Cinta Tidak Butuh Penjelasan – Ceritera Agustus #5 Rahasia Kakek

“Adit!”

“Iya, Nek!”

“Turun! Nenek mau bilang sesuatu sama kamu!”

Aku mempause game di komputer dan turun ke bawah. Pagi yang malas seharusnya tapi aku curiga Nenek sudah gatal ingin menyuruhku.

“Iya, Nek. Ada apa?”

“Kamar sudah diberesin? Besok minggu Nenek dan Kakek akan menjual barang bekas tidak terpakai. Kamu ke gudang gih, beresin barang yang kira-kira sudah tidak terpakai.”

Aku manyun. Nenek memasang muka seram. Aku menyerah dan menuju laci di meja dapur, mengambil masker dan naik ke gudang di loteng. Aku menyalakan lampu dan terlihat semua barang berdebu. Nafas panjang aku hela dan..

‘Hatchiu!’

Aku alergi debu makanya aku paling malas kerjaan beberes seperti ini.

***

Sudah beberapa barang yang kira-kira menarik namun tidak terpakai aku letakkan di kardus bekas TV. Hidungku masih berair dan tinggal peti tua itu yang belum aku periksa. Peti yang tidak dikunci itu tadinya ada di bawah tumpukan sejumlah kardus. Aku buka dan menemukan sebuah dokumen milik Kakek yang berstempel RAHASIA. Pekerjaan beberes ini jadi menarik. Bagaikan menemukan sebuah harta karun di dalam game. Karena penasaran, aku buka ikatan tali dan mengambil lembaran kertas di dalamnya. Hanya foto-foto candid wanita yang sedang tersenyum. Tapi, wanita di foto ini cukup cantik. Siapakah wanita ini dan apa hubungannya dengan Kakekku?

“Oh, itu foto Nenekmu. Kamu ya, nakal. Kan Kakek sudah pasang stempel RAHASIA.”

Aku melihat ke belakang. Kakek sudah kembali dari warung.

“Masa? Ini Nenek? Kok cantik?”

Aku dijewer Kakek.

“Nenekmu itu cantik. Sekarang aja berkeriput dan beruban seperti itu. Lihat saja mamah kamu. Cantik kan? Adududuh”

“Bukannya beberes malah ngobrol dan meng-ghibah di atas sini. Lihat apa?”

Kali ini Nenek yang menjewer telinga Kakek. Mereka lalu membahas foto-foto nenek di dalam dokumen RAHASIA milik Kakek. Kakek bercerita ia dulu sengaja menabung untuk membeli kamera analog hanya untuk memotret Nenek. Katanya, ia fans berat Nenek. Nenek yang tadinya ingin memandori kegiatan beberes gudang malah bernostalgia bersama Kakek melihat foto-foto dirinya. Beberapa menit kemudian, nenek tersadar dan memarahi aku dan kakek.

“Pokoknya sebelum makan siang sudah selesai! Bersih-bersih dan ke dapur, aku buatkan spageti bakso untuk kakek dan siomay untuk kamu, dit.”

“Siap!” Aku dan Kakek hampir bersamaan menjawab.

***

“Kek, apakah cinta cuma bisa tumbuh karena dia cantik atau ganteng?”

“Kamu sudah pernah jatuh cinta belum?”

“Aku pernah suka sama Sinta, anak Ustadz Mu’tammad tapi gak tahu apa itu juga bisa dibilang cinta, Kek.”

“Ya. Kalau menurut Kakek, itu masih sebatas suka. Ketertarikan biologis, seperti sapi jantan tertarik dengan sapi betina, kambing jantan tertarik dengan kambing betina dan sebagainya. Tapi, itu bukan cinta, masih sebatas suka atau tertarik saja.”

“Terus?”

“Cinta itu menurut Kakek adalah perasaan yang hanya dimiliki manusia. Ketertarikan secara biologis atau fisik tadi ditambah dengan perhatian, ketulusan, dan kesabaran.”

“Berarti lebih rumit cinta daripada suka?”

