Di Balik Langit Masih Ada Langit – Ceritera Juli #13 Manusia Kerdil

Mereka sudah aku anggap keluarga sendiri. Staf-stafku.

“Bos, kami berhasil!”

“Syukurlah. Malam ini kita makan enak!”

“Hore, Bos. Baik banget.”

“Mulai sekarang jangan panggil aku Bos, panggil Bapak saja.”

Mata mereka berkaca-kaca. Sepertinya belum pernah ada yang memperlakukan mereka seperti ini.

“Benar boleh, Bos?”

“Eits, bukan Bos tapi Bapak”

“Bapak!”

“Bapak!”

Semuanya memelukku. Lebih tepatnya ada dua belas. Mereka aku temukan sedang kebingungan dan mencari yang bisa memperkerjakan mereka. Mereka tuna karya dan tuna wisma. Aku membujuk satu persatu dari mereka dan inilah kami sekarang. Tidak bisa dipisahkan. Kami bukan lagi karyawan dan bos. Kami keluarga.

***

“Bagaimana? Enak?”

“Enak, Bos. Eh, Bapak!”

“Boleh minta lagi, Pak?”

“Nih, makan yang banyak. Senang lihat kalian makannya banyak.”

“Semoga seperti ini terus ya, Pak.”

“Iya, terimakasih kalian sudah banyak membantu aku selama ini”

Mereka makan dengan sangat lahap dan aku senang melihatnya. Sebagai bujangan 43 tahun, aku belum pernah memiliki anak dan sekarang menjadi anak-anakku. 12 anak sekaligus.

“Berikutnya apa, Pak?”

“Tenang, makan saja dulu, besok kita bahas lagi project kita berikutnya ya?”

“Siap, Pak”

“Pak, ini enak sekali”

Aku tersenyum bahagia. Aku elus kepala mereka.

***

“Lihat, inilah project kita hari ini.”

“Sepertinya lebih rumit dari sebelumnya ya?”

“Ya, betul sekali. Tapi jika kita bekerja harus selalu menetapkan target yang lebih tinggi, lebih besar dari sebelumnya. Apa kalian mau dianggap biasa saja?”

“Tidak!”

Mereka menjawab serempak. Bagus, semangat tim sedang tinggi dan kekompakkan mereka tidak terkalahkan.

“Sekarang, ada yang masih ingat seven habits kita?”

“Be Proactive!”

“Terus?”

“Begin with the End in Mind!”

“Bagus, ada lagi yang bisa meneruskan?”

“Put First Things First!”

“Excellent, ayo lanjutkan lagi?”

“Think Win-Win, Seek First to Understand, Then to be Understood, Synergize!”

“Mantap, langsung tiga sekaligus! Ada lagi?”

“Sharpen The Saw!”

“Betul, terapkan ketujuh hal ini, ya. Sekarang siapa yang sudah siap?”

“Saya!”

“Salah, jawabannya bukan ‘Saya’ tapi apa?”

“Kita!”

“Oke, berangkat!”

Semua koor menjawab. Kami siap untuk malam ini.

***

“Jadi bagaimana perasaan anda?”

“Saya tidak tahu, saya hancur, saya tidak punya semangat lagi”

“Apakah ini usaha terakhir anda?”

“Tidak, lepaskan mereka!”

“Gebukin!”

Mereka berteriak namun tidak terdengar dari luar. Kedua belas anggota keluargaku terperangkap semua di dalam botol. Aku tidak mau membaca headline koran besok. Pasti sangat menghancurkan hatiku.

NEKAD. GEROMBOLAN TUYUL YANG MERESAHKAN MASYARAKAT BERANI MENCOBA MERAMPOK BANK SYARIAH. DITANGKAP SEMUA SEKALIGUS. KEPALA KOMPLOTAN JOMBLO 43 TAHUN BONYOK DIGEBUKI MASSA.

3 pemikiran pada “Di Balik Langit Masih Ada Langit – Ceritera Juli #13 Manusia Kerdil

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s