

Capung_Boyz: Hahaha. Kok tahu? Iya dan dia sudah bersuami. Aku tidak enak jika bertemu dengannya lagi.

Edelweis.Snow: Hahahaha. Sudah kuduga.

Dia adalah penulis puisi kesukaanku. Aku pertama bertemu dengannya di dunia maya, di salah satu situs blog. Puisi-puisinya merebut hatiku. Puisinya ringkas, diksinya unik dan dia cantik. Aku memang belum pernah bertemu tapi aku pernah melihat salah satu foto dirinya di album foto di akun twitter miliknya. Ternyata kamu bisa jatuh cinta pada seseorang hanya melalui puisinya. Aku tidak terlalu suka sastra, aku hanya blogger biasa bahkan hanya penikmat dunia maya biasa. Tapi melalui tulisannya, aku menyesal tidak sering mengikuti kelas bahasa. Aku baru sadar puisi bisa begitu indah. Tanpa kata klise. Tanpa harus berima. Tanpa harus memboroskan kata. Aku mengacuhkan dia menulis puisi untuk siapa. Rindu dalam puisi itu seakan untukku.

Edelweis.Snow: Hai. Sudah tidur?

Layar laptopku menyala. Ada pesan baru darinya.

Capung_Boyz: Belum. Ada apa?

Edelweis.Snow: Ini tentang cerpenmu. Menarik.

Capung_Boyz: Cerpen yang mana? Aku baru saja memulai menulis beberapa cerpen.

Edelweis.Snow: Yang tentang kakak beradik itu. Jadi si Kakak mati? Terus, siapa orang-orang itu?

Capung_Boyz: Oooh. Iya. Jadi si Kakak mengakhiri hidupnya karena tidak ada lagi orang-orang yang mengaguminya. Orang-orang itu adalah orang asing. Ia pajang foto mereka di dinding. Jadi serasa dia diperhatikan, dilihat dan dikagumi. Begitu.

Edelweis.Snow: Oke sip. Aku mengerti. Cerpen kamu keren. Aku upload ulang ya di websiteku? Besok aku menguploadnya.

Capung_Boyz: Baiklah. Terimakasih ya.

Bagaimana perasaanmu? Jika seseorang yang kamu kagumi sejak dulu. Sejak beberapa tahun yang lalu. Dulu kamu tidak bisa menghubunginya karena dia di luar jangkauanmu. Dulu yang hanya bisa kau rindui diam-diam lewat spasi di antara kata puisi-puisinya dan sekarang dia bilang kata “menarik” kepadamu. Cukup satu kata dan dia membuncahkan gembira di hatimu. Bagaimana perasaanmu? Aku sekarang merasakannya.

Malam itu aku tidak bisa tidur. Aku berguling kesana kemari. Aku tersenyum sambil memeluk guling. Berkali-kali aku mengingatkan diri sendiri bahwa dia hanya suka pada karyaku bukan pada diriku. Aku buka berkali-kali akun twitternya. Menanti setiap pembaruan. Aku baru bisa tidur sejam setelah adzan subuh berkumandang.

Capung_Boyz: Apakah ada waktu?

Edelweis.Snow: Waktu untuk apa? Kapan?

Capung_Boyz: Aku lihat di website kamu. Di kumpulan cerpen kamu yang baru, ada tanda tangan dari kamu sebagai penulis. Aku minta dong. Siapa tahu bisa berharga di masa depan.

Edelweis.Snow: Hahaha. Amin. Boleh, kapan mau ketemuan?

Capung_Boyz: Kalau bisa siang ini. Jam 4. Bisa?

Jantungku berdebar kencang menulis huruf demi huruf mengajaknya bertemu.

Edelweis.Snow: Itu mah sudah sore bukan siang. Kalau sore ini jam 4.. aku menyiapkan takjil buat berbuka dulu ya. Suamiku datang dan anakku harus dijemput kalau jam segitu.

End Chat.

Di Balik Tanggung Jawab – Ceritera Juli #8 Terlambat

“Berhasilkah, kak Pram? Baguslah kalau kalian bisa bersatu lagi.”

Sebuah telepon dari seniorku dan ia baru saja bertemu kembali dengan kekasihnya yang sudah lama ia tidak jumpa. Bagaimana dengan diriku? Kesibukan sebagai dokter membuatku tidak sempat mengurusi hal-hal seperti percintaan. Aku membuka dompetku yang kuambil dari laci meja kerja. Di sana ada foto seorang perempuan. Perempuan dari masa lalu. Namanya Sei, perempuan yang dulu paling kucintai namun kami kemudian mengakhiri hubungan karena nyaris tidak ada waktu untuk kami dapat bersama. Kalau pun ada kesempatan, aku ingin menemuinya lagi. Aku menutup kembali dompet dan mengambil kunci mobil untuk menuju ke rumah.