“Iya, bisa dibilang begitu, tapi jika kamu benar-benar jatuh cinta, kamu akan tahu bahwa sesungguhnya cinta itu rumit tapi juga mudah. Cinta itu sakit tapi juga menyembuhkan, cinta itu berat tapi juga meringankan. Contohnya, seorang laki-laki yang bekerja demi keluarga yang dicintainya, lelahnya tidak akan terlalu terasa, Dit. Cinta itu mengangkat sebagian bebannya.”

“Terus kalau sayang?”

“Er, sayang ya? Kakek kok jadi bingung sendiri ya? Hahaha. Kalau Kakek dulu pernah dikasih tahu nenekmu, sayang itu rasa ikhlas, memaafkan, kesetiaan, dan tandanya jika kita sayang, kita akan nyaman dengan orang tersebut.”

“Nah, kalau sama Sinta, Adit malah gemetaran, salah tingkah, gak bisa ngomong lancar, Kek. Itu apa? Cinta, Suka atau Sayang? Tapi, Adit ingin terus bertemu Sinta.”

“Adit, yang namanya cinta sejati itu akan memberikan kenyamanan dan ketenangan. Yang kamu baru rasakan itu baru semacam kekaguman, tidak beda dengan ketertarikan yang Kakek bilang tadi.”

“Jadi bukan cinta ya, Kek?”

“Ah, beneran ini Kakek malah bingung sendiri jelasin ke kamu. Nanti juga kamu akan tahu, Dit. Yang jelas, kalau itu membawamu pada keburukan, kecanduan, ketagihan itu bukan cinta. Hindari yang seperti itu.”

“Kakek kan juga ketagihan sama Nenek. Makanya menikah.”

“Beda, itu beda. Duh, cucu Kakek ini. Coba saja jatuh cinta nanti kamu akan tahu.”

Sambil berdiskusi tentang cinta, akhirnya selesai juga pekerjaan beberes ini.

“Kek, terakhir, apa yang membuat Kakek jatuh cinta pada Nenek? Kan Nenek galak begitu.”

Kakek tersenyum. Ia lalu berbisik padaku.

“Pernah lihat Nenek tersenyum? Kakek selalu jatuh cinta saat melihat Nenek tersenyum. Indah sekali.”

Aku mengernyitkan dahi. Lah, katanya bukan cinta pada fisik?

“Yang di atas? Mau makan enggak?”

“Iya!” Lagi-lagi kami menjawab serempak.

***

“Adit sama Kakek bahas apa sih di atas? Kayaknya seru.”

“Rahasia ya, Dit?”

Aku mengacungkan jempol kepada Kakek. Mulutku penuh dengan siomay tidak bisa segera menjawab pertanyaan Kakek.

“Oh, begitu ya. Oke. Tadinya Nenek mau bikin puding juga. Gak jadi deh. Main rahasia-rahasiaan dari Nenek nih ceritanya.”

Kakek pun batal menjaga hal apa yang kami bicarakan di atas. Beliau menjelaskan secara singkat yang kami bicarakan tadi.

“Oh bahas tentang cinta. Dikira bahas apa.”

“Nek, kalau Nenek apa yang cintai dari Kakek?”

“Apa ya? Gak ada, Dit. Nenek mah sayang, bukan cinta kalau sama Kakek,” kata Nenek lalu tertawa dan Kakek pun mencubit pipi keriput Nenek.

Aku pun bingung lagi. Nenek menatapku lalu melanjutkan,

“Cinta menurut Nenek tidak perlu alasan. Kayak Nenek ke kamu, Dit. Cucu Nenek satu-satunya. Gak butuh jawaban. Kamu mungkin belum mengerti sekarang, nanti kamu akan tahu.”

Kali ini keduanya memandangiku berharap aku paham tapi tidak juga mengerti.

“Udah ah. Pusing. Siomay-nya enak, Nek. Adit istirahat dulu di atas ya.”

“Sok kamu istirahat, jangan langsung tidur ya, solat dulu.”

“Iyaa”

***

“Jadi, Kek. Kenapa Kakek suka sama Nenek?”

“Apa ya? Cinta kan gak butuh jawaban, kata kamu. Hahaha.”

“Gak kreatif.”

“Biarin, hahaha.”

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s