Di dalam mobil, sebelum aku menyalakan mesin, aku membuka telepon genggam. Ada 13 panggilan tidak terjawab dan semuanya dari rumah sakit. Sepertinya ada keadaan darurat tapi biarlah. Toh sudah ada dokter jaga dan dokter lain di rumah sakit. Tidak harus selalu aku. Aku memasukkan gigi maju dan mengeluarkan mobilku dari parkiran klinik.

Malam ini sangat sepi. Hampir tidak ada kendaraan melintas. Hanya ada sesekali motor melaju dan sisanya hening. Sial, aku lupa membawa cd dan flashdisk yang berisi lagu. Sepertinya tertinggal di rumah sebelum aku membawa mobil ke tempat cuci mobil. Aku menyalakan radio tapi aku kemudian teringat antena radio mobil ini kemarin mengalami kerusakan. Aku bersiul dan menyanyi sendiri untuk mengusir kesepian yang tidak biasa ini.

Aneh, seharusnya aku sudah sampai setengah jam yang lalu. Aku biasa melintasi rute ini. Sedikit jauh dari klinikku yang dahulu tapi aku tidak mungkin lupa karena aku sudah sangat hapal jalan ini. Bulu kudukku berdiri dan aku merinding. Aku mempercepat laju mobil.

Sial! Lagi-lagi aku kembali pada rambu ini! Tidak ada yang salah dan tidak ada yang terlewat. Apakah aku harus mencoba berbelok ke kiri pada perempatan yang tadi? Tadi aku berbelok ke arah kanan dan kembali ke tempat ini. Itu dia perempatannya. Aku menyalakan lampu sign ke kiri dan debar jantungku malah bertambah kencang. Aku lihat telepon genggamku dan lagi-lagi kesialan terjadi. Tidak ada sinyal apapun di layar.

Ya Tuhan! Aku ternyata salah berbelok selama ini. Aku mengenali jalan ini. Bagaimana aku bisa terlupa dan berbelok ke kanan dari tadi? Dari arah berlawanan ada mobil melaju ke arahku. Mobil berwarna putih dan berkaca gelap. Ketika berpapasan baru aku tahu kendaraan itu adalah mobil ambulance rumah sakit tempat aku bekerja. Sirinenya tidak menyala. Mau kemana ambulance itu malam-malam begini?

Aku mengembalikan pandanganku ke jalurku dan sebuah truk dengan lampunya yang terang melaju ke arahku!

***

“Kemana dokter Budi? Apa kalian sudah menghubunginya?”

“Sudah, dok. Tapi dia tidak mengangkat teleponnya.”

“Besok ingatkan saya untuk memberikan surat peringatan, sus!”

“Iya, dok.”

Aku mendengar samar-samar percakapan. Aku mengalami kecelakaan namun aku beruntung masih hidup. Saat ini aku di ruangan UGD. Yang merawatku adalah salah satu juniorku di kampus.

“Dok, anda kehilangan banyak darah. Tetap pertahankan kesadaran anda. Kami sedang berusaha sekuatnya.”

“Tolong aku. Rasanya sakit sekali.”

***

Dua bulan kemudian, aku sudah merasa sedikit baikan walau aku harus duduk di kursi roda untuk berpindah ke satu tempat dan tempat yang lain. Aku harus menyelesaikan sesuatu. Suatu hal yang membuatku tidak nyaman selama dua bulan di sini. Aku menuju ruang suster dan menemui suster jaga di sana.

“Sus, bisa bantu saya?”

“Ya, dok. Bagaimana keadaan anda, Dok?”

“Sudah lebih baik dari sejak saya masuk. Bisa bantu saya, tolong carikan data pasien yang masuk UGD tanggal dan jam ini. Aku ingin bertemu pasien tersebut kebetulan dia kenalan saya.”

Aku menyerahkan catatan kepada suster. Aku berbohong mengenal pasien tersebut. Ini rasa bersalahku, hal yang kualami ini mungkin balasan dari tindakanku malam itu. Aku ingin menemui dan meminta maaf.

“Oh, ini nama pasiennya, dok. Beliau sudah meninggal, nama almarhum adalah Sei.”

Duniaku lalu seketika gelap. Segelap malam itu.

Di Balik Papan Tombol – Ceritera Juli #7 Pohon Cerita

“Selamat datang di pohon cerita. Setiap malam, kami menggantungkan mimpi-mimpi yang menarik di tiap batangnya. Ini pohon cerita milikmu.” Kakek bertanduk rusa itu mengangkat lenteranya, dan di depan mataku terpampang pemandangan yang menakjubkan.

Aku dapat melihat tokoh-tokoh dalam ceritaku. Ada kakak beradik yang memotret bersama seperti dalam cerita terakhirku. Kemudian, ada seorang wanita sedang menulis di laptop lalu mengelus rambut suaminya.

“Apa aku bisa masuk ke dalamnya, kek?”

“Bisa, pohon cerita ini sepenuhnya milikmu. Kamu bisa berbuat apa saja di dalamnya.”

Aku masuk ke dalam gelembung itu. Menyelamatkan si Kakak sebelum dia menggantungkan dirinya. Membantu si Istri menuliskan cerita sambil mengobrol dengan suaminya. Lalu, aku penasaran akan satu hal.

“Kek, apa ada pohon cerita orang lain di alam ini?”

“Kamu mau ke pohon cerita milik siapa?”

Aku tersenyum.

***

Ini dia. Pohon cerita milik penulis kesukaanku. Namanya tertulis di bawah pohon. Dame Agatha Mary Clarissa Christie. Seperti dugaanku, pohonnya sangat besar. Rimbun dengan berbagai cerita.

“Apabila pemilik pohon cerita ini telah meninggal. Ia hanya meninggalkan nama. Tapi, lihat semua cerita tetap berlangsung. Apabila kamu menulis, ceritamu akan abadi.”

“Dirinya pun akan abadi, Kek”

Aku senang sekali. Poirot terlihat seperti yang aku bayangkan. Ia sedang kebingungan memecahkan kasus ‘Gajah selalu ingat’. Aku gemas ingin membantu dan memberitahunya siapa pelakunya tapi aku pasti akan dipukul dengan tongkatnya. Aku juga sangat kegirangan melihat Miss Marple.

Kakek itu menawarkan ke sebuah pohon cerita lainnya. Aku mengikuti.

***

Pohon cerita berikutnya milik William Shakespeare. Kisah Romeo dan Juliet yang terkenal itu. Aku terpukau menyaksikan cerita dari awal hingga saat Romeo mati dan Juliet berteriak kehilangan sang kekasih. Aku dapat merasakan senyumku sangat lebar seakan dari ujung telinga kiri ke ujung telinga kanan.

Malam itu aku menikmati kesempatanku berkeliling pohon cerita. Masashi Kishimoto, Oda Eichiro, bahkan penulis lokal seperti Buya Hamka sudah aku datangi pohon ceritanya. Aku pun duduk tenang memperhatikan pohon cerita milik Seno Gumira Ajidarma.

“Nah, aku ingin bertanya kepadamu.”

“Iya, Kek. Kakek ingin bertanya seperti apa?”

“Ingin seperti apa tulisan di bawah pohon cerita milikmu?”

Tiba-tiba kami sudah berada di hadapan pohon cerita milikku.

“Maksud Kakek? Sebentar lagi aku akan mati?”

“Tidak masalah kan? Dirimu akan abadi di hati pembacamu.”

Aku terdiam. Para tokoh dalam ceritaku berhenti melakukan lakon dan menatap ke arah aku dan Kakek.

“Kenapa aku bisa mati?”

“Kamu tertidur di depan laptop dan puntung rokok di asbakmu terjatuh di tumpukan kertas. Lalu terjadi kebakaran hebat dan kau tidak bisa melarikan diri.”

Perempuan hujan, salah satu tokoh ceritaku tampak sangat sedih dan menggelengkan kepala. Bibirnya bergerak seperti sedang berbicara tapi aku tidak bisa mendengarnya.

“Tidak kakek. Aku belum siap untuk mati. Pohon ceritaku masih sebesar ini. Dunia belum tahu semua ceritaku. Aku masih punya banyak cerita untuk dibagikan. Mimpiku masih belum bisa kuungkapkan semua.”

“Baiklah.”

Si Kakek merogoh sesuatu di dalam rompinya. Sambil tersenyum dia mengeluarkan sepucuk pistol lalu mengacungkan ke arahku. Ia menarik pelatuk.

*Dor!*

***

Aku terbangun berkeringat dan kaget. Yang kualami barusan ternyata hanya mimpi. Tapi, aku mencium sesuatu, sesuatu yang seperti bau mesiu terbakar. Tiba-tiba aku merasakan panas di dekat kakiku. Tumpukan kertas bekas terbakar puntung rokok persis seperti kata Kakek. Aku bergegas mengambil teko air teh dan segera menyiramkan isinya ke api yang sudah cukup membesar. Aku menghela nafas lega lalu tersenyum.

“Pohon cerita ya..”

Aku berbalik menatap layar laptop. Aku melanjutkan menumbuhkan pohon ceritaku. Mau berapa prompt? 3? 50? 100? Semangat!